“…Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit, berteriak-teriak, mengamuk memecahkan cermin, membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.”

 

 

*entah mengapa beberapa hari terakhir selalu mengula-ngulang puisi Sapardi, mungkin sedang sentimentil dan melankolis saja.

 

Iklan

Mencari Jika Dalam Rasa

20 Februari 2011

Entah kapan waktu bisa kita ukur kembali
Ada sejuta dendam yang menguak dalam repihan-repihan hati
Ingin rasanya membunuh kata ‘jika’ dalam dada
Agar tak ada lagi angan, mimpi yang sia-sia, serta harapan yang menguap percuma
Agar tak ada lagi masa depan yang terbengkalai, serta
hidup yang terus menerus bergantung pada atap langit

Aku pun tak pernah bisa tenang bercengkrama dengan alam, dengan senyap malam
Ketika sajadah kini jadi kabel-kabel tak beraturan
Dan syahadat jadi buih-buih kimia yang dipuja
-dipuji bagai tuhan

Langkah-langkah kita berat, bertalikan embun-embun dosa yang meluap bersama angin
Peluh-peluh seakan tak mau kalah dengan nanah.
Berlari, mencari seteguk hawa di ujung jalan sana
namun lupa ketika nafas satu saat bisa enggan berhembus
berganti dengan infus

Entah kapan waktu bisa kita ukur kembali
Ada sejuta dendam yang menguak dalam repihan-repihan hati
Ingin rasanya membunuh kata ‘jika’ dalam dada
Agar tak ada lagi mimpi yang sia-sia, harapan yang menguap percuma
Mewarnai tiap masa yang terbengkalai
berpasrah pada atap langit
Agar hidup tak sebegini hampa
Kurasa Tuhan t’lah terlalu jauh meninggalkan kita.