Mencari Jika Dalam Rasa

20 Februari 2011

Entah kapan waktu bisa kita ukur kembali
Ada sejuta dendam yang menguak dalam repihan-repihan hati
Ingin rasanya membunuh kata ‘jika’ dalam dada
Agar tak ada lagi angan, mimpi yang sia-sia, serta harapan yang menguap percuma
Agar tak ada lagi masa depan yang terbengkalai, serta
hidup yang terus menerus bergantung pada atap langit

Aku pun tak pernah bisa tenang bercengkrama dengan alam, dengan senyap malam
Ketika sajadah kini jadi kabel-kabel tak beraturan
Dan syahadat jadi buih-buih kimia yang dipuja
-dipuji bagai tuhan

Langkah-langkah kita berat, bertalikan embun-embun dosa yang meluap bersama angin
Peluh-peluh seakan tak mau kalah dengan nanah.
Berlari, mencari seteguk hawa di ujung jalan sana
namun lupa ketika nafas satu saat bisa enggan berhembus
berganti dengan infus

Entah kapan waktu bisa kita ukur kembali
Ada sejuta dendam yang menguak dalam repihan-repihan hati
Ingin rasanya membunuh kata ‘jika’ dalam dada
Agar tak ada lagi mimpi yang sia-sia, harapan yang menguap percuma
Mewarnai tiap masa yang terbengkalai
berpasrah pada atap langit
Agar hidup tak sebegini hampa
Kurasa Tuhan t’lah terlalu jauh meninggalkan kita.

Lelaki Tanah Basah

16 Februari 2011

Lelaki itu duduk selonjoran, termenung pada tanah lapang penuh ilalang. Senja perlahan menua, hari beranjak malam. Lelaki yang jika diamati masih muda itu berpakaian lusuh, kuterka ia hanya lebih tua beberapa tahun dari diriku. Kelihatannya ia bukan orang tak waras. Temaram membiaskan sinar jingga dari balik bukit menuju ke kota. Cahaya senja membuat mukanya yang sendu jadi bertambah suram.

Baca entri selengkapnya »

Mama

23 Januari 2011

Tadi siang saya pergi ke kampus, hampir satu jam di perjalanan. Dan apa yang saya lakukan di jalan, MEWEK… yap, saya sedikit menangis. Karena apa? Entah mengapa saya teringat mama, orang yang baru saja saya kecup tangannya ketika berangkat. Selama dalam perjalanan terulang-ulang kisah yang saya saksikan sendiri,  serta kisah yang diceritakan oleh mama. Dan dari banyak cerita itu, kesimpulan pertama saya adalah “Mama saya orang yang tegar”. Beberapa penggal kisah itu lah yang ingin saya tulis sederhana, karena takut terlupa dan tercecer begitu saja. Baca entri selengkapnya »

Kisah Ami Said

21 Januari 2011

Postingan ini saya mulai dengan salam seorang Ami Said (begitu saya memanggil beliau) kepada ayah saya. Beliau menyampaikan salam setelah membuka berkas saya di radio tempat saya nebeng siaran. “Wim, salam ya dengan Ayahmu, beliau itu teman saya!”, dan saya pun saat itu tersenyum. Baca entri selengkapnya »

Embun

19 Januari 2011

Aku benar-benar tak mengerti. Tentang dirimu dan penjalanan tanpa ujung yang seringkali kamu sebut pencarian. Sering kamu katakan kalau semua bisa memilih dan mempertahankan, sedangkan bagiku semua sudah ditentukan. Lipatan waktu yang kita sebut tahun juga tak cukup membuatku merasa telah benar mengenalimu. Bukankah setiap pencarian harus berakhir, cepat atau lambat, hanya soal kapan. Terlepas seperti apa semua bertemu penghabisan. Baca entri selengkapnya »