Mencari Jika Dalam Rasa

20 Februari 2011

Entah kapan waktu bisa kita ukur kembali
Ada sejuta dendam yang menguak dalam repihan-repihan hati
Ingin rasanya membunuh kata ‘jika’ dalam dada
Agar tak ada lagi angan, mimpi yang sia-sia, serta harapan yang menguap percuma
Agar tak ada lagi masa depan yang terbengkalai, serta
hidup yang terus menerus bergantung pada atap langit

Aku pun tak pernah bisa tenang bercengkrama dengan alam, dengan senyap malam
Ketika sajadah kini jadi kabel-kabel tak beraturan
Dan syahadat jadi buih-buih kimia yang dipuja
-dipuji bagai tuhan

Langkah-langkah kita berat, bertalikan embun-embun dosa yang meluap bersama angin
Peluh-peluh seakan tak mau kalah dengan nanah.
Berlari, mencari seteguk hawa di ujung jalan sana
namun lupa ketika nafas satu saat bisa enggan berhembus
berganti dengan infus

Entah kapan waktu bisa kita ukur kembali
Ada sejuta dendam yang menguak dalam repihan-repihan hati
Ingin rasanya membunuh kata ‘jika’ dalam dada
Agar tak ada lagi mimpi yang sia-sia, harapan yang menguap percuma
Mewarnai tiap masa yang terbengkalai
berpasrah pada atap langit
Agar hidup tak sebegini hampa
Kurasa Tuhan t’lah terlalu jauh meninggalkan kita.

Iklan

2 Tanggapan to “Mencari Jika Dalam Rasa”

  1. iezul said

    *hidup yang terus menerus bergantung pada atap* langitjadi ingat lagu dangdut
    “langit sebagai atap ruumahkuuu”
    hihi 😀

  2. renungan said

    kata-kata yang menarik.
    terima kasih postingnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: