Lelaki Tanah Basah

16 Februari 2011

Lelaki itu duduk selonjoran, termenung pada tanah lapang penuh ilalang. Senja perlahan menua, hari beranjak malam. Lelaki yang jika diamati masih muda itu berpakaian lusuh, kuterka ia hanya lebih tua beberapa tahun dari diriku. Kelihatannya ia bukan orang tak waras. Temaram membiaskan sinar jingga dari balik bukit menuju ke kota. Cahaya senja membuat mukanya yang sendu jadi bertambah suram.

Sudah hampir satu jam aku duduk di warung kopi di seberang tanah lapang tempat lelaki itu duduk dan mau tidak mau  mataku terbawa mengamati gerak-geriknya.  Setiap sore memang warung kopi yang aku datangi ini cukup ramai, tak jauh dari warung ini ada sebuah pasar yang cukup sesak pada hari-hari tertentu. Sebuah pasar desa yang hanya diserang kesibukan pada hari-hari senin dan minggu.

Sepulang kuliah dari kota memang biasanya aku segera pulang. Satu jam adalah jarak yang lumayan, namun karena beberapa hal yang terkadang sebenarnya tidak terlalu penting membuatku memilih untuk pulang-pergi saja. Rasa malas yang meraja selalu menghalangi realisasi niatku untuk kost dekat kampus. Melelahkan memang, seperti sekarang. Saat ini aku terlampau letih dan memutuskan singgah di sebuah warung kopi ditengah perjalanan. Secangkir kopi tandas, namun rasa enggan untuk melanjutkan perjalanan masih bergelayut dalam hatiku. Lelaki yang duduk sendirian itu membuatku terus bertanya-tanya, kurang kerjaankah ia duduk sendirian di tanah tak bertuan itu? Orang lalu lalang saja tanpa banyak hirau, lelaki itu tidak terlalu peduli. Terlihat ia sibuk mengunyah-ngunyah pikirannya sendiri.

Belum sempat aku menemukan jawaban pertanyaan yang meloncat dari pikiranku mengenai lelaki itu, telepon genggam bututku berteriak-teriak, panggilan dari ibu untuk segera pulang. Setelah membayar kopi dan sepotong roti yang kulumat aku menghidupkan motor dan menuju pulang, menelusup kebalik bukit kecil yang menjadi batas antara jalan ke kota dan tanjakan ke desa. Dalam perjalanan pikiran tentang lelaki itu sejenak menghilang, pertanyaanku tenggelam bersama deru motor yang kupaksa melaju kencang karena azan magrib sudah menderu-deru dari surau dibalik bukit. Cahaya lampu dari beberapa rumah di desa menyala satu-satu, rumah memanggilku.

Esoknya aku menjalani hari yang tak berubah, ke kota untuk kuliah dan pulang sore sekali untuk kembali ke rumah. Kali ini aku tidak mampir ke warung karena beberapa tugas menagih untuk dirampungkan,  jika tak segera selesai dan diletakkan besok di meja ruang kuliah akan ada amarah yang meledak dari dosen yang sering tidak ada daripada ada, terlalu sering menghilang dan hanya meninggalkan jejak tugas bagi para mahasiswa.

Di tengah jalan menuju pulang aku berpapasan dengan lelaki kemarin, ia berjalan di kiri badan jalanan dan melawan arah kendaraan, membelakangi  arah ke desa. Dengan pandangan tertuntuk, kelihatannya ia sedang mencari sesuatu. Sekilas kulihat wajahnya murung, menyimpan sesuatu yang nampaknya menyimpan sebuah kisah, selebihnya aku tak bisa menduga. Semua masih terlihat samar, ia tak membawa barang apapun, tak jua tas seperti layaknya orang yang sedang dalam perjalanan. Pakaiannya masih yang kemarin, oblong kusam warna putih yang penuh  debu, sendal jepit lusuh dan celana warna gelap. Makin membuat penasaran.

Namun aku menetapkan hati untuk terus saja pulang, meninggalkan lelaki itu, mengendapkan pertanyaan-pertanyaanku tentang sosok yang dua hari ini aku temui.  Motorku melaju kencang dan aku menatap lelaki kumal itu dari kaca spion yang lama kelamaan sosoknya perlahan menghilang, tenggelam ditelan ilalang yang kian meninggi di ujung tikungan.

Terus saja perjalanku karena memang tak banyak kendaraan yang lalu-lalang. Menyempurnakan laju kendaraanku yang memang tak bisa terlalu kencang. Jalan menanjak dan berbatu khas perbukitan menjadi halangan yang serius bagi motor-motor yang sudah cukup dimakan usia. Jalan yang berlapis aspal tak begitu membantu karena lubang-lubang di sana sini membuat jalan yang semakin dekat ke desa itu semakin sunyi saja. Petang datang, malam bersambut.

Di rumah, setelah menyantap beberapa ikan yang dibaluri dengan saos kecap racikan ibu, aku duduk sebentar di depan televisi. Tidak ada acara yang bisa membujukku untuk serius mengamati tiap saluran yang coba aku tatap. Akhirnya pilihanku jatuh pada chanel yang sedang menyiarkan berita. Lama aku memperhatikan apa yang coba disampaikan pembaca berita berjas biru tua itu lewat televisi. Suara baritonnya sama saja seperti hari-hari terdahulu. Menyampaikan berita luka, kesakitan, jerit pilu dan kelaparan. Wajah bangsa yang terus menerus murung, mencoba bangkit namun jatuh lagi. Begitu-begitu saja, berulang-ulang.

Sebenarnya aku sudah mulai bosan dan ingin beranjak sampai sebuah wajah terpampang close-up di televisi yang umurnya sama dengaku. Wajah yang sepertinya aku kenali, wajah yang akhir-akhir ini kuakrapi. Diberitakan bahwa di kota seberang lelaki berwajah bersih itu dicari-cari oleh keluarganya. Ia orang yang benar-benar dicari, ia orang penting ternyata. Itu saja yang bisa kutangkap. Nukilan kisah itu menyatakan bahwa lelaki itu pergi entah kemana, tak ada yang tahu, hanya saja ia meniggalkan jumlah kekayaan dalam bentuk uang, emas, dan infrastruktur yang tidak sedikit jumlahnya, tak ketinggalan persoalan yang tak dapat ku simak karena tiba-tiba televisiku mendadak mati. Masalah biasa, sesuatu yang termakan usia memang biasanya minta dimanja. Aku acuh saja dan meninggalkan ruang tamu menuju pembaringan.

Di kamar yang ukurannya cukup untuk rebahan saja aku bersandar pada tiang yang menghadap ke jendela, angin malam masuk perlahan dan menyentuh tubuhku lebut karena jendela kubiarkan terbuka. Hawa panas benar-benar tak bisa ku tahan.

Pikiranku kubiarkan melayang-layang. Aku benar-benar kelu, lelaki yang kulihat tadi di televisi sepertinya aku kenal. Namun mengenai di mana dan kapan aku bertemu lelaki itu aku masih belum bisa merabanya, aku hanya merasa ia begitu dekat denganku. Semua pertanyaan tentang lelaki itu terbawa ke dalam mimpi, aku tertidur sedangkan sayup ku dengar di luar angin dan hujan bergemuruh.

Sore berikutnya aku berada di warung kopi, dan tak jauh dariku lelaki itu duduk di tanah lapang penuh ilalang. Ia masih seperti dulu, tak berubah. Setelah menyeruput kopi yang baru saja diletakkan oleh penjaga warung aku berjalan keluar dan menyeberangi jalan yang memisahkan antara tanah lapang dengan warung kopi.

Semakin dekat aku semakin diingatkan mengenai berita tentang lelaki yang hilang malam tadi. Ya, wajah lelaki yang ku datangi ini sama persis dengan lelaki yang diberitakan malam tadi. Aku mempercepat langkah.

Ketika aku sudah berhadapan dengannya ia seperti tersentak menyadari kehadiranku. Ia nampak ketakutan, menyeret tubuhnya beberapa langkah kebelakang, beringsut kebelakang.

Aku bingung ingin mengajaknya bicara apa. Aku pun duduk saja menghadapnya, sesekali mencoba tersenyum kepada lelaki itu.

Cukup lama kami hanya diam, ia sekitar lima langkah di depanku.

“Mau apa?” ia akhirnya bersuara.

“Hanya ingin bicara,” aku menyambut pembicaraannya.

“Hahaha… apa gunanya bicara denganku, tak akan ada yang kau dapat,” ia tertawa menyeringai.

Aku diam, sementar orang-orang masih saja lalu-lalang di jalan besar yang tak jauh dari tempatku dan lelaki itu duduk. Mereka acuh tak acuh.

“Aku melihat wajahmu di televisi, kau di cari-cari di kota,”

“Aku tak gila, satu yang perlu kau camkan, aku masih waras,” masih saja sambil tersenyum-tersenyum.

“Lantas apa yang kau cari di desa ini?” aku semakin heran.

“Aku hanya ingin lari, lati dari rutinitas dan segala materi yang semakin lama membelenggu hati dan pikiranku sebagai manusia biasa.”

Aku berkerut mendengarnya. Ada sesuatu yang nampaknya itu tutupi.

“Aku anak pertama dan punya dua orang kakak. Orang tuaku mempunyai lahan bisnis yang cukup kuat untuk membuat kehidupan keluarga kami merasa nyaman. Mereka menjadikan anak-anaknya raja, termasuk aku dan kakak-kakaku. Segala yang kami inginkan diberikan, itu membuat kami benar-benar tidak disiapakan untuk menghadapi badai. Umur manusia siapa yang tahu, ayahku terkena serangan jantung pada usia yang cukup muda. Nyawanya tak bisa lagi ditawar oleh ahli-ahli kesehatan, ayahku pergi. Semua meratap, namun hanya sebentar karena ayah meninggalkan warisan yang tak sedikit. Namun masalah baru datang, ibuku perlahan jadi pesakitan. Ia mulai mengkonsumsi obat-obat penenang karena menahan stres akibat ditinggal ayah, kami anak-anaknya hampir semua sibuk maka tak ada yang mengetahui hal ini sampai akhirnya ibu benar-benar jatuh. Ibu over dosis, tak mampu diselamatkan. Dalam satu tahun dua badai menghancurkan biduk rumah tangga keluargaku.”

Aku mendengarkan ceritanya sambil sesekali melihat langit.

“Begitulah, sama seperti tumbuhan yang layu ketika tiba waktunya. Satu persatu daun-daun itu jatuh setelah menua dan lelah. daun-daun muda dengan akar yang tidak cukup tua dilepas sendirian ditengah arus yang deras dan beringas. Tak punya pegangan kuat, akhirnya daun-daun muda itu pun luruh.” Lelaki itu tak melanjutkan ceritanya, ia menarik nafas dalam-dalam.

“Kadang kematian merupakan jalan keluar terbaik terhadap banyak masalah yang kita temui” ia mengucapkannya serak.

Aku menatapnya, ada butiran-butiran cerkilau cahaya yang menetes satu-satu di sudut matanya. Kilat melindap, tetes-tetes air mulai berlomba sampai ke dasar bumi. Hari kian malam, tanpa salam aku pergi dari samping lelaki itu. Pikiranku entah berada di mana, hanya naluri manusia menuntunku untuk segera lari dari kejaran hujan. Pulang.

Malamnya setelah begitu larut, aku tak sempat memutar ulang rekaman pertemuanku dengan lelaki itu dalam pikiran. Aku kalah oleh kantuk.

Esok pagi karena tak ada kuliah aku hanya menyaksikan televisi, dan berita lelaki itu muncul lagi. Bukan tentang ia yang dicari-cari, namun berita tentang ia yang tak lagi perlu dicari. Ia menyerahkan diri, menjawab semua pertanyaan tentang penyebab kehancuran keluarganya. Juga tentang siapa pembunuh kakaknya, ia yang lari dan alasan mengapa ia sendiri yang mengakhiri hidup kakak kandungnya.

Ya, karena bosan merawat, sang kakak mempercepat kematian ayah mereka dan memuluskan kepergian ibunya tak lama kemudian. Harta adalah tujuan utama. Dan kalap mata membuat ia tak mampu menahan marah. Luka hatinya ia balas dengan luka. Lantas ia lari ke desa ini untuk membawa rasa bersalah setelah perkelahian hebat di rumah mewah keluarganya. Pertanyaanku terhadap lelaki itu terjawab tuntas. Akhirnya ia menang, menjawab semuanya dengan kejujuran di depan semua orang. Aku sempat terkejut, wajahnya cerah seperti jingga yang merah, langkahnya ringan seperti kapas tanpa beban. Ia bebas, jauh dalam hatinya ia bebas. Bukan dengan kematian, tetapi lewat kejujuran.

 

 

terbit juga di Media Kalimantan

 

 

 

Iklan

5 Tanggapan to “Lelaki Tanah Basah”

  1. tiyaradam said

    ka, umpat betakun. media kalimantan tu nerima cerpen yg temanya apa? trus cerpen tu dimuat tiap kali terbit atau seminggu sekali kaya yg di bpost? maaf banyak takun, soalnya kada pernah liat media kalimantan 😀

  2. nana said

    harta menghalalkan segala cara. 🙂
    cerpen yg bagus.
    oia, ada typo diatas atau saya yg ga ngerti.
    cerkilau cahaya atau berkilau cahaya?

  3. awym said

    tiara : kalau di MK mungkin bebas namun lebih baik kalau bukan cerpen populer 🙂 terbitnya seminggu sekali tiap hari jumat dek…

    nana : salah tulis tu kak, thanks koreksinya 🙂

  4. aap said

    berkunjung aja dulu wimlah….bacanya kena..!

  5. ck..ck..ck..jadi ingd keluargaku dsna nh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: