Mama

23 Januari 2011

Tadi siang saya pergi ke kampus, hampir satu jam di perjalanan. Dan apa yang saya lakukan di jalan, MEWEK… yap, saya sedikit menangis. Karena apa? Entah mengapa saya teringat mama, orang yang baru saja saya kecup tangannya ketika berangkat. Selama dalam perjalanan terulang-ulang kisah yang saya saksikan sendiri,  serta kisah yang diceritakan oleh mama. Dan dari banyak cerita itu, kesimpulan pertama saya adalah “Mama saya orang yang tegar”. Beberapa penggal kisah itu lah yang ingin saya tulis sederhana, karena takut terlupa dan tercecer begitu saja.

Kisah ini saya mulai dari kisah mama mengenai masa kecilnya. Hidup ditengah keluarga sangat biasa, mama yang dilahirkan kembar harus berjuang untuk merasakan yang namanya pendidikan. Mungkin sama dengan beberapa orang tua kalian, mama saya pernah pindah-pindah sekolah karena tak mampu membayar SPP yang kalo dilihat sekarang jumlahnya tak seberapa. Untuk membayar SPP mama berjualan kacang, es batu, dan kue-kue kecil sembari sekolah. Disaat anak-anak lain menikmati jam istirahatnya, mama berkeliling menjajakan dagangan. Jujur, saya sendiri merasa renyuh mendengarnya. Karena memang kakek tak mampu membiayai sekolah beliau, untuk makan saja susahnya luar biasa. Segala usaha keras mama mungkin buahnya tidak manis, seperti orang-orang sukses. Belum lagi menahan rasa malu yang amat sangat karena bisa saja SPP 3-5 bulan tak kunjung mampu dilunasi. Dan hal ini terulang lagi disekolah yang baru. Sampai kelas 4, mama saya tak pernah selesai sekolah, sekalipun itu Sekolah Dasar.

Setelah berumah tangga, mama harus ikut menemani abah yang mengajar di desa Belangian, desa terpencil yang mesti ditempuh memakin kelotok dari Pelabuhan Riam Kanan. Tak ada aliran listrik, rumah yang ala kadarnya. Jauh dari pusat peradaban. Kata mama ada lampu, namun harus memakai aki yang waktu itu cukup mahal. Dan jangan lupa, tak ada kotak aneh bernama televisi. Untuk mengajar pun abah harus naik ke lereng gunung dengan bangunan sekolah yang lebih mirip gubuk. Namun kata mama sewaktu raport dibagikan maka mama akan mendapatkan berbagai hasil bumi dari para orang tua murid. Sebuah budaya masyarakat yang cukup melekat dalam ingatan. Saya lupa berapa tahun orang tua saya berada di desa yang termsuk desa terujung wilayah Kabupaten Banjar tersebut. Yang pasti lebih dari 2 tahun. sebelum pindah ke Riam Kanan.

Nah di Riam kanan inilah saya dilahirkan. Bahkan rumah dilereng bukit tempat saya dulu tinggal masih teringat jelas. Jika melihat ke jendela maka hamparan jurang lah yang terlihat. Rumah ini masih ada, dan rencananya kalau ke Riam kanan akan saya potret untuk bahan kenangan. Mau Ikut? Rumah khusus guru itulah yang menjadi saksi kalau saya kecil pernah lehernya keseleo dan selalu melihat melirik, sebutan “awiem lenggok” pun saya sandang. Kejadian saya balita yang disengat lebah pun terjadi di rumah tersebut. Rumah kecil penuh cerita.

Penggalan cerita selanjutnya adalah ketika kami pindah ke rumah kontrakan kecil di keraton, Martapura. Rumah ini seperti foto di bawah ini. Memang dari kecil saya sudah ganteng…

Setelah dari rumah di keraton, saya lantas pindah ke rumah yang saya tempati sekarang. Saya masih kecil waktu itu. Dan rumah saya dulu tidak seperti sekarang. Mama masih berjuang terus, melakukan apa saja untuk membantu ayah. Yang masih sangat saya ingat, sewaktu belum bersekolah, saya dibawa bersepeda untuk menuju salah satu rumah keluarga. Untuk berkunjung, tentu tidak. Mama menjadi tukang cuci, dan saya yang menemani. Ya, mama saya dulu tukang cuci. Serta pembantu rumah tangga juga.

Kiranya sudah terlalu panjang, padahal ada banyak lagi perjuangan mama yang ingin saya ceritakan. Mama saya yang selalu menginginkan anaknya sekolah tinggi, meskipun ia sendiri tak pernah selesai sekolah. Mama saya yang tegar meskipun jalan hidup tak pernah lurus. Mama saya yang berusaha banyak untuk menopang keluarga ini dari dulu. Mama saya yang tak pernah lelah memarahi saya. Mama saya yang tegar.

Mungkin mama kawan-kawan lebih luar biasa. Maksud saya menulis ini tanpa ada keinginan lain, selain menuliskan kisah yang tiba-tiba muncul, takut lupa, lebih baik ditulis dalam cerita. Saya juga menggunakan kata mama karena memang begitulah saya memanggillnya. Bukan ibu, nyokap, mamah, ato bunda. Terlalu tinggi kata mama saya. Panggil mama saja. Dan kebiasaanya saya adalah jika sampai di rumah, maka saya akan langsung berteriak “Mamaaaaaaaaaaaaaa”. Childish memang, namun begitulah kebiasaan.

Bagi mereka yang mamanya telah ‘tenang’ di sana. Saya yakin mama kalian bangga dengan kalian. Bagi mereka yang masih punya waktu, berusahalah membahagiakan beliau. Sesederhana apa pun. Terakhir, “Ma, ajari ketegaran itu pada anakmu ini…”.

 

 

Iklan

10 Tanggapan to “Mama”

  1. Andre Wibawa said

    Seorang mama tidak akan disebut mama kalau ia tidak setegar yang kau tahu..
    Mama adalah satu2nya sosok yang rela memberikan segalanya untuk anaknya tercinta,meski dengan begitu ia sendiri sering tidak berkecukupan untuk memanjakan diri…
    Karena itu, belajarlah merelakan segala yang kau punya sebisamu buat menyenangkan mama…
    Two thumbs up for this post..

  2. awym said

    @andre: kelahi kah kita, hahahaha

  3. nia said

    hiks .. terharu baca kisahmu, tapi sedikit tersenyum pas liat foto masa kecilmu, xixixi .. narsis dari dulu yaaa wym?

  4. awym said

    @nia: hehehe, sekedar intermezo saja mbak 🙂

  5. nisa said

    sedihh ihh…keingatan mama timbul hehee…

  6. edratna said

    Perjuangan seorang Mama tak akan pernah berakhir untuk mensejahterakan keluarganya….kerja keras waktu kecil merupakan tujuan agar nanti punya ketrampilan cukup buat keluarga kecilnya.

  7. dian said

    Kunjungan pertama…

    sedih banget baca cerita ini…
    doakan selalu yang terbaik untuk mama kita… 🙂

  8. Nastanesha said

    I read it with drops of eyes’ tears. What a nice post.

    I miss mom n town. Want to go home, but many jobs to do here.

    Love u, Banjar…

  9. baburinix! said

    kisah masa lalu kah wiem?

  10. pilihan pertama ketika keliling2 dblog ini. Mama. Saia suka gaya menulisnya, mengalir..membawa kita larut dalam cerita yg sederhana namun sarat makna 🙂 *toss*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: