Kisah Ami Said

21 Januari 2011

Postingan ini saya mulai dengan salam seorang Ami Said (begitu saya memanggil beliau) kepada ayah saya. Beliau menyampaikan salam setelah membuka berkas saya di radio tempat saya nebeng siaran. “Wim, salam ya dengan Ayahmu, beliau itu teman saya!”, dan saya pun saat itu tersenyum.

Di rumah tentu salam itu saya sampaikan, maka dimulaikan cerita ayah saya tentang Ami Said atau dulu beliau punya nama saat mengudara seperti Kak Sas, dll. Ayah saya bercerita bahwa beliau berteman dengan Ami Said sejak sama-sama siaran. Wow, teman ayah saya siaran dulu sekarang jadi teman saya siaran. Hmmm… menarik.

Kemudian mama saya menyambung dengan mengatakan bahwa Ami Said tak punya pekerjaan lain selain menjadi penyiar radio. Profesi itulah yang dijadikan Ami Said menghidupi keluarganya yang kata mama tidak kecil jumlahnya. Saya hanya membayangkan, dengan gaji yang bisa dibilang kecil. Ya, menurut saya gaji seorang penyiar radio di daerah saya kecil, maka tidak heran kalau ada celetukan menarik “Kalau ingin kaya jangan jadi penyiar radio”, yang dilontarkan kawan-kawan saya sembari bercanda. Hal ini nyata, gaji sebagai penyiar mungkin bagi kebanyakan orang tidaklah cukup untuk bertahan hidup, apalagi hanya bersandar pada satu profesi ini saja. Ada hal-hal lain diluar materi yang membuat seseorang bertahan.

Kalau Ami berteman dengan ayah saya sejak muda, dan sampai sekarang masih berprofesi sebagai penyiar maka saya kira umur beliau yang sekitar 50an lebih adalah sesuatu yang luar bias mengingat beliau tetap setia pada profesi ini. Sejak muda tentu sekitar umur 20an sudah mulai siaran. 30 tahun adalah dedikasi yang tidak main-main untuk sebuah profesi penyiar radio.

Saya tak bisa bicara banyak karena memang ketika bertemu Ami beliau tak banyak cerita tentang pribadi. Ami lebih sering bercerita lucu dan mengocok perut teman-temannya. Dengan motor butut Yamaha Alpa beliau tetap selalu bersemangat saat datang ke studio untuk siaran. Saya hanya ingin mengatakan bahawa ada sebuah pelajaran menarik mengenai kecintaan terhadap satu profesi melalui diri Ami Said. Keikhlasan yang tidak beliau katakan, tetapi beliau buktikan. Ami Said, seorang yang bersahaja dan sederhana, penuh senyum dan kebijaksanaan. Salam.

Iklan

2 Tanggapan to “Kisah Ami Said”

  1. Said said

    Kukira tadi aku ai sudah. han, salah sangka. wkwkwkwkwk

  2. Nastanesha said

    SHm, he is a man with a pure faith…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: