Embun

19 Januari 2011

Aku benar-benar tak mengerti. Tentang dirimu dan penjalanan tanpa ujung yang seringkali kamu sebut pencarian. Sering kamu katakan kalau semua bisa memilih dan mempertahankan, sedangkan bagiku semua sudah ditentukan. Lipatan waktu yang kita sebut tahun juga tak cukup membuatku merasa telah benar mengenalimu. Bukankah setiap pencarian harus berakhir, cepat atau lambat, hanya soal kapan. Terlepas seperti apa semua bertemu penghabisan.

Hari ini kejadian itu akan terulang kembali, entah yang keberapa kali. Kamu akan duduk menemuiku di sini, kita duduk berhadapan, dan mata bening itu akan merayap lambat dipikiranku, membuatku tak sanggup bicara lebih dulu.

Kamu akan becerita panjang lebar di mana kalian bertemu, bagaimana ia tertarik padamu, dan seberapa banyak cara yang ia reka untuk mencuri perhatianmu. Ada senyum yang kamu tahan, kamu nampak bahagia. Aku tak cukup banyak berkata, hanya bisa mengangguk dan menampakkan aku turut bahagia. Sudah cukup. Dan pertanyaan itu akan mengakhiri semua, pertanyaan apakah kamu pantas mencobanya lagi, dan lagi, bersamanya. Aku akan menjawab seperti biasa, hanya “Ya”, atau kalimat “Tentu saja”, tak ada salahnya mencoba. Kamu nampak girang mendengarnya. Setelah itu biasanya senja datang, sebuah telepon membuatmu nampak sibuk. Aku hanya memandangimu lekat, sebelum kamu mengucap maaf dan pamit.

Sempurna, menurutku. Aku tak pernah mencoba menjadi pemberi saran, bukankah kamu kamu lebih perlu dukungan daripada kata-kata sok bijak dariku. Sentimentil memang, namun jika hal itu cukup berarti dan menjadikanmu nyaman. Aku tak perlu jadi matahari atau pun hujan, jika yang kau perlu hanya embun, akan kulakukan.

Ketika hampir sebulan tidak menghubungiku. Kuterka kamu telah bahagia, alasan apa yang bisa membuatku tidak ikut suka jika tahu kamu menikmati semua bersamanya. Hidupku pun berjalan sama saja, rutinitas jemu yang memaksa kita berlari diburu waktu. Namun tadi siang sewaktu menyeduh teh di pentri kantor, alunan lagu Kepada Hati Itu milik Letto menyentakku. Lagu lembut yang hanya ku set jika kamu menghubungiku. Terisak dalam telepon, meminta bertemu sore ini. Segera aku iyakan, segala pekerjaan yang sudah terjadwal rapi kutinggalkan, karena kamu membutuhkanku. Aku gegas karena siang mulai luruh, apalagi menuju tempat kita bertemu juga tak dekat.

Sudah 30 menit aku menunggu, berkutat dengan waktu. Selang berapa lama, akhirnya kamu datang. Sweater biru muda dan celana panjang berwarna tua, ah kamu makin cantik saja. Setengah berlari menujuku, di bawah gazebo beratap rumbia, di bagian utara kedai kopi tempat kita biasa. Kulihat kamu kurang sehat, namun tetap ada senyum sebelum kamu memulai cerita. Seperti yang sudah kutebak. Kamu kecewa, ada luka di sana. Lagi, untuk kesekian kalinya.

Kali ini aku hentikan ceritamu dengan menggenggam tanganmu, layaknya seorang sahabat erat. Kurasa badanmu hangat. Aku tak perlu tau semua hanya untuk menaruh simpati dan menolongmu bangkit kembali. Semua sudah ada tanpa diminta. Kamu merapatkan sweater dan memandang keluar, seperti ada jalan panjang yang belum juga terelesaikan. Segelas wine datang, membuatmu agak tenang. Kamu melanjutkan bukan dengan cerita, tetapi dengan banyak pertanyaan. Pertanyaan yang sebenarnya tak perlu kujawab. Tentang apakah kamu masih pantas mencoba, tentang kelelahan yang akut berkerat di badanmu, juga tentang mimpi akan seseorang yang menuntunmu pulang. Aku melihat kali ini kamu begitu mempertanyakan hidup dan kehidupan, sesuatu yang dulu kamu anggap berat, hidup terasa kian sulit. Kamu bercerita banyak dengan tangis tertahan. Aku tahu kamu sangat lelah. Sekarang kamu diam, aku pun diam, kita diam.

Aku memandangmu lekat, kamu menunduk. Entahlah kamu mengerti atau tidak. Dan handphone mu berteriak keras. Kamu menjauh, serius berbicara. Aku pun menyibukkan diri dengan mengaduk-ngaduk lemon tea yang kurasa teramat dingin dengan sedotan. Bulir-bulir embur diluar gelas kaca terlihat begitu bening. Sebening rasa yang ku endapkan, pun hatiku yang berembun karena terlalu dingin.

Lama, kamu kembali dengan wajah yang berubah. Dia minta maaf katamu. Kamu bercerita tentang isak memohon kembali, tentang janji perubahan sikap, dan kepastian hubungan yang lengkap. Menawarkan mimpi yang selama ini kamu cari. Aku cuma bisu. Aku benar-benar belum mengenalmu, meski kuhitung sudah lima tahun sejak awak kita bertemu di sini, di tempat ini.

Kamu teguk habis wine dan terlihat semakin baik. Setelah merapatkan lagi sweater yang kamu kenakan, kamu pamit dengan mengumpulkan sisa-sisa ketegaran yang tadi kamu semai dihadapanku. Aku mengangguk, kamu berlalu setengah berlari, menghilang di balik cakrawala.

Kamu terasa sangat jauh, dan aku semakin merasa tak pernah mengenalmu. Tanganku memegangi gelas kaca yang berembun tadi. Kurasa gelas itu retak, karena dingin yang berlipat-lipat.

Martapura, 06/12/09

Iklan

11 Tanggapan to “Embun”

  1. warm said

    heu mantap, bos
    lanjutkan, kejar gadis itu*eh
    😀

  2. awym said

    @warm : anu, hmmmm 🙂

  3. aap said

    Smoga suatu saat embun itu akan kau dapat..dipagi hari walau tak berapa lama dia akan menghilang seiring mentari yang bersinar dan kembali lagi dipagi hari…namun entah apakah yang datang tersebut embun yg kamu temui kemaren.

  4. awym said

    @aap : mantap bang 😀

  5. Takodok! said

    Kesan: datang dan pergi begitu sjaa, cuma itu yang mirip dengan embun pagi *sok tau* 😀

  6. awym said

    @takodok : 🙂

  7. antiklimaks namun sentimentil begitulah sosok seorang pria yg menjadi sandaran hati sang hawa 🙂

  8. rime said

    wow… cinta terpendam kepada sahabat. kisah klasik yang selalu terulang di mana pun di dunia.

  9. awym said

    @rea : thanks sob…
    @rime: hohoho, entahlah itu bisa disebut cinta atau apa lah namanya 🙂

  10. nia said

    ah .. ternyata gadis itu tak tau kalau kau mempunyai rasa untuknya

  11. Nastanesha said

    Did the girl read this post? What’s her response?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: