Mencari Jejak Relung Ibu

20 Juni 2009

dimuat di Radar Banjarmasin edisi 14 Juni 2009

Angin lembut mengelus-elus pipiku. Senja yang luar biasa. Rona jingga ditambah udara gunung membuat hati nyaman. Masih sama seperti beberapa tahun lalu. Memaksa gurat-gurat kenangan dalam jiwaku kembali terlempar ke masa lalu. Rasanya hampir genap dua tahun aku meninggalkan desa ini, tempat tangisan pertamaku pecah. Desa di mana aku diazankan oleh ayah dan di kecup berulang-kali oleh ibu. Mereka orang-orang yang percaya, bahwa kebahagiaan turut lahir bersama bayi yang telah hadir ketengah-tengah mereka. Sebuah nyala harap yang berlebihan. Namun memang seperti itu bagi mereka, orang tuaku.

Sama seperti anak laki-laki kebanyakan. Bandel dan sedikit menyusahkan, perlahan bisa diatasi oleh orang-orang yang menyaksikan hidupku dari dekat. Waktu terlewati, sekolah dasar dan sekolah menengah pertama aku jalani sewajarnya. Jarak yang tidak terlalu jauh dari rumah mengakrabkan diriku dengan jalan kaki menuju sekolah.

Lulus dengan nilai cukup membanggakan membuatku akhirnya bisa memiliki sebuah sepeda yang cukup tua. Sepeda yang ayah bawa dari kota kabupaten, alat transportasi sederhana yang menjadi saksi mengenai masa-masa sekolah menengah atas yang jaraknya dua kali lipat dari jarak sekolahku terdahulu.

Semakin dewasa aku semakin mengerti, bahwa semua berubah, termasuk wajah desaku. Mengenai ladang-ladang yang perlahan menghilang terganti pasar dadakan yang penuh barang-barang yang tidak pernah ku kenal sebelumnya, ada juga teknologi baru yang katanya memudahkan hidup manusia, serta hal-hal asing yang perlahan kuanggap menjadi biasa. Juga mengenai ayah yang harus pergi mencari nafkah ketempat yang jauh dan baru pulang setelah berbulan-bulan atau menjelang lebaran. Aku tak pernah tahu apa pekerjaan ayah, dan ibu tak pernah bisa menjelaskan kepadaku jika aku bertanya. Meski tetap tak memahami kerja ayah, namun aku tetap merindukannya.

Saat seragam putih abu-abu mengakrabi hidupku, sebuah konsep yang menurutku begitu rumit mulai masuk ke dalam hidupku. Cinta, pada seorang gadis bermata coklat dan berambut sebahu yang belakangan kuketahui adalah anak seorang makelar tanah. Rahma, begitu ia biasa kupanggil. Sebuah nama pendek yang perlahan menelusup terlalu dalam dari rasa yang seharunya kujaga, lantas melenakan dan tak terbantahkan.

Aku sebenarnya tak ingin terlalu larut dalam indahnya cinta sekolah. Hanya saja yang pasti aku pernah mengikat janji bahwa suatu saat nanti akan ada sebuah adegan dimana saat-saat itu jariku dan jari Rahma saling menyematkan cincin dan mengaku sehidup–semati. Entahlah, sepertinya aku berkhayal terlalu jauh. Namun seringkali ia tidak keberatan kuantar pulang dengan sepeda tua meski sinar matahari begitu menyiksa. Aku semakin merasa bahwa ia menyimpan rasa yang sama, meski saat itu tak pernah kami coba tumpahkan ketika bersama. Karena terkadang aku disadarkan oleh keadaan, bahwa aku pemuda yang tak punya apa-apa.

Membahagiakan orang tua tentu impian setiap anak. Aku ingin membuat mereka percaya bahwa anak mereka yang dulu diazankan dan dikecup keningnya bisa menjadi sesuatu, atau setidaknya turut menopang kehidupan keluarga. Demi itu semua, setelah aku resapi dalam-dalam. Akhirnya aku rela mengendapkan rasaku pada Rahma, meski tidak kubunuh, hanya kuselipkan diantara patahan-patahan luka dalam hatiku.

Karena sering bersama dan tiba-tiba aku menancapkan jeda dianta kami, Rahma sepertinya bertanya-tanya apa yang terjadi. Perlahan karena semua tak kunjung jelas ia menjauh, semakin jauh. Sibuk dengan kehidupannya yang nyaman dan aku pun menyibukkan diri dengan hidupku yang semakin tertatih bersama rasa yang kusimpan.

Selepas SMA selayaknya anak laki-laki desa aku pun mencari peruntungan. Aku menantang hidup dengan nekat ke kota. Tak ada pelepasan yang berlebihan. Hanya selaksa doa dan satu tas penuh harapan yang coba kupanggul demi Ibu, karena sudah satu kali lebaran sejak ayah pergi saat aku kelas 2 SMA ayah tak pernah lagi pulang. Aku pun enggan bertanya pada ibu karena takut menambah beban. Kurasa jika kurongrong ia dengan pertanyaan tentang ayah, maka beban ibu akan semakin berat. Aku tak mau ibu ambruk dan remuk.

Di kota aku di titipkan pada pamanku yang setelah coba aku gali hubungan keluarganya denganku adalah saudara jauh dari ibu, di sana aku diberi makan dan minum serta sebuah kamar yang cukup untuk menyandarkan kehidupan dan harapan. Setelah beberapa hari tanpa pekerjaan akhirnya harapan itu dimunculkan, aku diterima dengan ijajah SMA.  Bukan pekerjaan yang membanggakan sebenarnya, menjadi pelayan di sebuah toko swalayan rasanya cukup pantas untuk ukuran anak desa sepertiku. Dengan gaji yang jauh dari lumayan aku coba kembali menata kehidupan meskipun berat dilakukan, tak pernah aku lupa menyisihkan separuh dari gajiku untuk kutitipkan pada sopir angkutan desa untuk diserahkan pada ibu jika akhir bulan menyapa.

Waktu berlalu, hidupk terus melaju. Bekerja dan bekerja membuat kenanganku akan desa dan perempuanku memudar, semua terbawa tidur dalam malam-malam penuh kelelahan yang begitu akut. Karena aku bekerja dari pagi-pagi buta hampir menjelang pagi kembali. Kabar ibu pun hanya aku tanyakan pada sopir-sopir yang sering kutitipkan uang ke desa. Aku punya satu tekad, tak ingin pulang dulu sebelum punya sedikit uang tabungan untuk memulai kehidupan sederhana di desa bersama ibu. Semoga kebahagiaan yang coba kutunda tak lantas jadi hilang dan tandas dalam larut kesedihan.

Satu ramadhan terlewati dengan kerja dan rasa yang coba ditutupi, keinginan untuk pulang yang meronta sering coba kudiamkan saja dalam kesibukan. Hingga suatu hari ada sebuah kejadian yang meluluh-lantakkan kedai tempatku bekerja. Sebuah demonstrasi mahasiswa yang membawa isu perubahan dan penundukan rezim lama. Toko swalayan yang katanya milik salah satu keluarga pejabat yang sedang bertahta itu pun diamuk massa, toko tempat aku menggantungkan harap dan mimpi mereka sulut dengan api. Mereka begitu beringas, aku tak menyalahkan mereka karena mungkin hati mereka sudah cukup terluka melihat keadaan bangsanya yang terus menerus berselimut kemakmuran semu. Sebuah dusta yang menjadi kebanggaan selama bertahun-tahun. Siang hari naas yang akan selalu kukenang. Swalayan yang di dalamnya bergelantungan produk-produk berkelas yang diperuntukkan untuk kaum borjuis akhirnya dikalahkan. Tanda bahwa kecongkakan penguasa akan segera berakhir mampu kurasakan. Setelah aksi pembakaran itu usai maka dalam beberapa meter aku menatap toko swalayan yang jadi puing-puing dan onggokan bangunan. Di ujung jalan ada beberapa mahasiswa yang kulihat berbaring di tengah jalan. Namun tak bergerak sama sekali, aku mulai ragu apakah mereka tidur sebentar atau untuk selamanya. Semua begitu cepat terjadi. Begitu cepat. Secepat aparat yang tadi kulihat mengamuk, merangsek masuk kekerumunan mahasiswa. Kesurupan dan membabi buta.

Aku lari dan terus berlari, ketakutan. Entah takut kepada siapa, namun yang pasti setelah melihat kejadian tadi aku merasa sangat ingin pulang. Kembali ke kampung halaman  dan tidur dalam rumah yang di sampingnya terhampar padang ilalang. Aku berlari ke rumah dan berkemas-kemas seadanya, kemudian tergesa-gesa pergi stasiun kereta. Aku memesan tiket paling awal. Mempercepat kepulanganku, merindukan pelukan ibu.

***

Sekelebat suasana jadi dingn. Aku tersentak dari lamunan dan tersadar sudah terlalu lama berada di bukit tak jauh dari desa. Dari bukit yang tidak terlalu tinggi ini dapat terlihat desa yang kutuju. Pandanganku tertuju ke bawah, aku terkejut karena semua sudah berubah, semua tak sama. Aku tinggal menuruni satu jalan setapak yang akan membawa sampai ke desa yang sehari sebelumnya begitu lekat kurindui. Dari kejauhan desaku mulai bergelimang cahaya, lampu-lampu rumah mulai menyala. Hari segera akan malam, aku pun mempercepat langkah. Sengaja setelah turun dari kereta aku tak lantas meneruskan perjalanan dengan angkutan umum, aku memilih berjalan kaki dengan alasan ingin menikmati masa lalu. Dua jam yang menguras keringat, sejak siang hingga menjelang sore.

Tapak langkahku semakin cepat seirama jangkrik di kiri-kanan jalan. Terlihat jelas wajah desaku yang muram. Ada beberapa hal yang berubah, rumah yang dulunya hanya terbuat dari kayu kini gagah dengan beton-beton bertingkat, halaman-halaman yang dulunya hijau sekarang gersang tanpa ilalang. Ada yang berubah jadi toko mainan, toko makanan instan dan toko pakaian. Tak ubahnya seperti kota yang baru saja aku tinggalkan. Sepertinya waktu dua tahun mampu merubah semuanya dengan semaunya.

Tinggal seratus meter lagi rumahku, rumah yang ditempati ibu. Rumah yang terakhir kali kukunjungi masih harum melati dan catnya adalah warna putih. Seingatku yang di dapat dari kapur pinggiran bukit di belakang rumah. Semakin dekat ke rumah aku merasakan keganjilan yang tak kuharapkan.

“Kemana Rumahku,” aku berteriak-teriak dalam hati sambil berlari menuju sebuah ruko yang cukup mewah.. Sudah tutup sebenarnya, namun karena kesal aku terus menggedor-gedor teralis yang seperti melarangku untuk masuk ke dalamnya.

“Ibu… Ibu… !” teriakanku perlahan membangunkan orang-orang sekitar yang mungkin baru saja menunaikan magrib di rumahnya. Aku terus meronta, menahan tangis sejadi-jadinya. Semua kumungkinan buruk meletup-letup dalam ingatanku, banyak pertanyaan yang tak bisa kujawab. Kemana ibu, apa yang terjadi dengan rumahku, dan pertanyaan-pertanyaan yang menghujam begitu kuat ke jantungku.

Setelah beberapa menit teralis itu perlahan dibuka dari dalam, cahaya putih yang berasal dari neon terang yang bergelatung di dalamnya menyilaukanku dalam beberapa detik. Orang-orang mulai berkerumun dan aku mendengar mereka bergumam  tidak jelas, mengenai siapa aku dan apa yang sedang terjadi.

Setelah teralis itu terbuka sempurna maka yang kulihat adalah sosok perempuan yang perlahahan kukenali namun hanya kusebutkan dalam hati. Wajahnya bingung dan bertanya-tanya.

“Maaf, anda siapa?” wanita itu mencoba memperjelas siapa aku.

“Aku yang dulu tinggal di sini, dan aku ingin tahu kemana ibuku!” Aku berbicara semauku. Warga yang mendengar dan tidak mengerti mulai kelihatan bisa menerka siapa diriku. Gadis itu pun terlihat berkerut dan perlahan memahami apa yang sedang kurasakan. Wajahnya perlahan jadi cerah.

“Kau anaknya Ibu Lastri?”

“Ya, kemana ibuku?” jawabku cepat.

“Masuklah,” perempuan berambut sebahu itu mempersilakan aku untuk masuk ke dalam ruko yang kutebak miliknya, namun hatiku bertanya mengapa sampai menjadi miliknya, padahal seharusnya ditanah ini masih berdiri reot rumahku. Namun pertanyaan itu masih kebenamkan dalam kalutnya pikiranku.

Aku menuruti kata-kata perempuan tersebut untuk masuk ke ruko tersebut, suasana mulai reda.Warga yang dari tadi bergerumul mulai kembali ke rumahnya masing-masing. Malam makin tinggi, aku mulai bisa menguasai nafas.

Di dalam ruko tersebut aku duduk sembarangan, di atas karpet yang dekat televisi berukuran besar. Di atasnya tergantung foto pernikahan yang memberiku peringatan agar tak kembali kemasa lalu, masa seragam puutih abu-abu, karena perempuan di foto berbingkai emas itu sudah punya kehidupan baru. Jauh lebih baik dari impianku dahulu.

Perempuan itu terus  ke dapur dan kembali dengan segelas air putih.

“Ini, minum dulu!”

Aku mengambil gelas kaca berukurang tanggung itu dan menandaskannya dalam beberapa kali tegukan.

“Sekarang jelaskan kepadaku?” segera aku melontarkan pertanyaan. Aku benar-benar ingin tahu semuanya.

“Setelah kau pergi ibumu hidup sendirian, ia cukup tegar dan selalu berharap kau atau pun bapakmu suatu saat akan datang. Ia hidup dari mengurusi ladang kecil yang seingatku berada di belakang rumah kalian. Sambil mencari-cari informasi dimana keberadaan bapakmu. Hingga pada suatu hari datang kabar dari pak Karmin yang kernet angkot itu bahwa ia melihat bapakmu di kota seberang sewaktu ia mengantar penumpang ke sana. Setelah beberapa hari Pak Karmin pun berhasil mendapatkan alamat bapakmu di kota itu dan segera menyampaikan kabar itu kepada ibumu.” Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam sebelum lanjut bercerita.

“Ibumu begitu gembira dan sangat ingin menemui ayahmu. Karena ongkos ke seberang cukup mahal maka Ibumu menjual rumah dan tanahnya kepada bapakku, karena beliau berpikir ayahmu pasti sudah punya rumah baru di kota seberang yang menyebabkan ayahmu tak pulang-pulang. Berbekal uang hasil menjual rumah ibumu berangkat keseberang di antar pak Karmin. Aku kurang tahu selanjutnya bagaimana namun selepas itu ibumu jarang terlihat di sini,”

“Jadi ibuku sekarang dimana?” Aku mempertegas pertanyaanku.

Lama tak kudengar jawaban. Beberapa warga masih terdengar gaduh di luar.

“Mungkin bisa kau temui beliau di pasar,” belum sempat perempuan itu meneruskan penjelasannya aku keluar dengan tergesa-gesa dan berlari menuju pasar. Sayup ku dengar ia memanggil-manggilku, namun perhatianku sepenuhnya ingin bertemu ibu.

Pasar dari ruko atau bekas rumahku berjarak sekitar lima ratus meter. Dan semua itu aku tempuh dengan berlari. Semua berputar begitu cepat dan kenangan-kenangan indah mengenai aku beserta ibu dan bapak berkelebat di hati dan pikiranku. Beberapa warga ikut berlari de belakangku mencari ibu, sambil menghindari becek yang tergenang bekas hujan.

Aku sampai  pada tanah berlapis rumput, artinya aku sudah tiba di pasar. aku berhenti berlari dan mulai menyisir setiap sudut pasar dengan mataku. Lampu remang-remang menghalangi penglihatannku, di sudut pasar di bawah lampu yang menyala tidak sempurna karena sebentar-sebenat mati aku melihat sosok perempuan tua yang rebahan di bawahnya. Perempuan itu kelihatan begitu lusuh, dan lelah. Di atas koran-koran ia coba menutup mata.

Aku tertahan. Perempuan itu terkejut dan tersentak karena mendengar riuh warga yang turut membantuku mencarinya. Ia berdiri, menatap wajahku. Sepertinya ia takut lalu bersembunyi di balik tong sampah tak jauh dari tempatnya rebah. Wajahnya temaram, sinar bulan tak cukup terang membatasi penglihatanku.

Bingung aku melihat tingkah ibu, apakah ia lupa dengan diriku. Tak ada peluk haru atau kecup rindu.

Perlahan aku mencekatinya, namun yang terjadi adalah ia berteriak sekuatnya. Warga yang dari tadi mengukutiku bergerumul di belakangku.

“Ayahmu di seberang kawin lagi dan jadi orang berada” sebuah kalimat yang tak jelas ku kudengar dari mulut siapa membelah sepi dari kerumunan warga.

Setelah mencoba mencerna kalimat-kalimat itu aku limbung, ambruk.

makasih buat sandi firly atas judulnya

Iklan

7 Tanggapan to “Mencari Jejak Relung Ibu”

  1. wahyu am said

    nice story 🙂

  2. Cerita yang bagus

  3. eoin said

    bisa menjadi bahan renungan…

  4. warm said

    jalan cerita yg mengerikan

  5. hafidza said

    Assalamu’alaikum
    lama tidak bersua
    kunjungi blog saya
    semoga masih ingat saya
    peace…

  6. Rony said

    ceritanya bagus and mengerikan, (kunjungi blog saya ya…) he,he……..

  7. suzann90 said

    sebuah cerita tanpa judul
    hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: