The Doctor

7 Januari 2009

vr“What if I had never tried it” sebuah kalimat yang terukir disebuah cover buku yang baru saja aku tutup lembar terakhirnya. Sebuah buku otobiografi dari seorang Valentino Rossi. Buku yang mungkin cukup lawas namun baru kali ini benar-benar selesai kubaca.Yah, aku memang penggemar olah raga kecepatan, khususnya Moto GP. Entahlah, mungkin kalian pernah merasa suka akan suatu hal, namun tak pernah tahu mengapa, itulah yang aku rasakan terhadap olah raga dan seorang Valentiono Rossi. Aku menyenangi motor-motorny mereka yang cantik, menyukai cara mereka melalui sirkuit-sirkuit penuh seni, dan cara mereka membuat sebuah olah raga menjadi hiburan yang disukai banyak orang. I lof MotoGP.

Banyak hal dan kisah yang menarik ditawarkan buku ini. Mungkin memang hanya dari sudut pandang Rossi sendiri, namun tak mengurangi asiknya cerita yang dihadirkan. Sejak VR kecil sampai menjadi seperti sekarang, yah, sebagai seorang anak muda ia punya lebih dari yang biasa pemuda lain impikan. Namun sekali lahi ketika semuanya terlalu berlebihan, harta, wanita dan popularitas, maka hal itu akan berbalik menyerangmu. Setidaknya itulah yang pada akhirnya VR ungkapkan dibukunya. Ia terkadang merasa seperti burung dalam sangkar emas. VR tetaplah VR, ia tetap bisa membuat semuanya menyenangkan.

Cerita pertama saat kecil mungkin tidak jauh berbeda dengan masa kecil anak normal, hanya yang lebih aneh adalah ia lebih dahulu bisa menaiki motor berjenis minicross daripada bisa menaiki sepeda. Sepertinya ia memang mempunyai potensi yang luar biasa.

Memasuki masa remaja maka pembaca akan disuguhkan kenakalan-kenakalan yang VR lakukan bersama teman-temannya, kenakalan yang wajar sebenarnya namun karena ia VR, ceritanya menjadi menarik. Di arena pun ia tak luput dari sensasi, perseteruannya dengan beberapa pembalap, yang paling heboh adalah persaingannya dengan Max Biaggi. Cerita yang begitu seru dan kocak.

Sekarang Rossi telah melampaui mimpinya, ia cepat, agresif dan entertainer sejati. Ia mengoreksi batas kecepatan, dan mencipatakan tren baru. Aku selalu menyukai pembalap-pembalap agresif, yang selalu mencoba lebih cepat, daripada pembalap yang hanya menyerahkan semua hanya pada mesin motor mereka dan menunggu sesuatu terjadi. Vr membuktikan bahwa balapan bukan hanya soal mesin, namun merupakan kerja TIM. Ia membuat semua orang percaya, bahwa pembalap memerlukan hubungan emosinal dengan motor mereka agar dapat mengetahui kemampuan maksimal dari motor itu sendiri. Sensitivitas terhadap motor sangat penting.

Sebelum ada VR ketika seseorang memenangi balapan maka ia hanya akan merayakannya dengan keliling sirkuit dengan membawa bendera negaranya, selalu begitu, saja. Begitu membosankan. Namun Vale mengubah semua, ia melakukan akting dan atraksi yang menghibur serta sulit dilupakan, it’s vale.

2002,saat umurnya baru 23 tahun, ia telah meraih sukses yang belum pernah dilakukan siapapun, meraih semua gelar juara di segala kategori, 125cc, 250cc, 500cc, dan MotoGP.

Keputusan yang bakal diingat semua fans olahraga ini adalah saat ia memutuskan pindah dari tim Surga ke tim penuh masalah, dari Honda ke Yamaha. Tak ada yang yang kurang dari motor-motor honda saat itu, cepat dan sempurna, bahkan ada pameo yang beredar bahwa siapapun pembalapnya kalau memaki Honda, kemenangan adalah mutlak baginya. Vale tak menyukainya, ia menyukai tantangan, dan ke Yamahalah ia pergi. Tempat ia dihargai sebagai seorang pembalap, tempat ia merasa nyaman dan  dianggap keluarga oleh Timnya. Ia menyakini bahwa setiap pekerjaan tak perlu selalu mengerutkan kening, kita harus santai dan rileks untuk saat-saat tertentu.

Siapa yang tak berdebar ketika ada Vale bertanding, ia begitu unik, ia akan mempelajari lawannya terlebih dahulu, gaya balap lawan, kesalahan-kesalahan lawan dan yang paling heboh adalah ia akan melewati lawannya di saat-saat atau lap terakhir, dan ia menang. Ia adalah pembalap yang selalu belajar, tak pernah puas dan selalu ramah.

Mei 2005 ia mendapat sarjana kehormatan di Fakultas Sains Komunikasi dari Universitas Ubino Italia. Gelar ini makin memantapkan ia dengan julukan THE DOCTOR. Vale, ia seorang yang hebat…

Aku menyukai kecepatan, namun tak pernah terlalu cepat ketika di jalan, keep safety riding bro…

Jabat erat!

Iklan

11 Tanggapan to “The Doctor”

  1. soul said

    PERTAMAXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

  2. nia said

    aku yang ke-2 .. hiks ..

  3. said said

    ketigaxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

  4. alveean said

    soul, nia, said, langsung naek podium kayaknya…

  5. @all: komentnya ya olloooooh,,,

  6. hera said

    hihiiiiihii…. kalo di itung, berarti saya yang keeee….. 6..!!
    hiks… ga masuk lima besar 😦

  7. Zian X-Fly said

    Rossi dasar harat. Tapi mun balajuan lawan ku bisa aku nang manang.

  8. N~Dr4 said

    HIDUP MAHASISWA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!1

  9. wew…bisa naik motor sebelum bisa naik sepeda ?!! inspirasi yang hebad. soalnya saya ga bisa naik sepeda tapi pengen bisa naik motor. ahahhaa… :mrgreen:

  10. Kaka said

    tunggu pemenangnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: