Sinetron, Kenapa?

14 Oktober 2008

Televisi sekarang mulai tak bisa lagi dipisahkan dari kehidupan kita. Segala macam informasi dari seluruh dunia tersedia. Berbagai jenis hiburan juga membludak menyesaki chanel-chanel TV di rumah-rumah kita. Akhir-akhir ini ada sebuah fenomena menarik di salah satu TV swasta, yaitu dengan menampilkan tokoh anak kecil, bahkan teramat kecil, untuk membintangi sinetron-sinetron mereka.

Saya kurang setuju dengan fenomena seperti ini, apakah dunia keartisan di negeri ini sudah benar-benar langka? sehingga mesti ‘memanfaatkan’ anak-anak di bawah umur seperti itu untuk bekerja. Menjadi bintang sinetron bisa di artikan bekerja bukan. Anak-anak kecil yang begit sulit di arahkan bicara, begitu lucu, yang ‘seharusnya’ masih dalam tahap bermain di play group. Entahlah, mungkin tuntutan skenario atau memang kebutuhan industri mengharuskan rumah-rumah produksi itu untuk mempekerjakan anak-anak di bawah umur seperti itu. Tentu ketika kita membiacarakan hal ini tidak bisa terlepas dari tuntutan ekonomi. Orang tua mana yang tidak senang kalau anak mereka yang masih ‘hijau’ itu sudah dapat menghasilkan uang sendiri. Bukan tidak mungkin kata-kata bahwa yang menafkahi sebuah keluarga itu adalah orang tua mulai berbalik, karena pernghasilan si anak lebih besar dari penghasilan orang tuanya sendiri.

Kemudian ketika kita mengaitkan hal ini dengan masalah hak. hak anak sekecil tentu adalah bermain, bermain dengan dunia mereka sendiri. Dunia anak kecil yang sederhana namun imajinatif. Bukan direcoki dengan setumpuk jadwal syuting dan seabrek pekerjaan orang dewasa lainnya.

Kemudian jalan cerita yang di ambil juga sangat buruk. Pernah suatu episode ketika saya tak sengaja memperhatikannya, si anak kecil berpura-pura memakai kumis lalu menyamar sebagai guru di sebuah sekolah. Anehnya, satu sekolah percaya bahwa anak sekecil itu adalah seorang guru. Apakah sinetron harus menawarkn keboongan yang terlalu seperti itu. tentu anda pernah menyaksikan skenario-skenario tidak logis lain di sinetron-sinetron lainnya. Apakah ini menandakan bahwa eksplorasi tema para sutradara dan timnya di negeri ini sudah sedemikian parah?

Ini hanya pendapat kok 😉

Iklan

18 Tanggapan to “Sinetron, Kenapa?”

  1. jah, sinetron indonesia. pembodohan masyarakat semua isinya. hwehe…

    (^_^)v

  2. benar sekali itu mas…
    bahkan sinetron bisa membuat anak2/remaja yang maih sekolah jadi malas belajar

  3. azkaa,, said

    itulah wym, kmaren lusa jg ga sengaja liat sinetron yg ada si Baim lg nyamar jd guru. pengen ganti tp adek sy yg umurnya 4 tahun seneng bgt sm Baim, jd nonton jg deh, hhe. dan itu sinetron paling ga masuk akal mnurut sy. fyuh. lha awym ngapain nonton bgituan?

  4. achiem said

    Ga tau juga nih, bener aja jadi pembodohan publik cuma………………………………………….!!!!!!!orang2 pada suka, kan para PH ngebuat yg disukainma pasar…………katanya sih kalo sine yg berkulaitas susah dipahamin…!!!!katanya juga sih susah laku dipasaran…!!so jadi deh sine yg dipaksakan tapi…laku….

  5. yudhi14 said

    sinetron
    isi nya bokis doang
    bosenin pembodohan publik abis, gak bermutu

  6. sandi said

    yeah, begitulah…
    sudah (rakyatnya) miskin, dibodohin pula.
    kapan majunya negeri ini?

  7. carbonized said

    setujjjuuu…
    sinetron bodoh…
    sutradaranya bodoh… (kalau pinter pasti sudah bikin film)
    yanh ninton…., eh, kamu nonton juga ya wym?
    ▼yang lagi rame sinetron apa wym?▼

  8. Ah, males koment

    *lagi nonton sinetron berdubbing di Indosiar*

  9. nia said

    aku sering sakit kepala sendiri liat sinetron .. kecuali pass ada soundtrack lagunya yang keren .. xixixixixixi, untuk awym .. kalau nonton sinteron jgn lupa belajar yaaa

  10. awym said

    @fariijs: Setuja -kakaknya setuju- -_-

    @noval: yup, bukan hanya remaja, yang tua juga terkadang jadi malas bekerja

    @azkaa: nah pas banget kak, saya juga pas liwat liat yang episod ntu. ga masuk akal banget kan… saya ga nonton, cuman ga sengaja tertonton

    @achiem: memang kalu mengutamakan laba alias keuntungan emang ga ada habisnya *puyeng sendiri*

    @yudhi14: muanteb

    @sandi: kapan-kapan bang *ditimpuk*

    @carbon: jah, ini lagi. aku ga nonton kubilang, cuman TERtonton. hehehe

    @mansup: sudah kutebak sup, kamu nonton sambil nari-nari kan???

    @nia: saya juga ga suka nonton, belajar tetap nomor dua setelah hobi *inget-inget pesan carbon*

  11. anna said

    Ga suka nonton sinetron. Semua ceritanya sama. Dan selalu ada peran anak2 didalamnya… Aneh aja, judulnya tentang cinta2an tapi yang men anak-anak…emang mereka ngerti?? atokah mereka sedang mengajari anak-anak untuk lebih cepat mengenal masalah cinta??? Ga banget deh kalo itu benar.. **ups sorry, saya sedikit emosi 😀 **

  12. awym said

    @anna: iyah, bener kak… mereka akan dididik dewasa lebih cepat dari umurnya dengan bermain sinetron, tidak terkecuali yang menontonnya…

  13. dEEt said

    Klo sntron yg ada ank kcl-a gtu, apalgi yg nmplin baim dt suka nton tu..
    Sbnr-a crta-a kdg sngt gx logis, tp fun bkin ktwa..
    Nton sntron tipe bgni, diambil lucu-a aja deh.. :mrgreen:

  14. hera said

    iya wym,,, setoeeedjoooh dc…! dukung anti eksploitasi anak2…!! (halah……..)
    #tapi q jg lagi ngikutin sinetronna aqso & madina neeh….gara2 kesengsem ma Dude,,heheheh:) #

    @mansup: hihihi…ternyata oh ternyata…penggemar film india indonesia itu/???? sinetronnya ibu-ibu tuh…. ibu saya kemarin ngkiutin sinetrn jihan 😦

  15. awym said

    @hera: makasih her, kamu udah nonton saya *ngerasa jadi dude*
    wakakakakak *ditimpuk sendal*

  16. weibullgamma said

    ngomong aja blom lancar dah disuruh nyari duit,,,

  17. To mansup, koq tau kalo ibumu lagi nonton sinetro bearti dirimu ikut nonotn juga diibelakang beliaukan

    To Awym, kita doakan saja biar cita2 awim jadi artis bisa disalurkan

  18. @ weib: bener, jadi belajar ngomong dulu, baru belajar duit…

    @ Soul : AMIN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: