Aku, dan pesan dalam film laskar pelangi

26 September 2008

anak-anak didikan alam

anak-anak didikan alam

Inspiratif. Film laskar pelangi memang benar-benar membawakan ‘sesuatu’ dengan begitu baik. Film ini dikemas apik dengan kesederhanaan serta keakraban terhadap lingkungan yang jauh dari film-film kebanyakan. Jujur, saya belum selesai membaca novelnya sendiri. Namun setelah mendengar film itu berada dalam genggaman Riri Riza dan timnya, maka tidak ada kata lain bahwa saya harus menyaksikannya. Sebuah film dari sineas muda penuh bakat yang sejak film pertamanya diputar sudah memikat hati saya. Riri riza menurut saya adalah sebuah jaminan mutu yang tidak bisa terelakkan.
Sejak awal film anda akan benar-benar disuguhkan setting kota belitung tahun 1974 yang benar-benar apik. Kemampuan Riri seperti yang pernah ia keluarkan dalam film Gie kembali terbukti, membawa ke-bahari-an benar-benar tidak mudah. Perlu kecerdasan untuk melakukakannya, dan untuk film secerdas laskar pelangi maka saya angkat topi terhadap setting yang dibangun dari awal.
Alur yang dibangun juga terasa jernih, anda tidak perlu membaca novelnya dulu untuk memahami film ini secara menyeluruh. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul akan terjawab bersama mengalirnya film. Kejutan-kejutan hasil interpretasi Riri yang sebetulnya tidak ada dalam novel terasa tidak menjadi pengganggu jalannya imajinasi pembaca.
Mengenai para ‘laskar’ yang tidak berpredikat artis maka saya begitu terpikat dengan mereka. Anak-anak desa hasil didikan alam yang memang punya keelokkan cara berpikir dan bertindak. Akting yang benar-benar alami dan kuat.
Kesemua itu tidak melupakan hal yang paling penting, bahwa setiap film adalah pembawa pesan dan pelajaran. Ada begitu banyak falsafah kehidupan yang  coba disemaikan dalam film ini, secara pribadi saya tak malu mengakui bahwa film ini merenyuhkan hati dan membuat kita berfikir ulang mengenai apa-apa yang telah kita perbuat.
Beberapa pesan yang terasa begitu didedahkan ke kepala saya adalah ‘Belajarlah untuk lebih banyak memberi, daripada terus mengharap menerima dan diberi saja’. Banyak orang yang lupa akan kata-kata ini, lebih tepat melupakannya.
Kemudian ada sebuah fragmen yang mengajarkan kita bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah masalah moral dan hati. Tidak ada artinya nilai-nilai yang bertabur puja dan puji, namun tanpa pagar moral dan akhlak yang sepadan. Termasuk di dalam sini bahwa tidak semua pekerjaan, tingkat keberhasilannya dapat diukur dengan materi serta harta. Banyak pekerjaan yang memberi kepuasan batin dan rasa nyaman terhadap pelakunya. Kita kembali diingatkan bahwa harta bukan segalanya, tidak selamanya kebahagiaan serta tawa ceria dapat dibeli.
Jangan pernah menyerah, pesan ini juga begitu kuat mengakar dalam film ini. Jangan pernah merasa kalah, atau lelah bermimpi dan bercita-cita. Kita wajib berusaha meskipun pada akhirnya semua bukan kita yang menentukan.
Suasana kental kesederhanaan, berapa banyak sih film Indonesia yang tidak menampilkan kemewahan dan modernisme. Hampir semua film menawarkan hedonisme yang tentu akan diserap penonton film-film tersebut secara gamblang.
Pesan-pesan film ini benar-benar kena, apalagi scene akhir ada tampilan UUD pendidikan yang tentu saja menyentil kuping para petinggi kita bahwa pendidikan adalah penting, sangat penting.
Terlalu muluk-muluk memang, namun setelah menonton film ini ada semangat baru yang melindap-lindap dalam diri. Banyak sekali pesan yang tumpah dan perlu kita tadah dalam hati masing-masing.
Seperti ibu muslimah, bahwa memang impian kami sama. Menjadi guru, dan itu sebuah pekerjaan yang memerlukan dedikasi yang pengorbanan luar biasa. Semoga dengan menjadi guru nantinya, akan lahir lintang, ikal, serta laskar-laskar pelangi yang baru, yang memanggul masa depan negeri ini ke cahaya kebangkitan.
Film ini harus ditonton keluarga indonesia, karena terlalu sayang untuk dilewatkan. Film yang ‘bagus’.

*Buat mas Afri yang aseli orang belitong, kapan-kapan ajak saya kesana yah, karena di film itu belitong begitu indah

Iklan

15 Tanggapan to “Aku, dan pesan dalam film laskar pelangi”

  1. Beh, bedahulu sidin ae… Bujuran kada mau kopdar lagi kah? Trauma? :mrgreen:

  2. Agushw said

    Bukannya trauma…tapi takut dipegang-pegang digekelapan ruang bioskop??

  3. sandi said

    semoga kau nanti jadi guru yang baik, wym.
    oya, aku pernah berpikir untuk jadi guru, dan kepada muridku yang tidak pernah bolos akan aku persilakan bolos. biar dia punya pengalaman bolos, meski sehari… (ini pesannya dalam, wym, hehee…)

  4. SHALEH said

    Wahh
    udah nonton ya

  5. sandii said

    Bagus filmnya tau novelnya wym???

  6. Bagusan auk kalo jadi aktornya

  7. Laskar Pelangi or Rainbow Warrior ???? kaya nama menu di salah satu tempat KopDar yang dulu

  8. aq lom tamat novelnya…..

    free mp3 download:
    http://freeforus.co.cc

  9. Rindu said

    saya ingin menjadi ibu Muslimah ….

  10. azkaa,, said

    awym.. aku juga udah bikin reviewnya.. hheu.. ^^

  11. pesannya apa sih wym, udah nontonkah

  12. taufik79 said

    Semoga ini menjadi titik balik para pembuat film dan sineas Indonesia. Saya udah bosen dengan tema-tema sampah, hantu, porno dan cinta ga jelas. Belajarlah dari sini!

    Film ini wajib ditonton pejabat-pejabat dan pemimpin-pemimpin dibangsa ini, yang sudah mengeksplorasi kekayaan alam Indonesia seperti yang dilakukan PT Timah di belitung, tapi tidak mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat sekitarnya.

    Terutama pejabat-pejabat yang diamanahi untuk mengurusi pendidikan bangsa ini, untuk lebih sensitive terhadap kondisi pendidikan di bangsa ini. Diknas seharusnya memberikan penghargaan dan apresiasi setinggi-tingginya untuk Ibu Muslimah, guru laskar pelangi di belitung, dan ibu muslimah lainnya di seluruh pelosok negeri ini, yang aku yakin masih ada ditengah bangsa yang semakin hedon ini.

  13. Rizky said

    Emm… Aku tertarik dengan film ne,,, Ada bagian yang menginspirasi… Kalo kita bikin film tentang anak2 di pedalaman kal-sel gimana? Ada yang berminat…

  14. weibullgamma said

    Klo ngajak sih, dah lumayan sering tuuuh…klo mo kesini bilang2 saja..temen2 saya di SMA juga banyak tuh yang bawa temennya ke sini (belitong-red..)…
    saya mau ngereview juga…sayang sekali…di Belitong TIDAK ADA Bioskop lagi…..baru bisa nonton nanti klo sudah balik ke Bogor..
    tapi, lumayanlah,..saya sempat bekunjung saat lebaran hari kedua ke rumah pemeran Sahara yang ternyata adik teman seangkatan saya yang kuliah di Bogor juga,…
    sempat berbincang2 dengan Mamanya Sahara, Papanya Trapani..
    Ke Pantai tanjong tinggi (yang merupakan setting laskar pelangi yang ada batu2 granit besar,…)..sempat foto2 juga disana, makan ikan bakar+tumis kangkung, maen air (tapi ga mandi karena ramee..),…
    pengennya nulis di Blog…mungkin pada lain kesempatan…

  15. rexi said

    wahhh jadi pingin kebelitong ne…….pingin tau napak tilasnya anak2 laskar pelangi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: