Perempuan Kedai Kopi

8 September 2008

sebuah karya sederhana, jauh dari bagus dan tataran sempura. Tidak ada harap yang berlebih selain agar bangunan kata-kata ini dapat menyulut api semangat untuk terus belajar menulis.

Terima kasih kepada ruMahCerita dan Book Cafe, semuanya begitu berharga

Ilustrasi merangkap editor: Sandy firly
juga Harie Insani Putera

dimuat di Radar Banjarmasin edisi Minggu, 7 September 2008

Uap kopi hangat itu terbang ke udara, kemudian hilang dibawa embusan angin utara. Tidak ada kata pisah dan penyesalan, padahal uap itu membawa hawa panas yang membuat kopi terasa nikmat jika diseruput saat masih terasa bara. Ia duduk tak jauh dariku, hanya dipisahkan meja kecil dari kayu jati yang kusam menua. Namun tanpa banyak kata. Jarak sedekat itu serasa berubah jadi dinding tebal yang hampa mengurung rasa kami berdua. Di luar, hujan turun mendesah.

Kami bertemu secara tidak sengaja. Hujan sore yang terlampau menderu memaksa aku berteduh pada sebuah kedai kopi di taman kota. Setelah mengamati setiap sudut taman, mataku tertuju pada sebuah kursi kosong yang di depannya duduk seorang perempuan. Tak ada pilihan lain, di tengah hujan yang tak bisa tertahan segera aku menuju kursi itu dengan langkah dipercepat sebab hujan bertambah lebat.

Aku mengempaskan pantat di kursi yang kutuju setelah melepaskan diri dari jerat hujan. Duduk saja, sesekali melirik pada perempuan itu. “Manis,” lamat hatiku berbisik. Sadar ada orang lain duduk di depannya, perempuan itu tersenyum. Setelah itu ia kembali larut dengan lamunannya. Aku pun segan mengajaknya bicara, khawatir mengganggu khayalannya. Berkali-kali mataku tertarik menatap perempuan itu. Ia kelihatan begitu tenang. Bias wajahnya teduh, dalam pikiranku seketika terpikir bahwa akan sangat nyaman berselimut di dalamnya saat sedang kalut. Sesekali tangannya dengan lembut mengangkat cangkir kopi bermotif bunga yang kelihatannya masih menyimpan hangat. Ia menyeruputnya lalu kembali menenun angan-angan.

Sudah hampir lima menit aku duduk saja menunggu reda. Tak bisa kusangkal, aroma kopi yang begitu menggoda membuat hatiku tergerak untuk sekadar bertanya dan menyapa.

“Sudah lama?” aku mencoba memecahkan kesunyian di antara kami. Lama aku menunggu jawaban. Yang ada hanya diam.

“Sendirian saja?” aku memutar haluan dan terus mencoba.

Kali ini ia tersenyum dan mengangguk, sebuah jawaban yang tak begitu kuharapkan.

“Kulihat kau begitu meresapi kopimu, boleh aku tahu kopi apa yang enak di kedai ini? Aku baru kali ini singgah di tempat ini.”

“Kopi aroma,” jawabnya pendek tanpa melihat ke arahku.

Meski hanya kalimat pendek, tapi aku suka mendengar suaranya. Namun kemudian diam jadi jurang pemisah lagi. Aku pun segan bertanya lebih dalam ketika kuperhatikan ia hanya menjawab pertanyaanku tadi seadanya.

“Kopi aroma,” aku menyebutkan pesananku setengah berteriak agar tidak tertelan gemuruh hujan di luar sana. Pelayan separuh baya itu tersenyum, lantas berlalu masuk ke kedai kopi.

Menunggu kopi pesananku datang, aku coba lagi mengamati perempuan di depanku lebih lekat, lebih dekat. Umurnya kutaksir tak jauh berbeda denganku. Kulitnya sangat khas kota ini, coklat mutiara. Entah dari mana asalnya sebutan itu, namun begitulah sebutan di kota ini untuk kulit yang tidak putih juga tidak bisa dikatakan hitam, namun punya aura cahaya seperti kulit perempuan yang duduk bergelut dengan diam ini. Tak peduli orang-orang yang berada dekat dengannya, yang mungkin saja tertarik menyelami jiwanya, terhisap untuk masuk dan membaca hidupnya. Atau mungkin saja sama penasarannya seperti hatiku saat ini.

Hujan tetap turun tanpa bisa ditebak kapan ia lelah dan berhenti membasuh tanah. Sesekali kilat dan guntur berkejaran. Hari bertambah gelap. Aku mulai jengah dengan semua sunyi yang nampaknya kalau tidak segera diakhiri. Mungkin aku akan pulang dengan beribu pertanyaan yang akan membakar diriku sendiri. Pertanyaan tentang perempuan yang tampak tak terpengaruh dengan kehadiranku.

“Sering ke sini?” aku memberanikan diri membuka pembicaraan yang dalam beberapa detik segera aku ketahui hasilnya nihil. Namun sebagai lelaki aku merasakan sebuah tantangan untuk mengenalnya. Barangkali terjal, berbatu, namun itu membuat gelora laki-lakiku menyala, terbakar. Naluri yang memang sedari dulu menyenangi sesuatu yang tidak mudah untuk dicapai, naluri itu mengelegak dan membara. Satu hal yang membuat aku nampaknya memang harus maju beberapa langkah untuk lebih dekat kepadanya. Meresapi wajahnya yang tampak berbeda, entah dalam hal apa.

“Silakan tuan,” pelayan kedai kopi datang dengan nampan kayu kecil berisi secangkir kopi yang aromanya begitu menggoda. Terbayang nikmatnya bisa dikecap dari pekatnya warna.

Aku angkat piring kecil yang mewadahi cangkir kopi, menghirup aromanya yang sejenak memang memberikan ketenangan. Kopi ini mungkin punya candu yang mampu mengistirahatkan sejenak putaran otak. Setelah menyeruput kopi yang masih teramat panas, perlahan aku merasakan sebuah cita rasa kopi yang benar-benar berbeda. Belum pernah aku merasakan kopi senikmat ini. Pantas perempuan ini terlihat begitu menikmati kopinya. Penuh perasaan.

Hujan mulai reda. Tetes-tetes air terlihat malas turun ke bumi. Gemuruh perlahan luruh, menyingkir jauh. Perempuan itu masih termangu. Aku mulai sadar belum cukup punya jarak dalam mengambil langkah, setidaknya mencoba mencari celah mendapatkan namanya. Ia masih saja melamun, sesekali melirik dan memastikan apakah hujan memang benar-benar reda atau masih bersisa.

“Baru kali ini aku melihatmu di kota ini, kamu berasal dari sini?” aku mencoba peruntungan lagi.

“Iya,” perempuan itu menjawab sekenanya, masih saja menengadahkan kepalanya ke langit untuk memastikan awan hitam beranjak dari langit di atasnya.

“Sering ngopi di sini?’ aku terus mengejar.

“Tidak juga,” meskipun ia berhenti melihat ke langit namun kali ini ia menjawab dengan tatapan kosong. Tetap tak melihat ke arahku.

Otakku tak berhenti mengais-ngais cara. Kadang aku mengalihkan perhatian dengan meresapi rembesan air yang jatuh setitik-setitik dari atap kedai kopi ini.

“Selamat tinggal,” kata-kata yang kutakuti itu akhirnya tak dapat kucegah juga. Tubuhku beku beberapa saat. Perempuan itu menyeruput sisa kopinya yang terakhir. Ia beranjak dari kursinya.

“Boleh aku tahu namamu, alamatmu, atau nomor yang bisa kuhubungi untuk sekedar bersilaturahmi denganmu?” aku memberondongnya dengan pertanyaan sebagai usaha terakhir untuk mengetahui identitasnya.

“Mungkin lain kali, kalau kita bertemu lagi,” jawabnya datar sambil memoles senyum di bibirnya yang tipis. Setelah meletakkan sejumlah uang di samping cangkir kopinya yang tandas, ia berlalu. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Padahal hujan tak sepenuhnya reda, namun ia berjalan sedikit cepat ke arah jalan utama. Seperti disergap kabut sisa hujan, ia hilang dari tatapan mataku. Tenggelam bersama harapanku untuk mengenal dirinya lebih dari kali ini.

Aku duduk terdiam, sesekali memperhatikan uap kopi yang mulai dingin, sedingin hatiku saat ini.

“Saya perhatikan, sepertinya tuan tertarik dengannya,” pelayan setengah baya datang membuyarkan lamunanku terhadap kopi dengan tikaman pertanyaan yang tak mampu aku jawab. Pelayan itu tiba-tiba saja berdiri di samping kursi tempatku duduk.

“Bukan tuan saja, cukup banyak pengunjung kedai saya yang ingin mengenalnya setelah melihat atau bertemu dengannya di sini,” kata-kata pelayan itu meluncur deras, sebuah kenyataan yang tidak terlalu menggetarkanku sebenarnya. Laki-laki mana yang tidak tertarik dengan perempuan seindah itu, paling tidak untuk sekadar mengenalnya.

“Namun tadi tuan sudah cukup beruntung.”

Keningku berkerut mendengar kata-kata pelayan itu. “Apa maksud Anda dengan sebutan beruntung? Saya kurang mengerti.”

“Ya, tuan beruntung bisa duduk sedekat itu dengan perempuan tadi. Selama ini saya tak pernah melihat ada yang bisa duduk bersamanya. Tuan harus bersyukur, mungkin karena hujan lebat tadi tuan bisa duduk bersamanya. Saya perhatikan ia biasanya langsung beranjak pergi ketika ada yang coba mendekatinya.”

“Sepertinya Anda mengetahui tentang perempuan.”

“Sebenarnya tidak. Saya hanya tahu sedikit kebiasaannya di kedai kopi saya ini. Ia sering datang pada waktu yang sama, memesan kopi yang sama, dan pergi pada waktu yang sama.”

“Apa mungkin saya akan bertemu dengannya lagi?”

“Teruslah berharap. Coba saja datang pada waktu yang sama seperti sekarang, mungkin tuan bisa bertemu lagi dengannya,” pelayan itu nampaknya ingin mengobati kekecewaan yang kurasakan.

“Boleh tahu, bagaimana kopi yang saya dan perempuan minum tadi dibuat?”

“Ya, tentu saja. Kopi yang tuan dan perempuan tadi minum mempunyai keunikan pada biji kopi yang digunakan. Biji kopi tersebut disimpan bertahun-tahun sebelum akhirnya digiling. Antara lima sampai delapan tahun. Penyimpanan tersebut juga menurunkan kadar asam pada setiap biji kopi sehingga aman diminum bagi mereka yang bermasalah dengan lambung. Jadi, kopi itu dibuat dengan proses panjang untuk mendapatkan cita rasa lekat dan nikmat,” pelayan itu bercerita dengan sabar dan menyenangkan.

Setelah membayar sejumlah uang kepada pelayan itu, aku menuju jalan pulang dengan tergesa. Hari telah gelap. Segala pertanyaan tentang perempuan itu kubiarkan mengendap.

Sejak saat itu aku mencoba membuktikan kebenaran ucapan pelayan kedai kopi. Pada waktu yang sama, aku selalu datang ke kedai kopi dan berharap menemukan perempuan itu duduk di sana. Entah mengapa ada rasa yang menggebu, sebuah rasa yang tak punya padanannya dalam kosakata. Aku begitu ingin mengenalnya. Walau hanya duduk-duduk saja dan menikmati kopi bersama.

***

Hari yang sama setelah satu minggu di kedai kopi. Seorang perempuan yang kukenal tak lebih dari setengah jam membuat bekas wajahnya begitu lekat dalam ingatanku. Kata-katanya yang tak seberapa begitu dalam merasuki jiwaku. Kenapa ia tak kunjung datang? Aku menunggu, terus menunggu.

Sama seperti minggu-minggu berikutnya, kulalui dengan perasaan bertanya. Berminggu-minggu aku mempercayai kata-kata sang pelayan bahwa perempuan itu akan datang. Atau lebih tepat perempuan itu mungkin saja datang pada putaran waktu yang sama ketika kami bertemu. Aku mulai bosan dengan ketidakpastian karena perempuan itu tak juga kunjung datang. Padahal waktu telah berbilang bulan berlalu.

***

Kini, aku telah menemukannya duduk di kedai kopi. Sendiri. Tepat, di saat hujan seperti pertemuan kami dulu.. Lamunanku terhadap uap kopi perlahan kuusir jauh-jauh. Kutatap wajah ovalnya. Ia tersenyum, namun sesaat kembali larut dengan lamunannya. Sikapnya tak berubah, sama seperti pertama kami bertemu.

“Akhirnya kita bertemu lagi,” aku membuka perkataan.

Ia hanya diam, aku sepertinya tak terlalu berarti di matanya.

“Sepertinya Anda begitu menyenangi kopi di tempat ini. Memang, kopinya berbeda, cita rasa yang nyaman,” aku memancingnya.

“Ya, kopi inilah yang membuatku benar-benar merasa harus ke sini sekadar mengistirahatkan penat,” ia memandangku sambil tersenyum. Cukup lama aku memandang senyumnya dan bisa kurasakan ada seribu cerita di sana.

“Kota ini tak terlalu luas, kau berasal dari daerah mana?”

Lama kami saling diam. Sementara hujan sepertinya tak lama lagi akan mereda. Aku sadar waktuku semakin sempit saja.

Benar saja, ia berdiri, tersenyum, lantas meletakkan uang di meja dan bersiap berlalu.

Otakku berpikir cepat dan sekejap tanganku sudah memengang erat tangannya. Aku menatap matanya yang saat bersamaan juga menatap heran kepadaku.

“Aku ingin mengenalmu,” kata-kata itu meluncur tanpa bisa aku tahan. Pelan tanganku melepaskan tangannya. Ia berdiri terdiam. Kami bertatapan sejenak. Hujan sudah reda beberapa detik lalu.

“Maaf, saya harus pergi.”

Mendengar perkataanya aku merasa bahwa lorong gelap yang aku lalui selama ini untuk mengenal perempuan itu masih teramat panjang, aku pun sangsi apa di ujung lorong itu masih ada cahaya terang. Aku terdiam. Kami terdiam.

Namun ia sepertinya bisa merasakan apa yang kurasa, terbaca dari air mukaku yang turut berubah seiring meluncurnya kata-kata pisah darinya.

“Minggu depan kalau ada waktu silakan temui aku di sini. Tepat pada waktu yang sama.”

Kata-kata itu memberikan sedikit cahaya dalam harapanku yang kian redup. Aku tersenyum. Ia terus berlalu, menjauh dan hilang di persimpangan ujung jalan.

Hari ini aku pulang dengan membawa setangkup harapan bahwa pertemuan berikutnya semua usahaku untuk mengenalnya akan terjawab. Tak sabar aku menunggu hari itu. Aku terus menyimpan harapan pada pertemuan kami nanti.

***

Hari ini, sebuah patahan waktu dimana ada janji yang ingin kudatangi. Sebuah janji yang membuat hati terus menyala. Agak berbeda, hari ini tak ada hujan. Aku sadar, aku tak perlu merasa bahwa keberuntungan serta kedekatanku dengan perempuan itu hanya karena hujan. Aku percaya, tanpa hujan ia akan datang.

Aku duduk pada taman kota dan memesan kopi yang sama. Aku memintal-mintal harapan, menunggunya kehadirannya sambil mereka-reka apa yang akan kami lakukan nantinya jika sudah bersama.

Senja sudah menghiasi cakrawala, hatiku semakin buram. Apakah ia akan menepati janjinya? Sebuah pertanyaan yang terus merajam.

“Ia tak akan datang,” pelayan kedai kopi tiba-tiba saja berdiri di sampingku.

“Kenapa? Ia sudah berjanji kepadaku?”

“Ia sudah lebih dulu datang sebelum tuan tiba di sini. Ia menitipkan pesan agar jangan menunggunya.”

Aku menahan sesak di dadaku. “Ia menjanjikanku sebuah jawaban hari ini,” aku berucap lemah. Jiwaku terasa lelah mengejar bayang-bayang.

“Mengenai janjinya, perempuan itu hanya mengatakan agar tuan meresapi kopi aroma kesukaanya. Mungkin pada kopi itu ada sesutau yang hendak disampaikannya kepada tuan.”

Mendadak mataku serasa dipaksa untuk menatap cangkir kopi yang tergeletak di hadapanku. Kembali aku mengamati cangkir kopi sederhana yang menyisakan pekat, seperti kalut dalam hatiku saat ini. Harapanku pupus untuk mengenalnya. Penatku terbalas tanda tanya. kenapa ia tak mau menjumpaiku?

Uap kopi tak lagi terbang ke udara. Kopi aroma itu kubiarkan saja. Pikiranku melayang, apa yang tak bisa dibaginya denganku? Apa yang ia sembunyikan? Banyak pertanyaan yang tak bisa kuterka jawabnya. Hitam, apa yang hitam sebenarnya? Hidupnya kah, masa lalunya, kenangannya, semuanya masih berupa kemungkinan. Aku merasa lelah mengira-ngira. Pahit, apa yang pahit? Jalan hidupnya kah? Atau, ah sudahlah. Aku merasa perlu merenungi semua lebih jauh lain kali, yang pasti tidak sekarang dan tidak di tempat ini.

Setelah meletakkan uang di samping cangkir kopi, aku beranjak meninggalkan kedai itu. “Ah, andai kau tidak pergi, meskipun kau kopi, aku bisa jadi gula dalam hitam dan pekatnya kehidupanmu,” gumamku seolah-olah kepada senja yang kian melindap.

Aku berjalan menjauhi kedai kopi yang perlahan jadi asing bagiku, semakin jauh semakin kabur dan berkabut.[]

Larut malam, 08/08

Iklan

21 Tanggapan to “Perempuan Kedai Kopi”

  1. aihh banyak sekali blogger yg cerpenis.. serasa nikmatnya mebaca cerpen ini sambil minum kopi… uupsssss

    saya baru belajar, baru sekali….

  2. harie said

    ehem…makan-makan…

    hehehe… kita bicarakan nanti!

  3. Irfan said

    Pesen kopi satu bang, gula nya sedikit aja ya ….

    yup, tunggu… air panasnya belum mateng!

  4. Arm said

    oh cerpen toh (lemot mode : ON 😛 )
    cewe itu berkulit coffee cream, mirip2 latino gitu kali ya? 😀
    jadi inget filosofi kopi-nya Dee, kopi itu punya sisi hitam yg pahit juga seperti halnya kehidupan 🙂

    saya malah baca filosofi kopi baru kemarin, setelah bikin ni cerpen 🙂

  5. duestinae89 said

    cerpennya bagus banget….cuma mw nitip pesan, “jika sudah di atas jangan lupa menunduk ke bawah, dan jika sudah berlari terlalu jauh, jangan lupa untuk menoleh kebelakang”

    c u cebong !!!

    selalu lun inget apa pesan pian…

  6. weibullgamma said

    bagus…..klo saya jadi bu Rukmini (guru bahasa Indonesia waktu SMA) sudah saya kasih A+ dan saya ajak pelatihan menulis cerpen di hari sabtu…
    sayang..nilai saya ga nyampe segitu, ….he he he….

    makasih, terlalu berlebihan… hehehe

  7. blackberry818 said

    cerpennya bagus banget…
    hujan dan aroma kopi memang pasangan yang sempurna, ditambah dengan cerita cinta pendek tentang seseorang yang masih memburam

    iyah, hujan memang memberikan ketakjuban bagi mereka-meraka yang mau susah-susah merenung…

  8. Sarah Luna said

    Walau saya gak suka kopi.. Tapi kyknya seru juga tuh ceritanya… Berasa… hehehe…
    Di angkat dari kisah nyata ya??. he..

    kisah nyata… bukan kak, hehehe…

  9. ceritanya mengalir layaknya suruput kopi anget… ehmm 🙂
    keren ceritanya, maknyuss kopinya

    ayo kita minum kopi sambil ngobrol, hehehe *lupa klo g puasa* :mrgreen:

  10. shin asakura said

    selamat atas masuknya cerpenmu di radar banjar. semoga ini bukan karya mu yang ter akhir.
    maju terus sastra indonesia!
    tabik

    makasih…
    yayayaya. semoga… he…

  11. Elys Welt said

    sayang saya bukan penggemar kopi 🙂 jadi mbaca ceritanya sambil nyerutup teh saja 😀

  12. tambah lagi kopinya bang?

  13. bagus nieh mas ceritanya…….
    kunjng balik ya…

  14. azkaa,, said

    waaa awym, cerpennya menutur indah.. sayang di hari terakhir itu ga ada hujan ya, meskipun belum tentu ada kaitannya, hujan bisa bikin suasana lebih gimanaa gitu.. bukan pengalaman pribadi kan wym? hehe..

  15. sandi said

    Melihat sidebar.. wah aku masuk daftar klik tertinggi ahhahaha..
    tadi aku baru download2 video karaoke youtube. trus ngelihat video gareth gates. pikirku mirip siapa ya si gareth nih.. oh baru nyadar.. MIRIP AWYMM. ahhahahaa (sumpe deh).
    Katakanlah, gareth versi kulit putih, awym versi eksotisnya hahahahahha
    Panjang abnget artikel diatas ya.. terlalu boros bila dibaca di warnet. Jadi kusave dulu, baca di rumah…

  16. sandi said

    Melihat sidebar.. wah aku masuk salah satu daftar klik tertinggi ahhahaha..
    tadi aku baru download2 video karaoke youtube. trus ngelihat video gareth gates. pikirku mirip siapa ya si gareth nih.. oh baru nyadar.. MIRIP AWYMM ahhahahaa (sumpe deh bow).
    Katakanlah, gareth versi kulit putih, awym versi eksotisnya hahahahahha
    Eni-eni-eniwei.. Panjang banget artikel diatas ya.. terlalu boros bila dibaca di warnet. Jadi kusave dulu, trus baca deh di rumah…
    thanks…

  17. sandi said

    wah kirain komen pertama diatas gak masuk. yah jadi dobel dah

  18. foto imak kada diganti juakah lagi….kaya pose wanita aja……..
    coba pank befoto pose kaya laki2

  19. to SANDI
    foto imak kada diganti juakah lagi….kaya pose wanita aja……..
    coba pank befoto pose kaya laki2

  20. abah_ahim said

    Keprok…keprok buat awym!!!!bagus banget…,buat abah melayang kesepuluh tahun silam gt deh…

  21. imi surya putera said

    Bagus cerpennya, nyaman dibaca alur kisahnya, naratif ujar urang nang mirip bakantan (bule maksudku). Bailang pang ke pondokku di http://www.imisuryaputera.co.cc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: