PENDIDIKAN KEKERASAN

2 Juli 2008

Siapa yang tidak sesak, melihat manusia memukuli sesama manusia, bukankah kita tercipta bersaudara, untuk saling berbagi dan saling jaga. Sekarang kita harus kembali terluka melihat kebodohan segelintir anak bangsa. Ya! Kekerasan di STIP Jakarta yang berujung kematian setidaknya merupakan bukti paling terakhir bahwa ada yang benar-benar salah dibeberapa sendi pendidikan kita.

Marah, geram, sedih, kecewa adalah perasaan manusiawi yang muncul ketika melihat mereka tertawa dan nampak bahagia ketika memukuli dan menyakiti sesamanya, mereka yang dipukuli sepertinya sial karena terlahir telat atau terlambat masuk satu tahun dari para senior mereka. Agaknya tidak ada efek jera setelah kasus IPDN yang terungkap ke khalayak beberapa waktu lalu. Apakah untuk melahirkan orang yang kuat harus dengan cara kekerasan? Saya tidak habis pikir bagaimana negara ini ke depan ketika yang menjadi aparat keamanan atau penyelenggara pemerintahan adalah preman-preman bengis yang kehilangan hati dan nurani.

Mungkin mereka yang terlahir dari sistem kekerasan secara fisik akan kuat, namun secara psikis agaknya mereka sakit, benar-benar sakit. Kejiwaan dan pola pikir mereka agaknya perlu ditera ulang, apakah kadar kewarasan dan rasa mereka sebagai manusia masih ada atau sudah mulai tiada.

Apakah kultur bangsa kita adalah bangsa yang cinta kekerasan, saya kira tidak. Bukankah bangsa ini adalah bangsa yang cinta damai, menyelesaikan semua masalah dengan jalan musyawarah dan berkomunikasi. Atau budaya itu agaknya sudah mulai pudar dan terganti budaya feodal yang menjunjung tingi kekuatan dan kekuasaan, ironis sekali.

Hal ini tentu menjadi pemicu kekhawatiran di kalangan orang tua dan masyarakat biasa, tentu biaya yang tenaga yang mereka kucurkan tidak dikira berbuah perlakuan tidak manusiawi terhadap anak-anak mereka. Mereka yang masuk ke instansi tersebut pun mungkin tidak mengira bahwa niat menimba ilmu menjadi jalan menemui ajal.

Mungkin kekerasan perlahan menjadi budaya uang mulai mengakar, manusia mulai kehilangan hakikatnya. Siapa yang kuat itulah yang berkuasa, dan budaya dulu yang menganggap yang tua lebih dari yang muda sepertinya turut berpengaruh. Budaya diam ketika terjadi ketidakadilan masih kentara, saya tidak yakin bahwa kasus ini akan terungkap ke masyarakat kalau tidak ada korban dan tidak adanya berita di media-media. Kekerasan seperti ini kadang juga menjadi rahasia umun yang dimaklumi bersama, aneh. Masyarakat terkadang menutup mata dan perlahan menganggap biasa hal-hal seperti ini. Pantas saja budaya kekerasan seperti ini terus tumbuh dan mengakar kuat, karena ia tumbuh di lahan yang tepat. Ketidakpedulian.

Siapa yang harus kita salahkan atau dalam bahasa kerennya kita jadikan kambing hitam? Pemerintah. Sang penetap aturan dan pengawas dunia pendidikan yang agaknya tertidur pulas mesti kita bangunkan secepatnya. Tindakan tegas harusnya menjadi senjata yang ampuh bagi instansi-instansi penyelengara pendidikan yang berbuat nakal dan culas, bubarkan saja. Toh negara tidak akan rugi terlalu besar ketika sekolah para preman tersebut dibubarkan, lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Atau pemerintah ingin benar-benar menguji kesabaran masyarakat dengan tetap plin-plan dan takut mengambil keputusan.

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak lepas dari kontrol sosial atau kontrol masyarakat. Saya kira kekerasan itu terjadi karena lemahnya kontrol masyarakat, atau mungkin saja di dalam sistem pendidikan tersebut kontrol masyarakat dibatasi dan dihalang-halangi.

Ekslusifisme dalam dunia pendidikan kita sebaiknya tidak terlalu kentara, tentu sangat sulit melihat apa yang terjadi ketika pendidikan terjadi di dalam tembok tebal, dibatasi dari dunia luar. Asrama yang ketat, pelajaran khusus termasuk militerisme, dan pengawasan dari para pembimbing yang minim tentu menjadi sangat rentan terhadap tindakan-tindakan pengecut dan tidak berperikemanusiaan seperti yang kita lihat. Ingin berontak namun acaman dikeluarkan yang akut tentu membuat siapa saja enggan protes dan mengusik budaya main pukul yang terjadi turun-temurun tersebut.

Kekerasan tersebut mesti kita pahami sebagai sesuatu yang berantai, dan mungkin salah satu cara menghentikan semua itu adalah memutus rantai tersebut. Memutus rantai kekerasan bisa dilakukan oleh orang atau pihak yang mempunyai otoritas di lingkungan tersebut, pemerintah termasuk pihak yang mungkin punya kekuatan paling besar dalam konteks otoritas kali ini. Mungkin kalau kita hanya menunggu petinggi istansi pendidikan dimana terjadi kekerasan melakukan sesuatu maka mungkin nihil hasilnya, logikanya pendidikan ekslusif seperti STIP, STPDN atau yang berjenis kelamin sama menghasilkan banyak uang, mana mungkin mereka melakukan sesuatu yang menghentikan mesin uang mereka, kalaupun ada tindakan mungkin hanya bersifat temporer dan semu.

Pendidikan macam apa yang mengakibatkan kematian? Pertanyaan yang pantas ditujukan kepada pemerintah, bukan hanya kekerasan yang menghasilkan kematian. Jangan kaget jika di Negara kita banyak yang memilih ajal daripada menerima kenyataan bahwa mereka tidak lulus UN. UN mungkin seleksi alam yang nyata di dunia pendidikan kita, yang sempurna bias lolos namun yang tidak dan masih menuju kesempurnaan disingkirkan, dianggap bukan anak bangsa yang bisa melanjutkan mimpi dan jenjang pendidikan yang adalah haknya. Semuanya karena mereka tidak bisa sempurna di dalam 3 hari yang sakral, ironis.

Kekerasan di dunia pendidikan harus dihentikan kalau tidak mau bangsa ini akan diteruskan oleh orang-orang yang kehilangan moral dan nurani. Geng anak muda yang suka melakukan kekerasan, tawuran pelajar, debat anggota rakyat yang akhirnya diakhiri bentrokan fisik, kampanye berdarah, serta banyak lagi contoh kegiatan tidak cerdas yang mungkin dikarenakan pendidikan yang mereka dapatkan selagi di sekolah adalah pendidikan kekerasan.

Kekerasan mungkin bukan hanya fisik, kekerasan bertaraf mental akan lebih membekas dalam ingatan jika memang dalam melukai. Kekerasan-kekerasan macam inilah yang mesti dihindari, apalagi dalam tahap awal mengecap pendidikan semisal di taman kanak-kanak maupun sekolah dasar.

Kompleks memang apa yang Negara ini hadapi, kekerasan yang terjadi memang hanya sebagian akumulasi dari ketidakberesan dunia pendidikan kita. Semoga pemerinah sebagai pemegang palu keputusan tidak lagi salah langkah dalam menetapkan kebijakan-kebijakan khusunya dalam bidang pendidikan, tidak perlu lagi ada kekerasa dalam dunia pendidikan kita, sudah cukup sebenarnya kalau kita mau belajar dari pengalaman.

Semoga akan ada solusi yang tepat dan cepat sekaligus mencerdaskan agar dunia pendidikan kita bisa terhindar dari noda-noda hitam yang sangat mengganggu proses majunya bangsa ini, karena kita sadar bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang punya pendidikan berkualitas. Sejarah sudah membuktikan hal tersebut berulang kali.

Pendidikan kita bukan pendidikan kekerasan. Untuk Indonesia yang lebih baik. Tabik!

Iklan

5 Tanggapan to “PENDIDIKAN KEKERASAN”

  1. SHALEH said

    Coba liat ini juga:

    http://hermansaksono.com/2008/06/luthfi-dikeroyok-karena-blog.html

    Itu baru segelintir dari cerita kejamnya pendidikan.
    ketika masih jadi kuliah aja di didik berbeda itu tidak boleh lalu bagaimana kalau jadi pejabat

    lalu kalau sudah begini, mau mahasiswa, pejabat, rakyat sama saja, menyelesaikan masalah lewat adu fisik. Pantas aset negara jadi milik orang asing. Karena mereka tahu orang indonesia sukanya mengandalkan fisik dalam menyelesaikan masalah bukannya memikirkan dengan logika.

    sepertinya kurang singkron kalau kita dikenal suka main fisik dengan aset-aset kita yang di ambil bangsa asing. lo masalah aset kita yang raib ke tangan para kafir itu ya karena pemerintah kita saja yang kebablasan dan tidak bisa bertindak tegas…
    tabik!

  2. harusnya para dosen/guru/pemilik yayasan benar2 mengontrol setiap kegiatan anak didiknya khususnya terkait dengan masalah senioritas atau kegiatan MOS dan sejenisnya dan benar2 mendisiplinkan jika ada anak didiknya memiliki gelagat kearah itu (kekerasan), dan yg tdk kalah penting agar lebih banyak dan lebih sering memberi pelajaran terkait dengan mental dan spritual untuk menjadikan insan yg intelek dan berakhlak mulia. insyaallah kekerasan tdk akan ada ada manusia yg memiliki intelektualitas yg tinggi dan atau manusia yg memiliki akhlak mulia.
    salam kenal dari gw, tabik!

    memang begitulah segarusnya…
    semoga mas..
    salam kenal juga.
    tabik!

  3. Menik said

    Indonesia harus bangkit dari keterpurukan ๐Ÿ™‚

    Sistim Pendidikan Indonesia harus diperbaiki

    No Violence at the School ๐Ÿ˜ฆ

    harus mbak…
    tabik!

  4. Rita said

    Memang pemerintah yang responsif yang paling diharapkan utk men”cuci gudang” ruang lingkup pendidikan sperti yang terjadi di IPDN dll. Pribadi-pribadi yang kompeten diharapkan mengisi nilai nilai yang menunjang tercapainya pendidikan yang bukan saja cerdas di bidang akademik, melainkan juga dapat menanamkan sifat2 yang cerdas secara emosional dan spiritual..:D

    amin.semoga.
    tabik!

  5. Martabak said

    Ada banyak hal yang harus diperbaiki, diantaranya termasuk sistem, pengawasan, dan tujuan pendidikan.

    Pendidikan di negara ini tidak memiliki tujuan yang jelas, sekedar slogan. Pendidikan yang keras bukan hal yang sepenuhnya salah, tapi produk dari pendidikan itu yang patut dipertanyakan apakah konstruktif atau justru destruktif.

    Segala pembangunan termasuk di dalamnya pendidikan manusia selayaknya melahirkan manusia yang baik bagi norma di masyarakat. Apakah itu kekerasan atau kelembutan yang jelas hasilnya harus berguna bagi masyarakat.

    Kami pernah mengalami pendidikan keras militer tapi bukan dalam artian memukuli sesama seperti itu, lebih tepat kalau semacam itu disebut kejahatan. Keras artinya mencapai ambang batas tapi bukan saling menyakiti, sedangkan kekerasan adalah kejahatan kemanusiaan. Semestinya pendidikan tidak diberikan oleh senior tetapi pengajar atau pendidik yang kompeten.

    Kesalahan prosedur semacam itu juga penyalah-gunaan wewenang lebih karena kesombongan manusia yang menemukan lemahnya kendali aturan. Manusia buas tanpa pengawasan apalagi tanpa aturan hanya akan menjadi semakin ganas dan beringas. Karenanya kita perlu tujuan masa depan yang diwujudkan dengan aturan juga pengawasan oleh sebuah sistem yang kuat.

    yah… begitulah bang, saya kehabisan kata-kata bagi dunia pendidikan kita.
    SEMOGA
    tabik!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: