Tentang Kampusku

30 Mei 2008

Menarik sekali apa yang saya dapati di kampus hari ini, ada UKM kampus bertitle Lembaga Penerbitan Mahasiswa menerbitkan sebuah tabloid yang sama sekali tidak bermutu. Bayangkan penggunaan font comic yang sangat tidak pas dengan atsmosfer kampus, lebih seperti majalah yang ditujukan untuk anak-anak TK. Kemudian cover yang begitu buruk dilihat dari sudut pandang apapun, dari pemilihan tema, editing, model, bahkan pewarnaan yang begitu tidak nyaman untuk dilihat.

Sayang sekali ketika sebuah organisasi tingkat kampus yang menangani masalah penerbitan tidak bisa menyuguhkan sebuah bacaan yang layak untuk dilempar ke khalayak. Saya ketahui belakangan bahwa mereka-mereka yang menjadi pengurus dan redaksi adalah orang yang bisa dibilang tidak berkompeten sama sekali pada bidang jurnalistik, walaupun saya juga tidak paham betul bidang jurnalistik namun sebagai orang awam saya masih bisa membedakan mana yang baik dan mana yang kurang bagus sebagai sebuah bacaan.

Isinya juga tidak terlalu menunjukkan kultur intelektual yang padat dan berkelas, semua yang ditulis hanyalah harapan dan impian tentang bagaimana kampus ke depan, tidak salah kalau saya sematkan predikat ABS (asal bapak seneng) , karena semua hanya menggambarkan yang bagus-bagus, padahal universitas tidak terlalu membutuhkan puja-puji. Universitas ini lebih membutuhkan saran dan kritik yang membangun. Tentu penggambaran yang muluk-muluk akan membuat si pemimpin universitas merasa jumawa dan melupakan bahwa masih banyak yang harus kita benahi untuk kemajuan bersama.

Itulah mungkin kultur bangsa kita, politik mercusuar dan politik pencitraan masih begitu akut. Lebih baik orang lain tahu yang bagus-bagus saja daripada memberitakan borok yang sebenarnya ketika kita lempar ke khalayak tentu akan disambut dengan kritikan yang pada akhirnya melahirkan sebuah solusi yang cerdas dan mencerdaskan.

Saya berkeyakinan dengan kemauan dan seleksi yang mumpuni ,kampus saya punya kok mahasiswa-mahasiswa yang punya kemampuan dalam hal jurnalistik, design grafis dan punya pemahaman yang benar tentang hakikat dari sebuah bacaan atau tulisan.

Saya yakin seburuk apapun bacaan pasti memberikan pencerahan sekecil apapun bagi pembacanya, semoga ke depan kampus dan majalah yang mewakili kampun akan benar-benar mewakili apresiasi dari semua masyarakat kampus yang beragam dan komplek.

Ini hanya sebuah keluh-kesah mahasiwa yang sangat ini melihat kampusnya punya media baca yang memang bagus, benar, dan layak diapresiasi.

tabik!

Iklan

9 Tanggapan to “Tentang Kampusku”

  1. donald said

    what, mean “Jumawa”. Pedas juga kritikanx, saranku Hidupkan Corong FKIP, supaya bisa menyaingi mereka. tp ak salut dg cindai, yang udah lama mati tp bertransformasi lg sekarang. walaupun isinya puji2, tp yang bisa kt ambil pelajarannx adalah mereka bs melakukan apa yg disebut fund rising, n itu penting bagi nafas sebuah lembaga jurnalistik. walaupun tidak pas kalo kita harus menjilat n mengenyahkan idealisme kita. Ok Bravo, teruslah menulis!!! by: Akhukum Fillah

    mereka hidup karena uang kak, bukan karena ingin menyuarakan sesuatu, kayanya uang sudah mulai menjadi dewa dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga kedepan Corong bisa bangun dari mati surinya yang terlewat lama, mohon dukungan dan bantuannya.
    tabik!

  2. azkaa,, said

    humm, jadi kangen sama koran kampus ipb.. yang berusaha independen nyari dana sana-sini supaya ga perlu ‘disuapin’ sama institusi.. karena kalo disuapin, mau ga mau kan harus ‘manut’ apa kata institusi.. sama-sama doakan aja ya, semoga media kampus semakin hari semakin bermutu dan mampu menyuarakan aspirasi mahasiswanya..

    memang begitulah seharusnya mbak, kita harus berjuang sendiri (mencari dana, link, dan dukungan moral) agar idealisme kita tidak terkontaminasi dengan hal-hal yang mengotori lurusnya perjuangan. kita sama-sama mendoakan semoga media kampus akan bertrnsformasi menjadi lebih baik…

  3. …kalo di ITS Alhamdulillah udah independen.
    yang punya anak-anak BEM.
    tapi sayangnya, publikasi dan pendistribusiannya kurang.
    karena… gratisan 😐

    yah, semoga di Unlam bisa lebih bagus lagi koran kampusnya.
    dik awym ikutan koran kampus?

    tidak, saya terus belajar menulis saja, dan alhamdullilah ada tulisan-tulisan saya yang berhasil terbit di koran-koran lokal 🙂
    kalau memang ke depan atsmosfer para pembuat koran kampus akan kondusif, maka saya bersedia bergabung di sana, doakan saja…
    tabik!

  4. Kalau gak dipuji, gak dapat uang. gak ada uang, gak bisa terbit. kalau sudah terbit, dikritik. Kalau dikritik, bingung. kalau bingung, gak terbit. kalau gak terbit, jadi ingin terbit. kok aq jadi bingung? sudahlah, ngeblog saja, hahaha…

    ngeblog? tawaran yang menarik, semoga saya selalu bersemangat untuk belajar menulis dan tentunya juga ngeblog… semoga ke depan masyarakat pers baik di kampus saya meupun di luar sana lebih profesional dan jujur berkata yang benar itu benar, dan yang salah itu salah…
    tabik!

  5. asukowe said

    Dikritik itu bagian dari mendewasakan diri, cuma yang jadi masalah maukah yang dikritik u/ jadi dewasa ? publik adalah power yangs angat kuat buat memberi pelajaran kritikan, tapi kalau publik nya ternyata impoten dan kadalan ? Ini dilematis Bro, setidaknya aku di Kalimantan Selatan merasakan publik yang demikian… salam

    Ya, semoga di derah kita akan tumbuh kultur saling kritik yang bersih dan sehat, karena walau bagaimanapun sebuah kemajuan pasti berasal dari sebuh kritik yang jujur. Kita doakan mereka paham bahwa kritik tidak selalu identik dengan dekstruktif tetapi juga konstruktif… belajarlah berlapang dada jika mendapat kritik. Kita harus meningkatkan kontrol sosial agar publik semakin cepat beradaptasi terhadap iklim perubahan, tentunya agar kita tidak impoten (lebih syukur impoten saja, tidak di amputasi, alaaahhhh ngawur saya)…
    tabik!
    tabik!

  6. femaleap said

    syukron udah mampir ke blog kami. jazakallah khairan katsir

    sama-sama, saling berkunjung,
    jabat erat dan tabik!

  7. awisawisan said

    ahsani taqwiem?
    bentuk yang sebaik2nya? insya Allah…

    ummm…
    saya jg ikut pers kampus…
    emmm,,,
    kritiknya uda dilayangkan langsung ke lembaganya, blum, akh?
    mgkn mereka buth jg pandangan dari pembaca…

    apa pun,
    nda mesti ttg jurnalisme,
    pasti ada pro kontra nya
    tgs pers cm melaporkan,
    cover both sides, tidak berat sebelah,,,

    ehee, maap sotoy..

    insyaallah, nama yang berat, he…
    iyah, almhamdullilah saya sudah nitip kritikan membangun lewat dosen saya, semoga ke depan lebih baik…
    jabat erat dan tabik!

  8. weibullgamma said

    pers kampus…, saya termasuk yang “tereliminasi” dari pers kampus, karena cuman bisa bertahan selama 1.5 semester. mungkin azka jg ikutan koran kampus ipb dan saya tereliminasi sebelum azka masuk. afaik, memang ada dua divisi di koran kampus ipb, bagian redaksi dan perusahaan(marketing, sponsorship,riset dll..saya lupa)…berada di bawah KomInfo BEM, mungkin bersifat semi otonom….

    wah, kenapa tereliminasi, sayang… tetapi walaupun tidak bergabung dalam pers kampus, kita masih tetap bisa dan semangat berkarya kan….
    jabat erat dan tabik!

  9. mia said

    hm… satu pengalaman pahit waktu mengantar undangan pertemuan muslimah insan media ke Lembaga Penerbitan Mahasiswa kampus mu itu. Aku ngucapin salam sampe 2 kali, eh disahutin ‘LALUI AJA !!!” Astaghfirullah. Trus, aku teriakin “MO NGANTER UNDANGAN !!!”. Akhirnya tergopoh-gopohlah salah seorang kru dan menyambut undangan dari tanganku sambil ‘tunduk-tingadah’. “Inggih Bu, Inggih Bu”, jarnya. Aduhai…napa leh mbari supan haja. Padahal unda alumni kampus itu jua, walopun kampus Banjarbaru…

    maaf mbak, mungkin saya bukan orang yang ada di sana, tetapi kalau boleh saya meminta maaf atas nama mereka… mohon doanya semoga ke depan kampus saya bermetamorfosis menjadi lebih baik.
    jabat erat dan tabik!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: