SEBUAH CURHAT MAHASISWA

24 Mei 2008

(catatan hati atas launching buku Bunga Penyejuk Hati)

Oleh : Ahsani Taqwiem

Gundah. Mungkin itulah kata yang mampu melukiskan perasaan saya ketika acara launching buku “Bunga Penyejuk Hati”, sebuah Antrologi Sastra Mahasiswa PBS yang sepertinya tidak mampu menyedot perhatian dari kawan-kawan, khususnya dari kalangan mahasiswa sendiri. Apakah memang akan terus seperti ini apresiasi terhadap acara-acara dengan jenis kelamin yang sama? Pertanyaan yang begitu kuat mendera jiwa saya.

Setelah satu hari sebelumnya juga sempat diwarnai muka-muka kesal dari kubu panitia yang sepertinya tidak begitu menerima keputusan pihak kampus mengenai tidak diizinkannya penggunaan Aula 1 FKIP UNLAM untuk acara yang sebenarnya begitu penting sebagai penyambung nafas semangat berkarya dari para mahasiswa kampus itu sendiri. Semoga saja hal ini tidak lebih dari salah komunikasi sehingga tidak ada kekecewaan yang berkepanjangan dan memberikan trauma beraktifitas yang begitu dalam tertancap di sanubari. Akhirnya mau tidak mau acara sakral itu dilakukan di sebuah pondok terbuka bernama Sakadomas yang yah, apa adanya di halaman kampus FKIP UNLAM.

Setelah melakukan ritual pembukaan acara seperti acara-acara kebanyakan maka acara puncak pun dimulai, diskusi dalam rangka menelanjangi buku antologi yang bersenjatakan 28 buah sajak dan 10 buah cerpen yang keseluruhannya berasal dari tangan-tangan muda nan kreatif dari kampus FKIP sendiri. Harapan saya seiring berjalannya acara apresiasi dari para mahasiswa pun mungkin akan terus bertambah, namun ternyata saya keliru. Sampai acara berakhir sepertinya mereka acuh saja dengan acara launching buku tersebut. Ada sih yang begitu antusias namun jika disandingkan dengan mereka yang acuh tak acuh agaknya jumlahnya masih terlalu sedikit, mengecewakan. Mungkin suasana penciptaan karya dalam buku antologi ini terbawa sampai hari di mana launching buku itu terjadi, ketika para pengarang dalam buku tersebut menulis karya mereka tentu dalam ketenangan yang maksimal, perenungan dalam keheningan yang dibalut konsentrasi penuh. Dan hal itu terjadi juga sampai hari bersejarah launching buku itu sendiri, tenang, hening dan mungkin lebih tepat dikatakan sepi.

Kecewa dan sedih, begitulah perasaan saya sebagai seorang mahasiswa. Penghargaan terhadap proses kreatif sepertinya masih belum maksimal di kampus kami tercinta. Kalau bukan para mahasiswa sendiri yang mulai menoleh terhadap karya-karya kawan-kawan mereka maka siapa lagi yang akan memulainya? Ironis.

Seperti apa yang dikatakan Daud Pamungkas sebagai editor yang juga berperan sebagai pembicara pada acara diskusi hari itu bahwa pada awalnya niat menerbitkan buku ini adalah sebuah obsesi pribadi yang begitu menggebu untuk setidaknya menunjukkan pada semua bahwa masih ada lho karya-karya menarik dari kampus FKIP tercinta dan sejuta keinginan lainnya dari individu beliau sendiri.

Salah jika ada yang mengira bahwa penerbitan buku ini berjalan begitu mulus, setelah sempat terhalang dengan masalah-masalah elementer yaitu dana namun yang lebih bermasalah dan mengganjal di hati adalah kurang berkenannya para petinggi kampus di sana untuk penerbitan sebuah antologi sastra, agaknya paradigma dan pandangan mereka terhadap buku-buku berbau sastra masih sebelah mata kalau tidak bisa kita katakan menutup mata.

Memang secara sastra atau pun mungkin secara kualitas semua karya yang ada di dalam buku setebal 160 halaman tersebut belum maksimal karena diakui atau tidak karya-karya tersebut berasal dari para mahasiswa yang secara psikologis juga masih belum terlalu matang. Sebagian besar para pengarang di buku itu masih dalam tahap coba-coba dan terus akan mencari bentuk khas mereka sendiri. Hendaknya karya ini lebih dipandang sebagai langkah awal dari sebuah perjalanan yang dirintis dengan susah payah.

Memang terdapat beberapa karya dari para pengarang yang sudah lebih dulu terjung ke kancah penulisan kreatif namun yang lain tentu saja masih begitu hijau dalam ranah ini. Disitulah pentingnya apresiasi terhadap buku ini seharusnya, dengan diterbitkannya buku ini tentu akan menjadi bara api semangat untuk terus berusaha menelurkan berbagai macam karya, juga agar mereka yang mengambil jalan ini tetap konsisten karena melihat penghargaan atas karya-karya mereka sudah lebih dari cukup, bagi mahasiswa yang belum ikut andil dalam antologi kali ini penerbitan buku ini setidaknya akan melecut semangat mereka dalam berproses dan menulis karya-karya sastra khusunya. Tentunya ketika launching buku ini disambut meriah maka setidaknya memberikan secercah cahaya untuk penerbitan antologi-antologi berikutnya, semoga saja cahaya itu akan makin terang dan bukannya makin redup.

Karya ini juga sepertinya secara tidak langsung menjawab nada sumbang khalayak ramai yang mungkin saja mempertanyaan keberadaan karya-karya mahasiswa FKIP yang dapat dinikmati masyarakat, ketika masyarakat melihat buku ini sebagai sebuah kristalisasi keringat yang begitu idealis dan murni hanya untuk berkarya maka siapa yang akan ikut melambung namanya? Ya, FKIP tentu saja namun mengapa dukungan dari kampus sendiri demi kelancaran dan suksesnya acara launchingnya saja sepertinya ogah-ogahan, kesal dan bingung adalah sedikit ungkapan dari sekian banyak perasaan yang tidak enak yang kita rasakan sebagai seorang mahasiswa setidaknya.

Acara diisi dengan menguliti satu-persatu sajak dalam buku antologi tersebut oleh Zulfaisal Putera yang kemudian dilanjutkan dengan mengupas tiap cerpen oleh Rismiaya. Sangat menarik dan mencerahkan apalagi bagi mereka-mereka yang ingin dan masih dalam tahapan proses belajar menulis khususnya menulis sastra, ada banyak ilmu tentang bagaimana sih sebuah karya sastra yang ideal menurut para pembicara yang dapat kita petik. Diselingi dengan pembacaan puisi dan cerpen oleh kawan-kawan mahasiswa menjadikan acara ini kian menarik untuk diikuti.

Selamat dan pujian agaknya tidak berlebihan jika kita alamatkan kepada dua dosen FKIP yang juga otak intelektual di balik hadirnya buku ini ke hadapan kita semua. Sainul Hermawan dan Daud Pamungkas yang mampu menepis kendala-kendala yang begitu akut menghalangi kelahiran buku ini. Nekat dan beresiko sebenarnya, satu fenomena yang sangat menarik apalagi buku ini hadir di tengah lesunya antusiasme membaca apalagi membaca karya satra, ada begitu banyak ketidakpastian apresiasi dari beragam lapisan kalangan yang semoga saja tidak menyurutkan semangat untuk terus berusaha menunjukan bahwa kita ada dengan berkarya., sehingga tidak menutup kemungkinan akan lahir sastrawan-sastrawan mumpuni masa depan yang berkualitas dari terobosan-terobosan seperti ini.

Ke depan hendaknya sokongan dari institusi misalnya kampus atau bahkan universitas mesti terus kita goyang agar mereka cepat tanggap serta cepat terbangun dari tidur panjang yang terlewat lama.

Buku ini juga menjadi semacam tantangan bagi para mahasiwa untuk terus berusaha melanjutkan jalan yang didobrak oleh para pendahulu kita, teruslah berkarya mahasiswa.

Cukuplah bagi orang-orang yang ikut andil dalam penerbitan sampai lauchingnya buku “Bunga Penyejuk Hati” ini berpuas diri, Karena mungkin kami, kita adalah orang-orang yang dipaksa dan telah terlatih untuk mengurut dada dan memaksakan rasa puas itu ada, di atas ketidakpuasan terhadap ketidakbersahabatannya mereka terhadap sebuah karya dari sebuah keringat.

Mengamini pendapat dari pak zulfaisal bahwa “Memang orang pintar di FKIP itu banyak, namun orang yang cerdas dan kreatif lah yang sedemikian langka”. Kalau ternyata tidak mampu menjadi orang yang cerdas dan kratif setidaknya jadilah orang yang peduli dan punya hati nurani. Semoga kita termasuk di antaranya. Untuk FKIP yang lebih baik. Hidup Mahasiswa.

*mahasiswa PBSID FKIP UNLAM

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: