Di Antara Ketakutan dan Kekuatan

24 Mei 2008

Oleh: Ahsani Taqwiem*

Entah hal apa yang membuat saya pada suatu pagi terpikir tentang dua kata ini, ya, ketakutan dan kekuatan. Dua kata yang hampir mirip dalam beberapa huruf namun sangat kontradiktif satu sama lain. Ketika kita merasa punya sesuatu yang besar menggelegak dalam fantasi atau pikiran-pikiran kita, bisa jadi itu adalah sebuah kekuatan yang mungkin akan mampu merubah sesuatu yang memang seharusnya kita rubah, sejak dulu kala. Namun bisa juga seiring makin jauhnya kita berfikir, hal-hal visoner dan briliant itu seakan tenggelam ketika kita di hadapkan pada kekuatan-kekuatan yang secara hierarki jauh di atas kita dan melahirkan ketakutan pada diri kita tentu saja, kita yang hanya menjadi pion-pion tak berdaya atau berlakon jadi tak berdaya.

Dalam konteks saya suatu ketika, kita, para mahasiswa semisal punya pemikiran-pemikiran yang menjadi solusi atas bobroknya sebuah institusi atau bisa jadi punya kritik-kritikan tajam yang mencerahkan kegelapan sebuah sistem, sebut saja kampus misalnya, yang menjadi ruang lingkup bermasyarakat seorang mahasiswa. Kita akan dihadapkan pada beberapa pilihan, bersuara, atau diam dan terdiam, bahkan tidak jarang terkesan menyedihkan. Tidak perlu kaget atau bingung ketika kita berbicara kenyataanya pada masa ini yang terjadi adalah banyak dari kita, mahasiswa, yang memilih diam dari pada menyuarakan apa yang seharusnya kita suarakan. Kita seakan lupa bahwa itu adalah sebuah tanggung jawab yang sudah ada terpikul di pundak kita walaupun semuanya itu tidak akan kita dapati secara hitam di atas putih. Masih pantaskah kita para mahasiswa berbusung dada dan bangga dengan ungkapan-ungkapan lusuh seperti “ mahasiswa, agent of change”, padahal ketika jargon itu kita lemparkan ke public tanpa dibarengi bukti dan fakta-fakta perjuangan di lapangan yang kuat dan memasyarakat, jargon itu hanya akan jadi sebuah judul hebat sebuah buku best seller namun dengan isi buku yang teler, ironis.

Apa yang menyebabkan hal ini terjadi, jawabannya salah satu yang cukup dominan mungkin saja kita tertekan oleh-oleh ketakutan-ketakutan yang kadang kala tidak berdasar. Preasure-preasure ketat terhadap daya dobrak kita akan perlahan-lahan membunuh kekuatan yang pada hakikatnya telah kita punyai, semuanya berbbalik kepada bagaimana kita me-manage semua kekuatan itu agar tidar semakin kabur, atau bahkan akan semakin luntur?

Ketika saya renungkan lagi dua kata usang di atas, kekuatan dan ketakutan. Saya merasa keduanya tidak dapat terpisahkan dan cenderung saling melengkapi, padahal secara tata bahasa keduanya punya arti, makna dan porsinya tersendiri dalam kebahasaan. Semisal seseorang yang bergitu tertekan oleh ketakutannya sendiri, dari ketakutan itulah muncul kekuatan yang sebelumnya tidak ia punyai, atau sebaliknya kekuatan kita akan hilang karena ketakutan itu sendiri. Kekuatan akan membuat sesorang mempunyai kemampuan dan kemauan untuk melakukan sesuatu atau merealisasikan hal-hal yang mungkin belum tentu orang lain bisa lakukan. Namun sebaliknya ketika kita terlalu tertekan dengan ketakutan, kita akan kehilangan power untuk melakukan sesuatu yang bahkan akan membuat pikiran kita beku serta menggerogoti ingatan kita tentang step-step pekerjaan yang bagi orang awam sangat mudah untuk dilakukan, namun bagi kita saat itu yang terborgol oleh kekuatan yang kasat mata, padahal kesalahan sebenarnya ada dalam diri kita sendiri, yaitu karena kita kehilangan kontrol terhadap diri kita sendiri.

Parahnya lagi, masih menurut saya dalam konteks mahasiswa, ketika dua kata sarat makna ini terutama kata ketakutan begitu akut menekan sendi-sendi kemanusiaan kita maka kita akan semakin kehilangan sense of belonging terhadap apa yang seharusnya kita perjuangkan dan pertahankan, kepedulian kita akan semakin tumpul dan respect terhadap sekitarnya akan semakin pudar. In fact, pada suatu kasus misalnya kita melihat pada sebuah kampus terpandang di seantero daerah kita yang notabene favorit namun fasilitas-fasilitasnya perlahan menua dan terkesan tak terawat. Ketika pisau kepedulian kita masih tajam tentu kita akan mencari solusi bersama karena ketika kita memilih menjadi seorang mahasiswa di suatu kampus, terpaksa maupun sukarela kita harus mencintai kampus dan universitas tempat kita bernaung dan akhirnya akan menuntut kita menentukan arah dan masa depan kampus itu sendiri. Dalam kasus yang lain semisal kita meratap sedih dan tertunduk malu melihat perpustakaan yang bertitle perpustakaan pusat sebuah universitas terbaik di Kalimatan-Selatan terlihat terbengkalai dengan koleksi buku-buku, atau menurut kamus saya untuk lebih menghayati cerita dan menggambarkan keadaan sebenarnya kita sebut saja kumpulan kitab-kitab pusaka yang mereka pajang mencuatkan citra jadul, ketinggalan zaman, tidak up to date dan yang paling menyebalkankan tentu saja berdebu dan tidak terawat, jangan heran hanya orang-orang yang memang benar-benar tabah saja yang mau mengobok-obok ilmu di sana, itu pun kalau ada. Belum lagi kita masukkan wacana-wacana lain seperti tempat yang tidak strategis, bangunan yang terbengkalai dan terkesan tua atau lebih tajam kita runut hikayat penggelapan-penggelapan materi dan korupsi bermetode intelektual yang tentu saja akan melahirkan cerita bersambung yang akan sangat menarik untuk kita ikuti. Who know? Apa yang kita lakukan? Diam adalah pilihan safe dan tepat ketika rasa ketakutan kita terasa begitu merasuki pikiran sehingga kita melupakan bahwa kita punya kekuatan untuk memperbaikinya atau paling tidak kita melakukan apa yang kita bisa lakukan dalam bentuk yang paling sederhana untuk ikut andil merubahnya walupun tidak secara drastis, kita lucuti rasa peduli kita dan mengggadaikan cinta kita pada kampus kita tersayang , kita tutup mata dan tentu saja membutakan hati. Namun ingat, kampus dan universitas ini milik kita, namun pada akhirnya semoga tidak hanya untuk sekedar diingat saja tentunya.

Kejadian ini bukan hanya terjadi di lingkungan masyarakat kampus, sepenglingatan saya hampir di setiap lini dan aspek kehidupan kata kekuatan dan ketakutan akan sangat memegang peranan dalam ritme dan rutinitas kehidupan, tak terkecuali bagi masyarakat kebanyakan sekalipun. Terlalu banyak untuk dilukiskan di sini belum lagi ketakutan-ketakutan petinggi negara ini dalam banyak hal, pengesahan undang-undang yang tidak berpihak rakyat contohnya, atau sikap menurut bangsa kita terhadap intervensi bangsa asing yang mengkhianati tujuan Bangsa Indonesia pada akhirnya. Lebih bodoh dan menggelikan ketika pernak-pernik budaya bangsa kita dilucuti oleh bangsa yang mengaku bertetangga dengan kita, lihat! apa yang bangsa ini lakukan? Diam dan hanya berharap pada diplomasi-diplomasi kosong yang tak menghasilkan apa-apa pada akhirnya. Mari kita kembalikan pada persoalan awal, ketakutan seperti apa yang sih yang bangsa ini derita sehingga bersikap tegas saja sepertinya susah sekali? Kemana kekuatan bangsa yang katanya jadi pelopor kemerdekaan beberapa bangsa di dunia ini? Kecewa dan kelelahan yang kompleks ketika melihat sikap bangsa ini membuat saya kadang memilih jawaban mungkin semuanya hanya dan sudah tersimpan rapi di atas sana, karena kebenaran hanya ada di langit dan dunia hanyalah palsu ujar Gie.

Ketika mencoba menulis tulisan ini juga saya berdiri di antara keduanya, di antara ketakutan-ketakutan yang akut dan kekuatan yang saya rasa ada. Saya hanya berharap kita dapat belajar menempatkan sesuatu pada tempatnya, kita atur ketakutan dan kekuatan kita dengan porsi yang baik serta berimbang. Kita tempatkan diri kita dalam konteks apapun dan dimanapun dalam posisi yang benar. Saya rasa semua manusia punya keduanya, takut dan kuat. Untuk menjadi lebih baik kita harus memanage keduanya aagr tidak ada yang terlalu dominant terhadap yang lain. Hanya saja kembali kepada individunya masing-masing, sisi mana yang ingin lebih kita dahulukan dan perjuangkan tentu saja.

Sebagai seorang mahasiswa sebaiknya kita mampu menepis ketakutan dan preasure sistem terhadap nafas perjuangan kita. Sehingga pada akhirnya tidak akan terjadi kevakuman pergerakan dan perjuangan seperti yang terjadi saaat ini. Tugas kita sebagai pengawal reformasi belum masih jauh dari kata selesai apalagi tugas-tugas kuliah yang terus bertambah kian hari.

Kembali ke dua kata sederhanana di atas, sudah jadi keharusan kita untuk memandang ke duanya dengan bijak dan realistis, namun tidak membunuh kemungkinan juga jika kita coba memandang keduanya dengan sikap idealis. Semoga kita mampu merenunginya dan menyandingkannya dalam konteks yang benar dan tetap kritis, dua hal yang nantinya akan menjadi dasar berpijak kita dalam bertindak agar kita tidak menjadi manusia-manusia yang cenderung hipokrit pada akhirnya. Semoga kita semakin jernih dalam bersikap, padahal ketika kita renungi lebih jauh ke dua kata tersebut pada perjalanannya cenderung akan saling mengalahkan. Terima kasih.

*mahasiswa PBSID FKIP UNLAM

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: