Darah Perjuangan Mahasiswa

24 Mei 2008

Oleh : Ahsani Taqwiem*

Memilukan. Trauma menyedihkan itu datang lagi. Memori berdarah perjuangan mahasiswa terulang kembali. Kali ini yang mejadi titik perjuangan mahasiswa yang dibalas anarkis oleh aparat itu terjadi di Universitas Haluoleo (Unhalu) di kendari, Sulawesi-Utara. Sebelum kita berpendapat lebih jauh dan lebih dalam agaknya kita perlu dan harus merunut kembali apa persoalan pemicu insiden berdarah di daerah itu.

Sejauh yang saya ketahui insiden itu dimulai dengan kejadian penggusuran, atau agar lebih enak dan halus didengar dalam birokrasi Indonesia kita lebih sering mendengarnya dengan sebutan “penertiban” PKL oleh Asrun, Wali kota Kendari. Masyarakat kecil, yaitu para pedagang kaki lima yang tertindas itu merasa keputusan Wali kotanya itu sangat tidak bijaksana, mereka pun melawan, karena yang mereka lawan dan coba “sadarkan” itu orang nomor satu di daerah itu. Masyarakat dan para pedagang kali lima itu pun kemudian meminta bantuan advokasi kepada mahasiswa, tentu saja dan sebuah keharusan bagi mahasiswa untuk membantu masyarakat, apalagi yang mereka perjuangkan adalah nyawa, keadilan, dan hak hidup orang kecil.

Masyarakat dan mahasiswa bergabung serta melakukan aksi damai menolak keputusan Wali kota tersebut namun apa yang mereka dapati Mereka diadu dengan preman-preman yang akhirnya menyulut pertikaian antara keduanya, dimana aparat saat itu? Mereka ada tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Jangan bingung dan takjub, aparat bersenjata lengkap, rompi anti peluru, tameng baja yang sedemikian kuat, serta dengan otoritas penegak hukum yang mereka sandang tidak bisa berbuat apa-apa saat dihadapkan pada kepentingan masyarakat dan kepentingan pemerintah sudah biasa di negeri kami tecinta ini.

Akhirnya karena mahasiswa tidak terkendali maka aparat bak pahlawan kesiangan menertibkan mereka dengan cara yang salah, kekerasan, mahasiswa dan masyarakat dipojokkan dan dihadang dengan hujan pentungan dan pukulan. Begitulah seterusnya, mahasiswa yang kian terpojok mundur ke kampus namun sepertinya sang pahlawan enggan kehilangan mangsanya, “mereka” menerobos kampus Unhalu, mengacuhkan otoritas kampus, mengejar mahasiswa dan parahnya lagi, merusak kampus. Alasan aparat saat itu adalah adanya anggota kepolisian yang terbunuh dan belakangan diketahui hal itu tidak pernah terjadi, dalih belaka rupanya. Merusak kampus menurut saya adalah tindakan yang sangat tidak terpuji karena kampus adalah tempat sakral bagi para mahasiswa, di mana mereka tumbuh dan belajar di sana. Sebagian mahasiswa ditangkap dan ada yang dipukuli di tempat, mengenaskan.

Esoknya mahasiswa mengadakan aksi lanjutan yang mengecam tindakan aparat hari sebelumnya, mereka mengadakan orasi yang dengan tegas mengutuk dan meminta pertanggungjawaban Kapolda Sultra atas tindakan anggotanya yang masuk dan menyerang kampus mereka. Sengat menarik dan perlu di acungi jempol adalah Rektor Unhalu sendiri yang memimpin aksi anak-anaknya kali ini, hal ini tentunya merupakan semangat tersendiri bagi mereka. Aksi mereka pun berlanjut dengan berjalan menuju kantor DPRD namun di tengah jalan, di depan kantor Wali Kota mereka diejek dan dilempari batu oleh pegawai pemerintahan di sana, mahasiswa terpancing dan membalas dengan tindakan yang sama sampai merusak kantor Wali Kota. Minggu (30/3) aksi berlanjut namun yang terjadi sangat aneh, ada sekelompok mahasiswa yang terakhir diketahui di dalamnya terdapat preman-preman bayaran mengadakan aksi dengan isu yang kontra dengan aksi mahasiswa sebelumnya, bentrokan pun tidak dapat terelakkan lagi.

Begitulah yang dapat kita ketahui dan sampai saat ini kota kendari masih mencekam, darah tercecer, dunia kampus ternoda, tangisan itu ada. Terulang lagi pertanyaan apakah setiap perjuangan atau pergerakan mahasiswa harus berakhir anarkis?. Agaknya tragedi Semanggi, Trisakti dan tragedi-tragedi semacamnya akan terus terulang jika keadaan bangsa khususnya moral para penegak hukum tidak berubah dan penindasan terhadap rakyat kecil masih dan akan terus berlanjut. Tragedi Semanggi atau Trisakti sepertinya tidak menyadarkan aparat bahwa mahasiswa jika dipukul mundur dengan kekerasan mereka akan membalasnya juga dengan hal yang sama. Hal yang mereka lupakan bahwa mahasiswa adalah manusia, yang bisa terluka jika dilukai. Memang sangat tidak intelek membalas kekerasan dengan kekerasan tetapi apakah ada pilihan lain ketika hujaman pukulan dan panasnya timah lah yang mereka hadapi, beradu argumen atau perundingan damai? Agaknya kalau hal itu dilakukan pada orang-orang yang seperti kesetanan mengejar-ngejar kita dengan beringas tentunya tidak akan berhasil. Pilihannya sepertinya cuma satu melawan atau mati diinjak-injak.

Sepertinya setiap aksi mahasiswa harus selalu dibayar dengan kehilangan teman, sahabat dan resiko-resiko lain yang begitu dalam melukai hati dan meninggalkan trauma yang begitu membekas serta menjadi noktah hitam sejarah buat negeri tercinta ini.

Tulisan ini tidak untuk membela aksi kekerasan teman-teman di kampus Haluoleo tetapi untuk membuka mata kita bahwa kontrol sosial masih harus ditingkatkan karena tanpa itu kesewenang-wenangan pemerintah akan semakin tidak terkendali, ketidakberpihakkan pada rakyat kecil lah yang paling tidak bisa dikompromikan, mau tidak mau kita harus berjuang kalau tidak mau disebut pecundang. Kinerja aparat penegak hukum kita juga agaknya harus dibenahi dalam menyikapi persoalan sehingga kesan yang timbul bahwa aparat hanya membela kepentingan pemerintah dan tidak memihak rakyat tidak mencuat kepermukaan. Hal ini juga untuk menjaga nama baik institusi penegak hukum di mata masyarakat pada akhirnya, aparat juga manusia tho? Saya masih yakin mereka juga punya hati nurani.

Insiden ini juga menegaskan bahwa tidak selamanya mahasiswa tidak bisa menyatu dan berjuang bersama rakyat. Selama ini kita seakan diyakinkan bahwa setiap aksi hanya melahirkan kekecewaan masyarakat, jalan-jalan macet, isu-isu yang diangkat tidak menyentuh mereka yang ada di akar rumput dan sebagainya. Dengan kejadian ini tentu masyarakat dibawa pada kenyataan kalau mahasiswa adalah gerakan yang mengangkat isu dari arus bawah, memperjuangkan hak-hak wong cilik, dan relatif masih bersih karena tidak terkontaminasi kepentingan-kepentingan tertentu.

Sebagai mahasiswa tentunya teman-teman akan sadar bahwa selama jalan damai dan berpendidikan masih bisa ditempuh maka jalan itu lah yang harus kita pilih. Insiden ini juga sekali lagi menegaskan bahwa semangat perubahan dan nafas pergerakan dalam bentuk apapun dan dalam konteks bagaimanapun tidak akan terhenti hanya oleh senjata, kekerasan dan tekanan-tekanan sistem bangsa yang menuai ancaman bagi lembaga dan bagi individu mahasiswa itu sendiri. Karena mahasiswa adalah asosiasi dari kejujuran, integritas dan semangat moral yang terakumulasi dalam ruang lingkup intelektual yang humanis.

Tidak dapat dipunkiri bahwa sejarah mencatat bahwa perubahan besar terjadi kerena andil dari para kaum muda yang peduli dan berjuang demi kebenaran. Gerakan mahasiswa harus menjadi gerakan yang menjadi gerakan moral, pengawal perubahan dan penyaring kebijakan-kebijakan pemerintah. Ketika terjadi pergolakan, pertarungan isu publik antara kebijakan yang berorientasi pada rakyat melawan politik dagang sapi, penindasan dan pembunuhan keadilan sosial, pertikaian kejujuran dan korupsi, maka mahasiswa harus tetap konsisten berdiri di belakang rakyat.

Tidak selamanya suatu pergerakan itu berhasil dan menuai perubahan yang diharapkan tetapi paling tidak jika mahasiswa masih berjuang di garis yang benar maka mereka akan dikenang sebagai pahlawan hati nurani dan peneriak aspirasi rakyat paling depan.

Saya yakin ketika keadilan begitu sulit kita peroleh dari pemerintah maka kita tidak akan pernah lelah mengais keadilan itu dijalan-jalan, meski dengan resiko ada darah dan kepedihan yang tecipta disana , jika begitu pantaslah mahasiswa bangga dengan julukan agent of change atau the hapy selected few ujar Gie. Hidup Mahasiswa. Untuk Indonesia yang lebih baik.

*mahasiswa PBSID FKIP UNLAM

Iklan

Satu Tanggapan to “Darah Perjuangan Mahasiswa”

  1. weibullgamma said

    afwan, afaik….UnHalu di Kendari, Sulawesi Tenggara………

    syukron sudah di tegur, maaf. mungkin karena menulis dalam keadaan ngantuk yang akut (membela diri nih ceritanya), he
    jabat erat dan tabik!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: