BICARA MENGENAI KORUPSI

24 Mei 2008

(catatan harapan buat KPK)

Oleh : Ahsani Taqwiem*

“Mau tau gak mafia di Senayan …

Kerjanya tukang buat peraturan …

Bikin UUD ujung-ujungnya duit”

Beberapa waktu belakangan saya sedikit tersenyum dan mulai optimis tentang penegakan hukum di Indonesia khususnya mengenai masalah korupsi. KPK sepertinya mulai mampu bangkit dan melewati masa-masa suram dengan segala masalah internalnya. KPK yang dibentuk pada 29 Desember 2002 berdasarkan UU no. 30 tahun 2002 perlahan menjadi institusi yang memang benar-benar berorientasi untuk mengejar dan menghakimi para koruptor di Negara ini.

Apalagi di bawah kepemimpinan Antasari Azhar kelihatan sekali perubahan kinerja yang sangat signifikan. Memang sudah waktunya institusi ini bertransformasi menjadi mata pisau dari harapan masyarakat Indonesia dalam hal pemberantasan KKN yang sejak zaman reformasi sepertinya hanya menjadi lips service dan bualan-bualan mimpi saat kampanye belaka.

KPK juga sangat cerdas akhir-akhir ini, masih segar dalam ingatan kita bersama bagaimana Slank sebagai icon anak muda yang peduli dengan nasib bangsa ini digandeng dengan lagu-lagu mereka yang begitu jujur dan kritis, senang rasanya membayangkan muka-muka penjahat bersafari itu merah pada saat tersentil lirik-lirik pedas itu.

Lagu Gosip jalanan kalau kita resapi sebenarnya adalah sebuah cerminan perlemen Indonesia saat ini. Hal inilah yang dipersoalkan Badan Kehormatan (BK) DPR. Yang perlu kita renungi dari hal ini adalah sikap DPR, lho kenapa harus marah kalau tidak benar? Lucu, mungkin inilah yang ada dalam benak kita bersama. Begitu menggelikan lagi ketika mereka-mereka yang sudah bulat ingin menuntut Slank sepertinya melempem karena memang sangat kekanak-kanakan dan tidak logis jika marah terhadap hal yang memang fakta. Apalagi dukungan yang tidak sedikit terhadap nyanyian rakyat kecil tersebut.

Entah kebetulan atau memang lagi apes, selang beberapa waktu saja lamanya. DPR kena batunya lagi, meskipun hanya oknum namun tidak dapat disangkal bahwa praktek KKN masih eksis di gedung mewah wakil rakyat itu. Al Amin Nasution, anggota DPR dari FPPP kepergok menerima sejumlah uang dari Sekda Bintan bernama Azirwan. Sayang sekali, utusan dari partai agamis tetapi moral dan perilakunya tidak mencerminkan seorang yang baik. Agaknya kita diingatkan bahwa jangan tertipu dengan cover buku yang bagus, isinya lah yang teramat menentukan kualitas buku itu.

Kasus terakhir adalah DPR yang berang karena otoritas kekuasaan mereka akan ternoda oleh tim KPK yang menggeledah beberapa ruangan di gedung DPR untuk mencari alat bukti dalam rangka mendukung dakwaan terhadap Al Amin, tidak menutup kemungkinan penggeledahan itu akan mencuatkan tersangka lain. Agung Laksono pun bersuara bahwa tidak setuju dengan tindakan KPK. Saya sangat mendukung dan malah berharap bahwa gedung DPR diperiksa secara berkala atau bahkan di pasang kamera cctv agar masyarakat mengetahui apa sih yang mereka kerjakan di gedung mewah itu. KPK hendaknya tidak usah ambil peduli dengan adanya sikap penolakan dari anggota DPR, toh karena mereka itu ada disana karena rakyat. Kenapa saat rakyat mengirim KPK untuk sekedar melihat-lihat gedung DPR kok dipersulit. Bongkar habis semua suap di gedung DPR, bahkan kalu perlu gedung DPR di buka selebar-lebarnya untuk umum agar gedung itu tidak terkesan keramat dan tertutup. Semoga tindakan KPK ini tidak terlambat karena kasus ini sudah dimulai tanggal 9 april yang lalu, terlambat sebenarnya karena jeda waktu yang begitu lama akan membuka ruang pelenyapan barang bukti, semoga barang bukti yang dicari tidak jalan-jalan kemana-mana. Karena di negara ini berkas-berkas bisa hilang dengan sendiri tanpa tahu rimbanya. Penggeledahan sudah dilakukan dan semoga ada bukti yang ditemukan serta memperkuat bukti bahwa memang ada korupsi di gedung itu.

Hal ini adalah momentum yang tepat bagi KPK untuk membuktikan bahwa mereka memang serius dan punya niat untuk memberantas kasus serupa di negara ini. Namun yang perlu diingat adalah jangan sampai gebrakan ini menjadi akhir, ini adalah awal yang ke depan akan sangat sulit dipertahankan karena akan sangat banyak godaan dan hadangan untuk membonsai semangat antikorupsi yang sedang coba kembali dibangunkan setelah sekian lama terpuruk dalam pesimisme.

Kasus seperti ini adalah kasus yang terbilang kecil, masih banyak koruptor yang berkeliaran dengan bebasnya tanpa tersentuh hukum yang harus menjadi agenda utama buat KPK agar diseret ke meja hijau. Melihat banyaknya kasus yang terungkap maka akan memberi efek jera baik bagi koruptor tingkat professional maupun tingkat kacangan. Kita tinggal melihat bagaimana kelanjutan kinerja KPK ke depan, apakah akan lebih garang atau malah melempem. Semoga saja akan terus membaik karena ada banyak hal yang bisa kita perbuat untuk bangsa ini jika KKN dapat diminimalisir kalau tidak bisa kita hilangkan sepenuhnya.

Mungkin sebagai orang awam yang dapat kita lakukan adalah meningkatkan kontrol sosial serta terus mengawal proses penegakan hukum agar jangan keluar jalur dan mandek.

Betulah korupsi itu budaya?

Banyak orang mengatakan bahwa korupsi tidak bisa dihilangkan karena sudah menjadi budaya di negeri ini. Tidak! Menurut saya itu kurang bisa dibenarkan. Definisi umum tentang budaya adalah sekumpulan nilai, norma, aturan, ataupun tata cara yang merupakan pegangan suatu masyarakat, sedangkan kita tahu bahwa hampir semua kebudayaan di dunia menganggap bahwa korupsi adalah perbuatan yang masuk dalam ranah kejahatan, sebetulnya korupsi bukanlah sebuah budaya namun tidak bisa kita pungkiri sebuah kenyataan kalau kita merunut dari sudut pandang sejarah memang korupsi dapat membunuh suatu kebudayaan.

Korupsi dapat kita singkirkan dalam catatan gelap budaya Indonesia salah satunya dengan cara revitalisasi penegakan hukum yang berlaku dan tentunya yang paling penting revitalisasi individu itu sendiri. Ketika kita berbicara mengenai intropeksi diri sendiri kita akan kembali lagi kepada masalah moral. Moral adalah titik sentral dari masalah-masalah akut bangsa ini. Dari mulai masalah kejahatan sosial di masyarakat, masalah pembuatan UU yang kurang bermoral karena menindas rakyat kecil, sampai hiburan-hiburan yang sudah mulai kurang mengedepankan moral yang baik. Ada baiknya kita membenahi masalah moral sebelum membahas hukum-hukum yang pada akhirnya juga tidak pernah ditegakkan secara konsisten.

Kalau hal ini dibiarkan maka bukan tidak mungkin korupsi akan menjadi suatu kesalahan yang memberi pelajaran kepada generasi berikutnya dan menjadi mimpi buruk yang terus berulang.

Korupsi juga terjadi di negara lain, bahkan berdasarkan prasasti di Syria dari abad 13 SM menyatakan bahwa korupsi sudah terjadi masa itu, banyak lagi contoh kerusakan oleh korupsi, Kerajaan Mataram hancur juga karena korupsi. Sejarah telah membuktikan hal itu, kalau tidak ingin Indonesia juga menjadi sejarah kerena korupsi maka kita harus membuat sejarah kalau kita, bangsa Indonesia, mampu memberantas korupsi.

Semoga KPK mampu membuktikan bahwa budaya Indonesia adalah bukan budaya korupsi. Untuk Indonesia yang lebih baik. Tabik!

*) mahasiswa PBSID 07 FKIP UNLAM

e-mail : ahsani_taqwiem@yahoo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: