BETAPA TIDAK MENARIKNYA PENDIDIKAN INDONESIA *

24 Mei 2008

(Ikhtisar menyoal pendidikan kita akhir-akhir ini)

Oleh : Ahsani Taqwiem*

Untuk menilai bagaimana kualitas pendidikan kita agaknya bisa dilakukan dengan hanya melihat satu hal. Ya! Ujian nasional, baik yang lebih dulu dilaksanakan untuk SMA sederajat, kemudian disusul pelaksanaan untuk tingkat SMP sederajat, kemudian yang terbaru untuk adik-adik kita di Sekolah Dasar. Meningkatkah kualitas pendidikan kita? Secara umum agaknya hanya jalan ditempat kalau tidak bisa kita katakan semakin buruk dan terpuruk. Contoh terdekat lihat saja dalam hal pelaksanaan ujian nasional itu sendiri. Hampir di seluruh bagian negeri ini tergambar ketidak becusan pelaksanaan UN, UN yang sangat penting sebenarnya menurut pemerintah untuk mengukur seberapa meningkat kadar intelektualitas di Negeri bernama Indonesia. Mereka harus berjuang melewati hadangan Ujian Nasional yang punya konsekuensi begitu besar, ketika mereka tidak mampu melewatinya seperti yang diharapkan maka tidak lulus adalah sebuah harga mati yang sangat mengerikan bagi kawan-kawan kita itu. Apakah hasil belajar dan berproses selama tiga tahun hanya dinilai dalam tiga hari atau hanya dilihat dari nilai beberapa mata pelajaran belaka? Kemana perginya otoritas guru-guru kita yang mengikuti perkembangan anak muridnya dari hari ke hari, yang tahu betul ambang batas kemampuan kognitif yang dimiliki anak didiknya? Ketakutan yang berekonstruksi menjadi beban psikologis yang sangat akut tentu saja akan menggerogoti rasa percaya diri terhadap kemampuan yang kawan-kawan miliki untuk melewati ujian tersebut dengan baik. Akhirnya hasil terhadap UN itu sendiri akan sangat tidak optimal.

Rasa jengah dan depresi diakui atau tidak terasa sekali dalam detik-detik yang sepertinya menentukan hidup dan matinya seseorang, dan ini bukan hanya guyonan. Ini adalah tentang hidup dan mati, bukan hanya hidup matinya pendidikan di negara ini tetapi juga hidup mati dalam arti sebenarnya, lihat dalam beberapa tahun terakhir, sudah berapa nyawa yang melayang karena tidak mampu melewati standarisasi yang sudah disahkan. Pendidikan kok menghasilkan kematian?

Miris hati kita melihat hal-hal menyedihkan yang disebabkan sistem pendidikan kita yang belum juga membaik. Sistem pendidikan kita yang selalu ingin maju dan tidak mau ketinggalan dengan Negara lain, namun hal tersebut tidak diimbangi dengan perbaikan sarana dan prasana yang memenuhi syarat untuk melakukan standarisasi yang sama dengan Negara yang kita coba tiru itu. Banyak sekali contoh sekolah-sekolah yang ambruk, tidak tersedianya guru yang berkompeten, buku-buku pelajaran yang setiap tahun hanya berganti sampul (sampul baru pun hanya ada tambahan tulisan ‘REVISI’, selebihnya sama) namun isinya sama saja, hal ini tidak mendukung kehendak pemerintah terhadap tingkat intelektual para generasi muda jaman ini. Mungkin dalam lain kasus kita melihat pemerintah masih saja plin-plan terhadap jenis sistem pendidikan apa yang diaplikasikan di Negara ini. Bagaimana siswa bisa serius kalau setiap satu tahun kurikulum selalu saja berubah. Karena keberhasilan dan penyesuaian kurikulum baru tentu saja hasilnya tidak bisa kita lihat dengan jangka waktu singkat, semuanya tentu saja memerlukan proses.

Tidak usah heran karena ketakutan yang sangat jika tidak lulus itu menyebabkan ada oknum-oknum yang melakukan segala cara demi predikat lulus, terpuji maupun tidak. Nyontek bersama, pingsan saat ujian karena mendapati soal yang terlalu sulit dan diluar prediksi, indikasi bocornya soal hanya sedikit dari sekian masalah yang menggerogoti pendidikan di Negara ini. Banyak lagi kejadian yang memberikan bukti bahwa ujian nasional belum bisa memberikan sebuah penilaian kepada para pelajar secara benar dan menyeluruh. Hal ini mencoreng wajah pendidikan kita yang sudah coreng-moreng lebih dahulu. Namun apa yang hendak dilakukan ketika fenomena tidak lulus menjadi begitu menakutkan dan sepertinya membuat masa depan yang memang sudah kabur bertambah suram.

Hal-hal tidak terpuji yang terjadi seiring UN dilaksanakan menandakan bahwa sistem UN ini bukanlah jalan yang terbaik mengevalusi hasil belajar kawan-kawan pelajar. Karena jika melihat kenyataan terlihat bahwa dengan cara-cara tidak benar mereka bisa lulus, mungkin saja mereka yang jujur malah akhirya tidak lulus, apakah ini masalah keberuntungan? Adilkah hal ini bagi mereka yang benar-benar lurus? Sebaiknya hal ini dibicarakan kembali dan ditemukan titik terangnya agar tidak menjadi batu ganjalan dikemudian hari.

Sistem UN memang mungkin saja sangat pantas diberlakukan bagi sekolah-sekolah dengan fasilitas kelas satu, dengan dana yayasan yang begitu besar dan bagi sekolah-sekolah percontohan yang sepertinya dimajakan oleh pemerintahan ini, namun saat hal ini diberlakukan juga terhadap sekolah-sekolah pinggiran yang jumlah guru dan muridnya saja tidak memadai apalagi fasilitas yang mereka miliki terbilang ala kadarnya, tentunya konsep adil bukan hanya sama rata tetapi juga relevan dengan fakta dilapangan yang sebenarnya. Pemerintah sepertinya perlu dingatkan bahwa Indonesia itu beragam, kompleks, dan ketika penilaian kelulusan itu disamaratakan maka mungkin saja akan membunuh kreatifitas dari pendidikan itu sendiri, semua menjadi sama, searah, stagnan dan monoton. Inilah yang terjadi ketika setiap pengambilan keputusan di gedung keramat di senayan tidak melibatkan orang-orang yang memang perlu didengarkan, orang-orang yang terjun langsung di lapangan seperti guru, pihak sekolah dan masyarakat.

Tindakan guru yang membantu muridnya agar lulus menurut saya salah, karena memang mereka berada di sistem pendidikan yang sudah salah terlebih dahulu. Mereka boleh dihukum karena mereka salah, jadi karena mereka di hukum seharusnya pemerintah juga dihukum karena menciptakan sesuatu yang memaksa mereka berbuat salah. Mungkin mereka rela karena takut melihat murid-muridnya menangis histeris jika tidak lulus. Orang tua mana (karena guru adalah orang tua) yang tega melihat anaknya tidak lulus? Sebenarnya siapa yang lebih pantas untuk dihukum sebenarnya? Mereka di perlakukan seperti penjahat-penjahat, di interogasi seperti pencuri, namun mereka guru, bagaimana ini?Adilkah menurut Anda?

Di lain sisi UN juga membawa efek positif, setidaknya kawan-kawan yang sudah mulai larut dalam arus gelombang hedonisme sedikit tersadar bahwa mereka harus belajar dan berbenah diri agar bisa lulus. Kawan-kawan yang hobi nongkrong, berkeliaran tidak jelas di jalan-jalan sedikit berkurang. Meskipun mungkin mereka belajar hanya karena ketakutan, tidak karena merasa belajar itu adalah sebuah kebutuhan hakiki dari manusia tetapi ini adalah lecutan yang cukup bagus sekaligus menyeramkan.

Ke depan kita berharap sistem pengujian lulus tidaknya seseorang tidak hanya dari sisi intelektualitas saja seperti yang terjadi saat ini, kita memerlukan sebuah sistem yang memadukan kadar intelektualitas dengan takaran moral yang harmonis, gurulah yang paling tahu akan hal ini karena hampir setiap hari gurulah yang berinteraksi dengan anak didik mereka. Belum lagi kita bicara kultur masyarakat yang belum terlalu siap dengan UN yang diterapkan pemerintah, masyarakat kita sebagian besar masih berpendapat kegagalan ya kegagalan, tidak seperti masyarakat di Negara lain yang sudah bisa memahami dan memaknai kalau sebuah kegagalan adalah salah satu jalan menuju keberhasilan.

Kalau Negara ini punya standar intelektualitas kelulusan, maka kapan Negara ini punya standarisasi moral dalam menilai suatu hal? Kalau setiap tahun kita melihat naiknya nilai standar kelulusan tetapi kapan kita melihat naiknya standar moral di Negara kita tercinta ini? Karena orang-orang yang bermoral akan mendahulukan pendidikan di atas masalah-masalah lain yang kurang urgent.

Apa gunanya medali emas olimpiade fisika atau metematika tingkat internasional kalau masih banyak anak-anak yang tidak bisa sekolah, tidak bisa mengecap pendidikan? Agaknya kurang berarti lagi ketika prestasi itu dihadapkan pada sebuah kenyataan pahit bangsa ini.

Pemerintah seharusnya mengurangi politik mercusuar yang selama ini bangsa ini terapkan. Pencitraan orang dan opini public akan terbentuk dengan sendirinya kalau memang kita pantas dihargai karena prestasi kita. Jangan mencitrakan sesuatu yang sebenarnya didalamnya buruk, yang pada akhirnya akan sebegitu hipokrit.

Setelah kita bicara tentang sistem, mungkin masalah yang dari dulu tidak terselesaikan adalah masalah dana. Ya! Dana, janji-janji pemimpin bangsa ini ketika kampanye sepertinya hanya menjadi lips service belaka. Pemenuhan quota 20% anggaran pendidikan selalu saja terkesampingkan dalam setiap pembahasan dan rapat-rapat wakil rakyat itu. Memang setiap tahun anggaran yang dialokasikan untuk pendidikan merangkak meningkat, namun jika dibandingkan dengan anggaran seperti anggaran Hankam dan lain-lain agaknya masih memperihatinkan. Ada dana BOS, namun di beberapa daerah ditemukan penyelewengan, ironis, dana untuk pendidikan saja tega di gelapkan apalagi dana-dana yang lain. Belum lagi dalam ruang lingkup Peguruan tinggi ada wacana BHP yang nantinya akan memberikan ruang bagi pemerintah untuk melepaskan tanggung jawab secara perlahan-lahan dari dunia pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Ujung-ujungnya adalah meningkatnya biaya untuk kuliah, atau memang benar suatu jargon yang mengatakan bahwa pendidikan bukan untuk orang miskin.

Masalah kesejahteraan guru juga seharusnya menjadi titik perhatian dari pemerintah. Guru, semua guru harus mendapatkan sesuatu yang layak, baik itu guru swasta, honorer, guru tetap dan entah apa lagi namanya, namun yang pasti mereka semua guru bangsa yang menentukan arah masa depan bangsa ini. Sertifikasi bukanlah solusi terbaik walaupun sudah lebih baik daripada tidak ada sama sekali perhatian pemerintah terhadap keringat guru-guru kita. Harus ada solusi yang tidak seribet dan sediskriminatif sertifikasi, guru-guru yang sudah tahunan mengajar di pedalaman dengan murid yang sedemikian banyak tentu saja tidak ada waktu untuk mengurus sertifikasi. Semestinya juga semua guru harus mendapat sertifikasi karena mereka semua sama, mereka guru. Tetapi tentu saja hal ini akan dibenturkan pemerintah dengan soal tidak tersedianya dana, lalu apa gunanya sebutan kalau Indonesia itu kaya raya, gemah ripah loh jinawe?

Terakhir teriring doa agar kawan-kawanku yang kemarin berjuang mampu melewati UN, entah itu lulus ataupun lolos. Mengenai pertanyaan-pertanyaan seperti apakah hal ini mampu merevisi kesalahan bangsa ini yang terdahulu dan menjadi semangat bagi pemerintah dan kita untuk mewujudkan pendidikan yang kita harapkan bersama? Kemudian apakah momentum Hardiknas yang belum lama kita peringati akan menjadi titik awal pencerahan bagi pendidikan Indonesia yang sedemikian gelap? Semoga dan kita lihat saja nanti. Untuk Indonesia yang lebih baik. Tabik!

*terinspirasi dari salah satu artikel Soe Hok Gie

*)mahasiswa PBSID 07 FKIP UNLAM

e-mail : ahsani_taqwiem@yahoo.com

Iklan

Satu Tanggapan to “BETAPA TIDAK MENARIKNYA PENDIDIKAN INDONESIA *”

  1. Martabak said

    Saya kurang mengerti tentang manfaat UN maupun penghalang kelulusan lain sejenis itu. Coba bayangkan, setelah bertahun-tahun sekolah dengan segala pengorbanan seorang murid bisa gagal hanya karena beberapa hari yang singkat. Apa pola pikir yang akan terbentuk pada manusia Indonesia dari hal semacam ini? Mereka mungkin tidak pandai untuk beberapa hal tapi potensial untuk hal lainnya.
    Tidak banyak solusi yang menarik. Ujung dari pendidikan-pendidikan yang ada pun masih belum jelas. Apa manfaat pendidikan formal bagi kehidupan mereka di dunia nyata belum banyak diungkap, dan hanya sedikit yang bisa menerapkan ilmu mereka apalagi kalau cuma sebatas SMP. Saya pikir pendidikan yang bermutu adalah ketika murid berhenti sekolah, kapan pun di tingkat atau kelas mana pun mereka tetap memperoleh manfaat juga pengakuan, bisa terus melanjutkan kapan pun mereka ingin melanjutkan. Yang ada sekarang adalah mereka harus sempurna, yang cacat akan dibuang seperti sampah walau hanya gagal di satu hari yang sakral.
    Batasan-batasan yang ada saat ini tidak memberikan banyak alternatif, dan tidak manusiawi. Apa yang kita sebut pendidikan di Indonesia menurut saya lebih mirip “seleksi alam” versi Hitler.

    yah, semoga pemerintah cepat sadar dan menyadari bahwa mereka sedang melakukan hal yang sangat tidak cerdas dan mencerdaskan…
    jabay erat dan tabik!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: