Analogi Hari Ini dan 100 Tahun Lalu

24 Mei 2008

(Sebuah Renungan Hari Kebangkitan Nasional)

Oleh : Ahsani Taqwiem*

Sebulan terakhir kita begitu dihantui oleh gaung kebangkitan nasional, kebangkitan bangsa Indonesia dari masa keterbelakangan seratus tahun lalu. Saat itu para pendahulu kita mendirikan Budi utomo yang menjadi asosiasi harapan dari satu bangsa yang ingin merdeka dan lepas dari cengkraman kolonial waktu itu, meskipun pada awalnya misi organisasi itu hanya mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam ruang lingkup Jawa dan Madura saja. Budi Utomo adalah awal dari perjuangan intelektualitas yang secara perlahan maju ke garis depan mengawal perjuangan fisik yang sudah lebih dahulu dilakukan. Sekarang momentum kebangkitan nasional mencapai tapalnya, 100 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah perjalanan. Inilah titik dimana kita harus menoleh kebelakang dan berbenah untuk melangkah lebih baik.

Mereka, para pendiri Budi Utomo dan itu adalah orang cerdas, orang-orang visioner yang lahir dari rahim alami kultur bangsa Indonesia. Mereka mungkin belum akrab dengan konsep apa itu nasionalisme, atau definisi nasionalisme lahir karena sikap memiliki bangsa yang tumbuh berkat didirikannya Budi Utomo? Di balik itu semua tidak bisa kita elakkan mereka berjuang memang dalam koridor kemerdekaan bangsa dan negara, tanpa intervensi dan kontaminasi dari berbagai macam kepentingan seperti yang terjadi sekarang.

Entah kebetulan atau memang keharusan kita memperingati kebangkitan nasional dalam krisis yang belum berkesudahan. Ekonomi, pendidikan dan persoalan-persoalan mendasar lain yang semakin membuat peringatan 100 tahun kebangkitan nasional agaknya kurang menggembirakan bagi sebagian kalangan. Memang ada sebagian dari kita yang begitu gegap-gempita menyambut moment berbasis sejarah ini, namun masyarakat bawah agaknya mendapat kado khusus dari pemerintah yaitu kenaikan harga BBM yang berimplikasi terhadap harga bahan pangan yang tentu menyulitkan hidup mereka yang memang sudah sedari dulu berkutat dengan sulitnya mempertahankan hidup.

Dunia pendidikan kita pun sepertinya tidak sepenuhnya menyenangkan untuk ditilik. Sebut saja UN yang secara moral gagal total, sangat bertolak belakang dengan moment kebangkitan nasional. Pendidikan seperti apa sih yang mampu menelurkan orang cerdas, seperti para tokoh pendiri Budi Utomo? Bukankah dahulu tidak ada sistem pendidikan KBK atau KTSP? Apa yang salah terhadap dunia pendidikan kita, toh sebenarnya bangsa kita adalah bangsa yang cerdas menurut sejarah. Sebut saja Gajah Mada yang mempersatukan nusantara atau tokoh-tokoh cerdas lain yang menorehkan namanya dalam deretan panjang sejarah bangsa Indonesia. Mengapa dahulu saat didirikannya Budi utomo, dengan begitu sedikitnya orang yang bergelar dokter bangsa ini mampu merdeka, sekarang orang bergelar dokter menjamur dimana-mana namun bangsa ini terus saja berada dalam keterpurukan, mungkin dalam lain soal seperti ketidakbecusan penyelengaraan pemerintahan yang carut-marut. Hal ini harus jadi tolak ukur keberhasilan kebangkitan nasional tentu saja.

Sebaiknya moment langka ini menjadi titik perenungan dan meningkatnya rasa mawas diri bagi seluruh aspek bangsa ini. Apa yang salah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga menerbitkan sikap enggan memperingati moment kebangkitan nasional secara berlebihan. Rekonstruksi semangat harus kita coba bangun kembali agar semangat untuk mewujudkan Indonesia yang sesuai dengan harapan tidak serta merta luntur diterpa sikap pesimisme melihat masa depan bangsa ini. Sikap nasionalisme juga mesti direvitalisasi agar ke depan akan banyak hal positif seperti kebijakan-kebijakan pemerintahan yang berpihak terhadap rakyat karena sikap kekitaan dan kebersamaan dalam berbangsa dan bernegara yang kental serta harmonis.

Apa masalah utama saat ini?

Masalah urgent yang menghambat majunya bangsa ini salah satunya adalah korupsi yang sedemikian akut. Korupsi adalah biang keladi yang harus kita basmi kalau ingin bangsa ini mencapai derajat yang sama dengan bangsa lain di dunia. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu memangkas tingkat korupsi mereka seminimal mungkin, Hong Kong pernah begitu rapuh dengan korupsi dan mafia hukum yang tidak terkendali namun sekarang Hong Kong menjelma menjadi salah satu raksasa dunia akibat mereka mampu keluar dari rantai korupsi yang begitu marak. Rapuhnya poros pemerintahan, pemiskinan rakyat, adalah sedikit dari akibatnya lunturnya rasa kekitaan dan nasionalisme, raya memiliki bangsa ini yang mulai pudar menyebabkan para elit politik bertarung demi kepentingan golongan dan pribadi. Mengenyapingkan amanah rakyat yang mereka emban.

Kebangkitan nasional diprakarsai oleh kaum muda yang peka terhadap keadaan sekelilingnya, itulah yang dibutuhkan bangsa ini. Kaum muda atau kaum terpelajar adalah kaum yang mampu membawa angin perubahan, hal ini adalah fakta sejarah yang tidak bisa kita tutupi. Reformasi di negeri ini juga berkat kaum muda yang kala itu muak dengan bangsa yang berkutat dengan keterpurukan terlalu lama.

Semangat dan idealisme kaum muda terpelajar harus diterapkan dalam usaha penggerusan korupsi. Tanpa melupakan jasa kum tua, pada masanya kaum mudalah yang akan memimpin bangsa ini. Sudah seharusnya kita membenahi dan menata ulang semuanya saat ini agar ke depan saat generasi muda sampai pada tanggung jawab memimpin bangsanya mereka tidak jatuh ke lubang yang sama berkali-kali.

Kita perlu konsen dan komitmen bersama untuk mengatakan tidak pada korupsi, korupsi adalah perbuatan sangat tercela yang berimbas sangat luas. Moral adalah pos yang juga harus kita benahi selaras dengan usaha penegakan hukum yang mesti dilakukan sekarang. Tidak ada tawar menawar lagi untuk hal satu ini. Momentum kebangkitan nasional selayaknya kita jadikan titik awal dari sebuah generasi anti korupsi yang bergerak dengan berorientasi kepada kesejahteraan rakyat dan kemajuan bangsa.

Dengan mewarisi semangat kebangkitan nasional kita tentu sama-sama berharap bahwa akan ada akhir dari semua keterpurukan bangsa ini. Peran kaum muda juga harus lebih garang menyikapi kebijakan-kebijakan pemerintah yang kadang menyeleweng dari tujuan awal reformasi. Tugas generasi muda unutk mengawal perjalan bangsa ini belum tuntas.

Mulai detik ini katakan tidak pada korupsi dan penyelewengan dalam jenis kelamin yang sama. Kebangkitan nasional adalah momentum yang tepat untuk introspeksi dan berbenah dalam segala aspek. Dengan semangat kebangkitan nasional kita ucapkan selamat tinggal pada korupsi. Saatnya bangkit. Untuk Indonesia yang lebih baik. Tabik!

*) mahasiswa PBSID 07 FKIP UNLAM

Ketua FOMAKKS (Forum Orang Muda Anti Korupsi Kalimantan Selatan)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: