Tentang Kenaikan BBM

19 Mei 2008

Oleh : Ahsani taqwiem*

Sayang sekali. Di tengah keterpurukan dihantam badai krisis multidimensi yang begitu akut. Pemerintah tidak bisa mempertahankan janji saat kampanye Pemilu tentang kestabilan harga dan perekonomian, dan sekarang kita dihadapkan pada sebuah fenomena kenaikan BBM yang akan punya implikasi berantai bagi semua lapisan masyarakat. Kebijakan yang sangat tidak memihak rakyat tentu saja.

Hal ini akan menimbulkan pertanyaan mengapa kita mesti terpengaruh meroketnya harga minyak dunia, atau mengapa mesti impor padahal kita kan salah satu negara penghasil minyak? Indonesia memang pernah jadi negara pengekspor minyak namun dalam kurun waktu empat tahun terakhir tingkat produksi minyak kita menurun drastis, penurunannya mencapai 30 persen. Kita sekarang menjadi net oil importir yang berarti jumlah produksi minyak dalam negerinya lebih kecil dari tingkat produksi yang diperlukan untuk memenuhi konsumsi BBM dalam negeri. Bahkan awal tahun 2004 tingkat impor minyak kita melewati apa yang bisa kita ekspor.

Mengacu pada persoalan awal ini saya cenderung menyalahkan pemerintah karena tidak mampu menambah atau setidaknya mempertahankan produktivitas minyak negara ini, dulu produksi kita mencapai 1,4 juta barel per hari, namun saat ini di bawah 1 juta barel per hari. Jika kita mampu mempertahankan produksi minyak tentu dengan naiknya harga minyak dunia maka akan menguntungkan, bukannya seperti sekarang, gagap menerima kenaikan dadakan minyak dunia. Hal ini juga dikarenakan kebijakan eksplorasi besar-besaran yang tidak diimbangi rekondisi dan perawatan alam yang memadai, apalagi minyak bumi bukanlah hasil bumi yang bisa diperbaharui dalam waktu singkat. Pemerintah kita tidak punya rencana jangka panjang untuk meng-cover aset-aset bumi bangsa kita. Ke depan kesalahan fatal ini hendaknya jangan terulang lagi.

Jangan tanyakan kemana keuntungan kerja sama pengekplorasian ladang-ladang bangsa kita dengan bangsa asing, karena kebodohan dan kontrak kerja sama yang buruk maka keuntungan dari kekayaan kita banyak dinikmati bangsa asing. Sangat tidak sebanding dengan apa yang bangsa ini dapat sebagai pemilik lahan.

Ketika kita mencari solusi selain menaikkan harga BBM untuk menyeimbangkan neraca anggaran dan kebutuhan mungkin salah satu solusi yang tidak menyengsarakan rakyat adalah penghematan anggaran seperti penyunatan anggaran belanja dan jalan-jalan lembaga-lembaga negara yang kurang urgent (studi banding keluar negeri, kenaikan tunjangan yang berlebihan, dll), menertibkan keuangan negara (meminimalisasi korupsi dalam setiap aspek penyelenggaraan pemerintahan), menertibkan para pengusaha dan pejabat yang kabur dari kewajiban melunasi pajak serta hal lain yang membebani APBN. Pemerintah juga meggalakkan sikap hemat, hal ini menarik dan efektif kalau apa yang dibicarakan pemerintah dilakukan kongkrit oleh pemerintah sendiri. Kalau beberapa hal tersebut bisa dilakukan maka akan ada solusi yang setidaknya tidak terlalu memberatkan rakyat.

Kalau memang subsidi hanya dinikmati oleh kelopok masyarakat kelas atas apakah tidak mungkin kita lakukan penggolongan konsumen, dipilah mana konsumen kelas borjuis dan mana konsumen kelas bawah, sehingga harga BBM sesuai dengan status masyarakat, yang memang pantas mendapat subsidi yang disubsidi tetapi mereka yang mampu hendaknya tau diri dan diberlakukan harga yang pantas untuk mereka.

Pemerintah juga menyediakan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang sebenarnya tidak tepat, karena tanpa kenaikan BBM rakyat-rakyat miskin itu memang berhak mendapat BLT. Hal itu sudah diatur di dalam UUD negara kita, kita jangan salah kaprah berkat kenaikan BBM maka BLT itu ada, padahal BLT adalah kewajiban dari pemerintahan meskipun BBM tidak mengalami kenaikan.

Ketidaktepatan BLT sebagai kompensasi kenaikan BBM juga terdapat pada prosesnya dilapangan, begitu banyak penyelewengan-penyelengan dana BLT yang terjadi. Salah sasaran serta tidak sesuai peraturan adalah sedikit dari persoalan yang mesti dibenahi pemerintah agar kebijakan BLT dapat berjalan optimal. Selain itu pemerintah juga harus mencari solusi lain yang lebih produktif dari BLT. Rakyat miskin perlu kebijakan yang merangsang mereka untuk produktif dan berproses menjadi masyarakat kreatif. Jangan sampai BLT malah mendidik mereka menjadi malas dan hanya mengaharap uluran tangan orang lain.

Aksi demo yang terjadi belakangan juga hendaknya tidak salah sasaran dan tidak atas dasar kepentingan kelompok tertentu. Sehingga suara yang keluar memang aspirasi dan asosiasi dari keinginan rakyat. Kalau hal ini tidap diperhatikan maka akan mencoreng makna dari perjuangan itu sendiri.

Ketika BBM memang telah naik tentu sebagai masyarakat kita harus bersiap dalam bentuk sesederhana apapun. Mengukur pos-pos mana yang mesti kita pangkas pengluarannya. Strategi penghematan harus mulai disusun dengan penyesuaian terhadap anggaran yang berdasarkan skala prioritas. Selain materi tentu perlu adanya sikap mental yang kondusif sehingga tidak menambah masalah di atas masalah.

Bagi para mahasiswa hendaknya juga lebih bijaksana karena hal ini akan berdampak bagi kita, biaya hidup makin tinggi dibarengi dengan meninggkatnya harga buku-buku yang katanya akan mencapai 30 persen. Nampaknya hal ini akan makin menyulitkan dunia pendidikan kita.

Kenaikan BBM memang tidak bisa kita hindari, namun pemerintah harus lebih pro aktif mencari solusi yang memihak rakyat agar dampaknya tidak terlalu menyulitkan bagi seluruh masyarakat. Semoga saja akan ada jalan keluar yang bisa mengurangi rantai masalah yang diakibatkan kenaikan BBM. Untuk Indonesia yang lebih baik. Tabik!

*) mahasiswa PBSID 07 FKIP UNLAM

e-mail : ahsani_taqwiem@yahoo.com

Iklan

Satu Tanggapan to “Tentang Kenaikan BBM”

  1. Bri said

    BLT?? saya rasa ini konyol, kayak tukang obat yang nyebarin penyakit, lalu ngejual obat penawarnya (eh bukan ngejual ding, memberi… biar dikira pahlawan, oh kacau!!!).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: