AYAT-AYAT CINTA SALAH ASUHAN

13 Mei 2008

(CATATAN KECIL DARI PENIKMAT NOVEL AYAT-AYAT CINTA)

Oleh : AHSANI TAQWIEM*

Akhirnya, sebuah kata yang mengalir tulus ketika saya, akhirnya duduk di pojokan studio Bioskop 21 Banjarmasin, di atas sebuah bangku nyaman di ruangan mahal tersebut. Setelah beberapa kali salah tempat duduk, sebagai seorang yang baru pertama kali nonton di bioskop. Ya! baru pertama kali ke bioskop, dan alasan saya mengakhiri masa ndeso saya tersebut adalah sebuah film, film ke dua yang mampu membuat saya menunggu selain film favorit saya pertama berjudul GIE, sebuh film yang berangkat dari novel luar biasa buah tangan Habiburrahman EL Shirazy.

Mengingat artikel oleh Sainul Hermawan yang menyarankan agar tidak kecewa menyaksikan film ini kita harus menghapus ingatan kita dan meyakinkan diri kita bahwa novel Ayat-Ayat Cinta tidak pernah ada. Namun nampaknya usaha kita akan berakhir sia-sia, kita(saya) tidak akan mungkin melakukan hal tersebut, karena kita akan sangat bergantung dari imajinasi kita terhadap novel itu agar bisa memahami film itu sendiri, tepatnya pada bagian awal film yang terpatah-patah dan sedikit membingunkan bagi yang belum pernah membaca novel itu sendiri.

Setelah melawati kurang lebih dua jam di ruangan mewah tersebut kesan pertama saya adalah tidak mengecewakan tapi juga tidak terlalu istimewa. Namun yang pasti adalah tidak sesuai harapan. Kekecewaan pertama adalah berasal dari diri saya sendiri. Kenapa? Karena kita(saya) kadung sudah terlalu berharap film ini akan secara menakjubkan memvisualisasikan imajinasi kita terhadap novel tersebut atau paling tidak imajinasi yang tercipta akan sama dengan apa yang tertuang dalam novel AAC yang wah tersebut. Kita seperti lupa bahwa roh dari film ini berbeda dengan roh dari novel best seller yang meledak tesebut. Dengan roh yang berbeda hasilnya juga akan berbeda. Kita perlu meyakinkan diri kita bahwa film ini adalah hasil interpretasi dari seorang Hanung, meskipus ada nafas dari Kang Abik, namun keikutsertaan beliau sangat kecil dan front men dalam film ini tetap Hanung Bramantyo.

Kesalahan kedua adalah penunjukan MD Entertainment. Kenapa salah? Coba tengok produk-produk dari production house satu ini di chanel-chanel televisi kita, ingat lagi sinetron Bawang Merah Bawang Putih atau sinetron cengeng Cinta Fitri, adakah yang berkualitas dan mendidik? Saya kira belum ada, yang mereka hasilkan hanya sinetron-sinetron kacangan dengan tema-tema klise dan pasaran. Mereka hanya menjual nama besar artis-artis pujaan anak muda demi rating dan keuntungan. Saya cukup heran kenapa Kang Abik mengulangi kesalahan ini dua kali? Dulu sebelum AAC diangkat ke layar lebar, kumpulan cerita-cerita Islami karya beliau yang berjudul DI ATAS SAJADAH CINTA pernah dibuat FTV-nya, hasilnya juga tidak luar biasa kalau tidak bisa dikatakan gagal, bahkan mungkin ada sebagian masyarakat yang tidak tahu sama sekali akan hal ini.

Bagi yang mengikuti isu AAC ini tentu kita pernah mendengar bahwa alasan dari pengunduran jadwal tayang film ini adalah karena kekecewaan sang penulis novel terhadap film satu ini. Dan meskipun beliau kecewa terhadap film ini, toh film ini mau tidak mau harus keluar, karena promosinya sudah berdengung jauh-jauh hari sebelumnya.

Setelah selesai duduk manis di depan film AAC saya merasa ada tanda tanya besar yang tidak dapat saya cari jawabnya dari hasil nonton perdana saya itu. Demi menenangkan diri karena penasaran saya baca lagi novel AAC pada malam harinya dan menemukan apa yang saya dapatkan di novel namun seperti menghilang pada film yang saya tonton siang hari tadi.

Pertama, kita tidak akan menemukan Fahri karya Kang Abik? Karena yang ada adalah Fahri hasil pemikiran Hanung. Di dalam novel kita akan dibawa ke ranah di mana betapa berat perjuangan fahri bertahan hidup dengan membanting tulang belajar, menerjemah dan menceritakan kesungguhan hatinya menuntut ilmu agama yang salah satunya dengan talaqqi walaupun harus menempuh jarak yang cukup jauh, cerita yang semestinya dipaparkan Hanung pada awal film sepertinya hilang dan yang kita dapati hanya fahri yang sepertinya begitu lelah dalam masa pencarian jodoh. Bahkan fahri pun tampak begitu lemah, berbeda dengan fahri dalam novel yang begitu kuat dan tabah. Tengok kejadian penting yang semestinya di angkat Hanung lebih banyak namun tidak di lakukannya, adegan di metro. Adegan ini menurut saya penting di dalam novel karena di sini akan memuat pandangan Islam terhadap perbuatan orang-orang kafir dan bagaimana menyikapinya secara islami, namun adegan ini begitu cepat berlalu. Di dalam novel kita dapati Fahri mampu meluluhkan hati orang mesir yang berbuat zalim terhadap turis asal Amerika yang dibelanya, di sana kita melihat Fahri yang cerdas, lembut, dan kuat. Dan pada film saya cukup terkejut karena part ini berujung Fahri yang tersungkur karena menerima bogem mentah hasil kemarahan orang mesir terhadapnya. Ini membuktikan Hanung dan Kang Abik berbeda, Kang Abik menceritakan fahri mampu membuktikan bahwa hati penduduk mesir sangat lah lembut jika kita mampu menyentuhnya, namun bertentangan dengan apa yang terjadi di dalam film.

Ke dua, kalau pada novel kita seakan terhipnotis akan penyuguhan Kang Abik menceritakan detail kota mesir, ada fatamorgana kota seribu menara yang eksotis di novel setebal 413 halaman tersebut yang sangat indah dan memabukkan. Namun yang kita dapati dalam film hanyalah gambar-gambar kejadian yang hampir separuhya di dalam ruangan, in door. Novel AAC begitu memikat karena Kang Abik mampu menghadirkan Mesir ke depan mata pembacanya namun seribu satu keelokan dan keeksotisan Negeri Mesir menghilang di tangan Hanung yang tentu saja karena kendala teknis memaksa kita untuk memakluminya bersama.

Ke tiga adalah mengenai jalan cerita yang menurut saya terlalu cepat, ketika kita menonton film kita seperti di bawa pada sebuah ritme kehidupan Fahri yang berputar cepat yang pada akhirnya kita hanya mendapati Fahri di kejar deadline untuk segera menikah. Padahal menurut saya masih banyak sisi-sisi cerita novel yang sangat bagus dan urgent untuk di angkat sebelum Hanung masuk ke persoalan utama Sang Fahri tersebut. Persoalan persoalan seperti bagaimana Fahri memilih dan menetapkan criteria jodohnya sebagai seorang muslim seakan hilang, bagaimana Fahri beristikharah sebelum menetapkan hatinya untuk menikah juga tidak ada, bagaimana indahnya cinta yang di jalani secara Islami, pesona malam zafaf yang di jalani sesuai syar’i, taaruf, talaqqi dan lain-lain juga seperti pudar dengan lebih banyaknya adegan konflik Fahri kontra Noura, yang juga penting, namun tidak mesti melupakan esensi dakwah novel itu sendiri.

Ke empat, setelah kita di pusingkan dengan tokoh-tokoh dalam novel yang hilang dalam film, atau kita kecewa dengan aktor-aktor yang seakan menabrak imajinasi pertama kita, para pembaca novel AAC, saya lebih kecewa karena adegan yang sudah ada dalam kepala saat akan menyaksikan novel ini hilang, adegan yang memunculkan ciri khas seorang Habiburrahman, sebuah surat. Kalau kita sudah menamatkan membaca novel AAC tentu kita mampu merasakan dasyatnya surat-surat dalam novel tersebut, baik surat Noura, surat ratapan Nurul maupun surat ketegaran Fahri untuk Nurul, saya sendiri sempat terharu-biru karenanya, Kang Abik selalu memberikan kata-kata yang melumat dan mengiris-iris hati pembacanya melalui sepotong surat. Dan hal ini terlupakan oleh Hanung, kalau kita meneteskan air mata saaat membaca surat dalam Novel AAC, hal ini tidak akan terjadi karena adegan surat akan berlalu begitu saja dalam Film tersebut. Bayangan ketika air mata Fahri meleleh karena membaca sepucuk surat di malam hari yang sunyi dengan latar musik yang begitu pilu tidak akan anda temui.

Karena ada bagian-bagian yang hilang tentu kita juga akan mendapati bahwa ada juga bagian-bagin yang baru lahir dalam film ini, di novel kita tidak akan mampu mengimajinasikan bagaimana kehidupan poligami yang di jalani Fahri bersama ke dua istrinya yang sama-sama mencintainya. Bagi pembaca AAC yang mencari bagian tersebut maka di film AAC tersedia jawabannya. Hanung secara briliant, dalam hal ini menambahkan bumbu novel AAC, menggamblangkan bahwa bersikap adil bukanlah sesuatu yang mudah bahkah bagi laki-laki se-lurus Fahri sekalipun.

Hanung juga masih menunjukkan tajinya sebagai salah salah satu sutradara muda berbakat Indonesia. Tengok latar dan setting yang di buatnya, meskipun serupa tapi tak sama. Dengan lokasi syuting di India dan Semarang, Hanung mampu membuai kita dengan sulapnya membawa dua lokasi syuting itu masuk ke peradaban di lembah sungai nil, meskipun tidak sempurna tentunya. Hanung juga seakan membuktikan bahwa Indonesia punya banyak sisi keindahan yang belum di garap oleh sutradar-sutrada lain, kita patut bangga akan hal ini.

Film ini memang sedikit mengecewakan bagi kita, pembaca AAC, karena tidak mampu memuaskan keinginan kita tentang sebuah film Islami yang tidak komersil. Hal ini membuktikan, setidaknya di Indonesia, belum ada Film yang 100% mampu menyamai kesuksesan novel itu sendiri. Dengan tidak mengenyampingkan dunia luar, karena di luar kita tidak bisa melawan arus suksesnya trilogy Lord Of The Ring atau menafikan film The Da Vinci Code yang di dahului novel karya Dan Brown, dunia film Indonesia masih harus banyak berbenah menuju dunia perfilman indonesia yang lebih baik.

Meskipun ada pro dan kontra setidaknya film ini pada akhirnya mampu memberikan variasi pada film-film Indonesia yang monoton dengan tema-tema basi-nya. Novel AAC menjadi titik awal bangkitanya sastra Islami Indonesia yang mati suri dan saya berharap film ini juga demikian, mampu mendobrak film-film indonesia yang melulu love, setan-setan buruk rupa atau yang lagi hangat, film porno bekedok komedi, menyedihkan. Film ini menjadi satu pilihan di antara pilihan-pilihan yang menurut saya tidak terlalu bagus di tonton. Semoga euphoria film AAC mampu membangkitkan dunia perfilman kita.

Terakhir, karena sedikit kecewa akan film besutan Hanung Bramantyo ini saya berfikir nyeleneh, ini kan interpretasi Hanung, bagaimana kalau kita dukung film ini di bikin ulang dengan sutradara yang berbeda, misalnya sutradara sekelas Riri Riza, sutradara muda favorit saya, yang sukses membedah buku catatan seorang demonstran yang sangat kompleks menjadi film GIE yang meraih 3 piala citra, atau bahkan kita berikan film ini dalam genggagaman sineas kocak Indonesia yaitu Dedy Mizwar, yang mampu membawa sosok usang Naga Bonar kembali berjalan tegak di zaman modern ini. Meski perlu pembuktian lebih jauh namun ini hanya ide yang meluncur begitu saja dari penikmat dan pengagum novel AAC, sehingga AAC tidak lagi salah asuhan. Terima kasih.

*mahasiswa PBSID FKIP UNLAM

Iklan

5 Tanggapan to “AYAT-AYAT CINTA SALAH ASUHAN”

  1. SHALEH said

    Pertamaxxx ei salah premium. Maklum lagi antre. Ayat2 cinta apaan to, mana baiknya dari ayat2 setan. Hahahaha

  2. F415 said

    Salam Kenal…..

    hidup Ngeblog…….

    http://ateonsoft.wordpress.com/

  3. ahsani taqwiem said

    hidup ngeblog

  4. anas said

    kekecewaan jg aku rasain.saya jg baca novelnya.jauh lbh bagus novelnya.dr awal film nya aja udah beda.detik itu juga saya merasa gak ngeh..kasian orang yg gak pernah baca novelnya, pasti agaka bingung.palagi para dubes negara asing yg diajak SBY nonton filmnya, gimana ya penangkapan yg berhasil mereka tangkap????
    apalagi bagi mereka yg gak fasih bahasa indo n arab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: