Mencari Jejak Relung Ibu

20 Juni, 2009

dimuat di Radar Banjarmasin edisi 14 Juni 2009

Angin lembut mengelus-elus pipiku. Senja yang luar biasa. Rona jingga ditambah udara gunung membuat hati nyaman. Masih sama seperti beberapa tahun lalu. Memaksa gurat-gurat kenangan dalam jiwaku kembali terlempar ke masa lalu. Rasanya hampir genap dua tahun aku meninggalkan desa ini, tempat tangisan pertamaku pecah. Desa di mana aku diazankan oleh ayah dan di kecup berulang-kali oleh ibu. Mereka orang-orang yang percaya, bahwa kebahagiaan turut lahir bersama bayi yang telah hadir ketengah-tengah mereka. Sebuah nyala harap yang berlebihan. Namun memang seperti itu bagi mereka, orang tuaku. Baca entri selengkapnya »


Menunggu Ketika Cinta Bertasbih

31 Mei, 2009

Masih tergambar jelas di mata saya mengenai ‘kelatahan’ dan begitu meriahnya novel dan film Ayat-Ayat Cinta (AAC). Dalam hitungan hari maka masyarakat Indonesia kan disuguhkan sebuah novel yang berangkat dari pengarang yang sama, Ketika Cinta Bertasbih (KCB) karya Habiburrahman El Shirazzy. Bagi penyuka film dan penggemarnya maka moment ini adalah saat yang paling di tunggu, karena visualisasi pembaca novel akan terjawab ketika filmnya sudah dapat disaksikan. Terlepas dari sama atau tidaknya film dan novelnya. Ada beberapa perbedaan mencolok ketika kita mencoba menilik antara AAC dan KCB. Perbedaan itu antara lain adalah dari tempat pengammbilan gambar film, kalau AAC mengambil tempat di tanah air yang disulap sedemikian rupa agar mirip dengan mesir yang menjadi setting AAC. Hal ini tidak terjadi pada KCB, film ini katanya ‘benar-benar’ mengambil tempat sama dengan settting dan latar pada novel tersebut. hal ini tentu akan berpengaruh pada rasionalisasi cerita dan pendapat penonton, jika penonton AAC terlalu berharap dan mereka sedikit kecewa maka hal ini dihindari pada film KCB. Mesir, Kairo, Al-Azhar akan digambarkan utuh dan ‘asli’ pada film KCB kali ini. Perbedaan ke dua terdapat pada pemeran film, jika AAC mengambil artis-artis yang sudah matang di dunia keartisan, maka jalan lain diambil untuk film KCB. Semua pemeran dicari lewat proses audisi yang panjang, hal ini dilakukan agar gambaran mengenai pemeran dan tokoh di novel benar-benar dekat. Dari cerita juga akan menawarkan perbedaan, kalau AAC katanya ‘melenceng’ dari cerita novelnya. Hal ini juga ‘katanya’ tidak akan terjadi pada film ‘KCB’. Tak banyak yang bisa dikatakan karena cuma nonton trailer n behind the scene yang doank, hehehehe. Tentu ada banyak hal yang membuat film ini pantas di tonton dan ditunggu. Semoga saja film ini benar-benar layak ditunggu dengan biaya yang katanya tidak main-main.


Ingin

30 April, 2009

kalau disuruh memilih, aku pengen banget jadi anak kecil saja,,,

tak terlalu tau banyak tentang hidup, jadi tak terlalu punya beban untuk menghela setiap nafas…

tapi semua itu hanya sebatas keinginan, tak mungkin terjadi…

karena kita terus tumbuh, merengkuh dan mengeluh…

dan kadang jadi terlalu sulit mengambil keputusan, karena terlalu banyak pertimbangan…


bisa bantu

15 April, 2009

Kalo disuguhin tanggung jawab yang teramat besar, apa yang akan kalian lakukan?


Bisu

30 Maret, 2009

Kadang memang diam mampu menjadi tameng, ketika kata-kata tak lagi ampuh meredakan gelisah…
Bercinta dengan diam begitu mengasikkan, bahkan ketika waktu terlalu sulit dihentikan…
namun diam bisa menghujam, mengendap diam-diam, hingga kita terjerumus dalam kehampaan…