Truk Dan Aku, Kemudian Bingung

4 Juni, 2008

Saya adalah orang yang setiap hari melewati jalan-jalan antara kota tempat tinggal ke kota tempat kampus berada (Martapura-Banjarmasin). Tentu saja jalan-jalan antara ke dua kota itu tidak terlalu besar dan permasalah yang mulai terjadi adalah kemacatan dan debu yang berlebihan.

Menjengkelkan memang, bagi kita pengguna jalan yang biasa-biasa saja terkadang merasa tertindas jika truk-truk pengangkut barang tambang itu melintas terlalu jumawa, begitu cepat dan begitu saja tentunya. Sebagai orang awam tentu kita akan terpikirkan, apa yang mereka beri setelah menguras habis banua kita. Devisa, devisa untuk siapa? saya kira uangnya lebih banyak masuk ke kantong-kantong jas mahal mereka.

Apa yang mereka sisakan untuk kita? debu-debu yang menyesakkan pastinya, kemudian kematian yang di akibatkan cara menyetir sopir-sopir truk itu yang kadang sepertinya kalap dan gelap mata. Pada akhirnya setelah barang tambang itu habis mereka (bos-bos dan para investor asing itu) meninggalkan dan mencampakkan kita, benua yang harusnya kita jaga turun-temurun. Hasilnya, kita tidak punya lagi bahan tambang untuk menghidupi daerah kita sendiri dan kemungkinan bencana alam menimpa akan semakin besar, mengenaskan.

Semoga tidak akan terjadi tentu saja, dan semoga mereka lebih bisa mengerti bahwa yang mereka ambil itu adalah milik masyarakat. sehingga mereka sedikit mengerti ada sesatu yang mesti mereka lakukan untuk membagi hasil tambang itu kepada masyarakat. Sehingga bukan debu saja yang mereka sisakan untuk kita.

Pemerintah seharusnya lebih memihak rakyat, jangan hanya tergiur keuntungan yang besar kemudian begitu saja menyerahlan lahan itu pada para penambang itu. Harus ada kejelasan timbal balik dan recovery lahan dari mereka.

Memang masalah ini tidak sesederhana apa yang sedang saya utarakan, namun agaknya kalau dibiarkan berlanjut maka masalah yang kita hadapi juga tidak sesederhana yang kita kira.

semoga kita lebih bijak.

jabat erat dan tabik!


Tentang Mati Muda

21 Mei, 2008

Banyak tokoh-tokoh yang menginpirasi anak muda, termasuk saya, tokoh-tokoh itu biasanya punya sesuatu yang agak berbeda terhadap mainstream atau punya makna perlawanan pada masanya. Hal ini sangat cocok dengan kebiasaan remaja yang suka terhadap sesuatu yang mereka anggap keren, berbeda dan bisa mereka banggakan atau mereka tiru.
Salah satu yang saya gandrungi mungkin Khairil Anwar dan Soe Hok Gie, mereka berdua adalah pribadi yang sangat berbeda namun juga memiliki sisi-sisi persamaan. Mereka adalah orang yang berjuang menentang apa yang mereka anggap tidak bisa dibiarkan mendarah daging, Khairil misalnya, ia melawan dengan puisi. Ia mencoba membuktikan bahwa bahasa Indonesia kebanyakan mampu direkonstruksi menjadi puisi yang dinamis, dalam dan penuh makna.
Soe (GIE) berjuang lewat pemikiran dan tulisan-tulisannya yang inspiratif dalam masanya. Ia adalah tokoh intelektual pembaruan tahun ’66, ia tidak maju namun ia menggerakkan dengan tulisan dan contoh perbuatan.
Sangat banyak yang bisa kita tiru sebenarnya namun celakanya anak muda biasanya salah memaknai perjuangan mereka. Para remaja biasanya mengambil mentah-mentah perjalanan hidup mereka. Contohnya banyak yang mengimpikan mati muda kemudian tercatat dalam sejarah, begitu saja. Padahal kalau mereka tidak mati muda tentu saja mereka bisa berbuat lebih dari apa yang kita dapat lacak sekarang. Hidup dengan minggalkan jejak sejarah akan lebih baik dibanding torehan hidup singkat namun dengan torehan sejarah yang sama atau lebih buruk.
Tabik!