Darah Perjuangan Mahasiswa

24 Mei, 2008

Oleh : Ahsani Taqwiem*

Memilukan. Trauma menyedihkan itu datang lagi. Memori berdarah perjuangan mahasiswa terulang kembali. Kali ini yang mejadi titik perjuangan mahasiswa yang dibalas anarkis oleh aparat itu terjadi di Universitas Haluoleo (Unhalu) di kendari, Sulawesi-Utara. Sebelum kita berpendapat lebih jauh dan lebih dalam agaknya kita perlu dan harus merunut kembali apa persoalan pemicu insiden berdarah di daerah itu.

Sejauh yang saya ketahui insiden itu dimulai dengan kejadian penggusuran, atau agar lebih enak dan halus didengar dalam birokrasi Indonesia kita lebih sering mendengarnya dengan sebutan “penertiban” PKL oleh Asrun, Wali kota Kendari. Masyarakat kecil, yaitu para pedagang kaki lima yang tertindas itu merasa keputusan Wali kotanya itu sangat tidak bijaksana, mereka pun melawan, karena yang mereka lawan dan coba “sadarkan” itu orang nomor satu di daerah itu. Masyarakat dan para pedagang kali lima itu pun kemudian meminta bantuan advokasi kepada mahasiswa, tentu saja dan sebuah keharusan bagi mahasiswa untuk membantu masyarakat, apalagi yang mereka perjuangkan adalah nyawa, keadilan, dan hak hidup orang kecil. Baca entri selengkapnya »


Di Antara Ketakutan dan Kekuatan

24 Mei, 2008

Oleh: Ahsani Taqwiem*

Entah hal apa yang membuat saya pada suatu pagi terpikir tentang dua kata ini, ya, ketakutan dan kekuatan. Dua kata yang hampir mirip dalam beberapa huruf namun sangat kontradiktif satu sama lain. Ketika kita merasa punya sesuatu yang besar menggelegak dalam fantasi atau pikiran-pikiran kita, bisa jadi itu adalah sebuah kekuatan yang mungkin akan mampu merubah sesuatu yang memang seharusnya kita rubah, sejak dulu kala. Namun bisa juga seiring makin jauhnya kita berfikir, hal-hal visoner dan briliant itu seakan tenggelam ketika kita di hadapkan pada kekuatan-kekuatan yang secara hierarki jauh di atas kita dan melahirkan ketakutan pada diri kita tentu saja, kita yang hanya menjadi pion-pion tak berdaya atau berlakon jadi tak berdaya.

Dalam konteks saya suatu ketika, kita, para mahasiswa semisal punya pemikiran-pemikiran yang menjadi solusi atas bobroknya sebuah institusi atau bisa jadi punya kritik-kritikan tajam yang mencerahkan kegelapan sebuah sistem, sebut saja kampus misalnya, yang menjadi ruang lingkup bermasyarakat seorang mahasiswa. Kita akan dihadapkan pada beberapa pilihan, bersuara, atau diam dan terdiam, bahkan tidak jarang terkesan menyedihkan. Tidak perlu kaget atau bingung ketika kita berbicara kenyataanya pada masa ini yang terjadi adalah banyak dari kita, mahasiswa, yang memilih diam dari pada menyuarakan apa yang seharusnya kita suarakan. Kita seakan lupa bahwa itu adalah sebuah tanggung jawab yang sudah ada terpikul di pundak kita walaupun semuanya itu tidak akan kita dapati secara hitam di atas putih. Masih pantaskah kita para mahasiswa berbusung dada dan bangga dengan ungkapan-ungkapan lusuh seperti “ mahasiswa, agent of change”, padahal ketika jargon itu kita lemparkan ke public tanpa dibarengi bukti dan fakta-fakta perjuangan di lapangan yang kuat dan memasyarakat, jargon itu hanya akan jadi sebuah judul hebat sebuah buku best seller namun dengan isi buku yang teler, ironis. Baca entri selengkapnya »