29 Juli, 2008
dimuat di Radar Banjarmasin edisi 28 Juli 2008
Unlam mengukir sejarah, sejak tanggal 21-24 Juli 2008 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat mengadakan simposium dengan ruang lingkup international bertajuk The 5th Simposium Inter dengan ruang lingkup international bertajuk The 5th Symposium Internasional of Journal Antropologi Indonesia. Acara berkelas ini dihadiri sekitar 200 orang Antropolog dari berbagai negara seperti Amerika, Australia, Jepang, Thailand, dan Brunei Darussalam serta dari berbagai daerah di Indonesia, dari universitas terkemuka di Indonesia seperti Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, Universitas Udayana, Universitas Gadjah Mada, Universitas Padjajaran berbaur dengan Antropolog International yang larutjajaran berbaur dengan Antropolog International yang larut dalam kemeriahan kegiatan akbar kali ini. Baca entri selengkapnya »
& Komentar |
sok bisa nulis | Ditandai: simposium, simposium internasional ke 5, unlam |
Permalink
Ditulis oleh ahsani taqwiem
21 Juni, 2008
dimuat di Radar Banjarmasin terbitan 20 Juli 2008
Pancasila adalah ‘sesuatu ‘ yang katanya ada sejak dahulu kala dan benar-benar berasal dari nilai-nilai luhur sebuah bangsa bernama Indonesia. Pancasila yang konsep awalnya diremikan tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI dianggap suatu dasar dan arah kita dalam kegiatan berbangsa dan bernegara, ke sanalah kita berpulang dalam membangun negeri. Pancasila jugalah tempat berkumpulnya hakikat dan identitas kita sebagai bangsa, yang dalam posisi normal seharusnya Pancasila teraktualisasi dalam setiap aspek hidup dari bangsa Indonesia. Baca entri selengkapnya »
& Komentar |
sok bisa nulis | Ditandai: bangsa, bangsaku, keadaan pancasila, pancasila, reformasi, revitalisasi |
Permalink
Ditulis oleh ahsani taqwiem
24 Mei, 2008
(Sebuah Renungan Hari Kebangkitan Nasional)
Oleh : Ahsani Taqwiem*
Sebulan terakhir kita begitu dihantui oleh gaung kebangkitan nasional, kebangkitan bangsa Indonesia dari masa keterbelakangan seratus tahun lalu. Saat itu para pendahulu kita mendirikan Budi utomo yang menjadi asosiasi harapan dari satu bangsa yang ingin merdeka dan lepas dari cengkraman kolonial waktu itu, meskipun pada awalnya misi organisasi itu hanya mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam ruang lingkup Jawa dan Madura saja. Budi Utomo adalah awal dari perjuangan intelektualitas yang secara perlahan maju ke garis depan mengawal perjuangan fisik yang sudah lebih dahulu dilakukan. Sekarang momentum kebangkitan nasional mencapai tapalnya, 100 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah perjalanan. Inilah titik dimana kita harus menoleh kebelakang dan berbenah untuk melangkah lebih baik.
Mereka, para pendiri Budi Utomo dan itu adalah orang cerdas, orang-orang visioner yang lahir dari rahim alami kultur bangsa Indonesia. Mereka mungkin belum akrab dengan konsep apa itu nasionalisme, atau definisi nasionalisme lahir karena sikap memiliki bangsa yang tumbuh berkat didirikannya Budi Utomo? Di balik itu semua tidak bisa kita elakkan mereka berjuang memang dalam koridor kemerdekaan bangsa dan negara, tanpa intervensi dan kontaminasi dari berbagai macam kepentingan seperti yang terjadi sekarang. Baca entri selengkapnya »
Leave a Comment » |
sok bisa nulis | Ditandai: 100 tahun lalu, analogi, bangsa ini, hari kebangkitan nasional, korupsi |
Permalink
Ditulis oleh ahsani taqwiem
24 Mei, 2008
(Ikhtisar menyoal pendidikan kita akhir-akhir ini)
Oleh : Ahsani Taqwiem*
Untuk menilai bagaimana kualitas pendidikan kita agaknya bisa dilakukan dengan hanya melihat satu hal. Ya! Ujian nasional, baik yang lebih dulu dilaksanakan untuk SMA sederajat, kemudian disusul pelaksanaan untuk tingkat SMP sederajat, kemudian yang terbaru untuk adik-adik kita di Sekolah Dasar. Meningkatkah kualitas pendidikan kita? Secara umum agaknya hanya jalan ditempat kalau tidak bisa kita katakan semakin buruk dan terpuruk. Contoh terdekat lihat saja dalam hal pelaksanaan ujian nasional itu sendiri. Hampir di seluruh bagian negeri ini tergambar ketidak becusan pelaksanaan UN, UN yang sangat penting sebenarnya menurut pemerintah untuk mengukur seberapa meningkat kadar intelektualitas di Negeri bernama Indonesia. Mereka harus berjuang melewati hadangan Ujian Nasional yang punya konsekuensi begitu besar, ketika mereka tidak mampu melewatinya seperti yang diharapkan maka tidak lulus adalah sebuah harga mati yang sangat mengerikan bagi kawan-kawan kita itu. Apakah hasil belajar dan berproses selama tiga tahun hanya dinilai dalam tiga hari atau hanya dilihat dari nilai beberapa mata pelajaran belaka? Kemana perginya otoritas guru-guru kita yang mengikuti perkembangan anak muridnya dari hari ke hari, yang tahu betul ambang batas kemampuan kognitif yang dimiliki anak didiknya? Ketakutan yang berekonstruksi menjadi beban psikologis yang sangat akut tentu saja akan menggerogoti rasa percaya diri terhadap kemampuan yang kawan-kawan miliki untuk melewati ujian tersebut dengan baik. Akhirnya hasil terhadap UN itu sendiri akan sangat tidak optimal.
Rasa jengah dan depresi diakui atau tidak terasa sekali dalam detik-detik yang sepertinya menentukan hidup dan matinya seseorang, dan ini bukan hanya guyonan. Ini adalah tentang hidup dan mati, bukan hanya hidup matinya pendidikan di negara ini tetapi juga hidup mati dalam arti sebenarnya, lihat dalam beberapa tahun terakhir, sudah berapa nyawa yang melayang karena tidak mampu melewati standarisasi yang sudah disahkan. Pendidikan kok menghasilkan kematian? Baca entri selengkapnya »
1 Komentar |
sok bisa nulis | Ditandai: buruknya pendidikan, indonesia, pemerintah, pendidikan, pendidikan di indonesia, pendidikan kita |
Permalink
Ditulis oleh ahsani taqwiem
24 Mei, 2008
(catatan harapan buat KPK)
Oleh : Ahsani Taqwiem*
“Mau tau gak mafia di Senayan …
Kerjanya tukang buat peraturan …
Bikin UUD ujung-ujungnya duit”
Beberapa waktu belakangan saya sedikit tersenyum dan mulai optimis tentang penegakan hukum di Indonesia khususnya mengenai masalah korupsi. KPK sepertinya mulai mampu bangkit dan melewati masa-masa suram dengan segala masalah internalnya. KPK yang dibentuk pada 29 Desember 2002 berdasarkan UU no. 30 tahun 2002 perlahan menjadi institusi yang memang benar-benar berorientasi untuk mengejar dan menghakimi para koruptor di Negara ini.
Apalagi di bawah kepemimpinan Antasari Azhar kelihatan sekali perubahan kinerja yang sangat signifikan. Memang sudah waktunya institusi ini bertransformasi menjadi mata pisau dari harapan masyarakat Indonesia dalam hal pemberantasan KKN yang sejak zaman reformasi sepertinya hanya menjadi lips service dan bualan-bualan mimpi saat kampanye belaka.
KPK juga sangat cerdas akhir-akhir ini, masih segar dalam ingatan kita bersama bagaimana Slank sebagai icon anak muda yang peduli dengan nasib bangsa ini digandeng dengan lagu-lagu mereka yang begitu jujur dan kritis, senang rasanya membayangkan muka-muka penjahat bersafari itu merah pada saat tersentil lirik-lirik pedas itu. Baca entri selengkapnya »
Leave a Comment » |
sok bisa nulis | Ditandai: bangsa ini, harapan, korupsi, KPK |
Permalink
Ditulis oleh ahsani taqwiem