Mencari Jejak Relung Ibu

20 Juni, 2009

dimuat di Radar Banjarmasin edisi 14 Juni 2009

Angin lembut mengelus-elus pipiku. Senja yang luar biasa. Rona jingga ditambah udara gunung membuat hati nyaman. Masih sama seperti beberapa tahun lalu. Memaksa gurat-gurat kenangan dalam jiwaku kembali terlempar ke masa lalu. Rasanya hampir genap dua tahun aku meninggalkan desa ini, tempat tangisan pertamaku pecah. Desa di mana aku diazankan oleh ayah dan di kecup berulang-kali oleh ibu. Mereka orang-orang yang percaya, bahwa kebahagiaan turut lahir bersama bayi yang telah hadir ketengah-tengah mereka. Sebuah nyala harap yang berlebihan. Namun memang seperti itu bagi mereka, orang tuaku. Baca entri selengkapnya »