Entahlah

Sedang ingin menulis, tapi bingung mau nulis apa. Tapi sudahlah, nulis yang dekat-dekat saja. Saat sedang OL ini, di depan saya sedang berlangsung kuliah oleh Dr. X. Mungkin hal ini bisa dikaitkan dengan makna profesionalitas. ceritanya begini:

Beliau adalah dosen yang cukup punya nama dan disegani. Tidak hanya karena kegaharannya tetapi juga dedikasi dan kedalaman ilmu beliau, terutama dalam hal sastra. Ada banyak cerita ketika beliau mengajar. Ada yang suka namun ada juga yang tidak senang, memang begitulah, kita tidak bisa membuat semua orang senang. Beliau cukup keras dan cukup perhitungan dalam memberi nilai terhadap mahasiswa. Dalam hal sastra beliau juga tidak hanya ngomong teori, tetapi punya bukti melalui beberapa karya-karyanya.
Dosen ini terkenal eksentrik dan punya satu ciri khas, ada sesuatu yang sering beliau pakai sebelum perubahan itu terjadi. Konon khabarnya, perubahan itu terjadi ketika beliau jatuh sakit. Sakit yang membuat beliau harus istirahat cukup lama. Waktu berlalu, sekembalinya ke kampus beliau berubah 180 derajat. Konon juga, beliau menjadi aktivis keagamaan.
Tidak salah, malah bagus, apalagi beliau mendalami ilmu agama dengan sungguh-sungguh. Namun yang menurut saya kurang tepat adalah implikasi yang beliau lakukan terhadap proses perkuliahan. Misalnya begini, beliau pernah pergi ke India selama berbulan-bulan dan meninggalkan mahasiswa beliau tanpa bekal materi yang seharusnya mereka dapatkan. Sekali lagi ini bukan masalah agama, tetapi tanggung jawab. entahlah…
Sekembalinya beliau dari sana maka semester berganti, yang terjadia adalah setiap mata kuliah yang beliau pegang mewajibkan satu kitab yang *maaf* tidak ada hubungannya sama sekali dengan materi yang seharusnya mahasiswa dapatkan. Alhasil, mahasiswa jadi limbung dan kebingungan jika harus menaiki jenjang ilmu berikutnya karena tidak mendapatkan dasar ilmu yang cukup.
Setiap kuliah berlangsung maka *menurut saya* hanya sepersekian persen dari yang seharusnya, sisanya adalah agama dan kesalahan kami sebagai mahasiswa dan manusia. Benar, sekali lagi ini tidak salah dan tidak menyalahkan, hanya apakah ilmu yang seharusnya akami dapatkan hilang begitu saja. Hampir selalu begitu, sampai saat ini dan detik ini. seperti yang sedang saya saksikan saat ini. Ketika bekiau mengajar mahasiswanya di depan saya.
Saya juga tak tahu banyak tentang tanggung jawab, mungkin teman-teman tau?
Sekali lagi, saya tidak menyalahkan, hanya ingin mengajak merenungkan, itu saja. Tidak lebih.
jabat erat!

9 Tanggapan ke “Entahlah”

  1. warmorning Berkata:

    .. ambil hikmahnya aja , mas ! :)
    dan bilang ke dosen itu dong sekali-kali, ok ..
    (berani gak ? :D )

  2. Ly Berkata:

    waaahh…ilmu apa tuuuuuuuhh….???

  3. arvernester Berkata:

    Hu uh bener banget mas, kita bisa ambil hikmah dari pelajaran tersebut. Ya, mungkin akan mendapatkan pelajaran lain dari dari kejadian tersebut.

    Tapi kalo dipikir-pikir, aku jadi teringat dosenku d kmpus yang sama perilakunya serpti beliau. Aku jadi negative thinking, ini dosen pingin duitnya ajah. Astagfirullah,, jangan deh! :)

  4. Rindu Berkata:

    maksudnya dia gak ngajar mata kuliah lama lagi yah … ganti ilmu gitu?

  5. ahsani taqwiem Berkata:

    @warmorning: ambil hikmahnya, tapi bilang dulu ke orang tua hikmah, biar ga dicariin hikmahnya *ditimpuk ridwan*
    @Ly: Teori sastra
    @Arvernester: begitulah…
    @rindu: Ga, tetap ngajar, cuma ngajarnya ya ga ngajarin ilmu yang seharusnya di ajarkan, nah lho!

  6. hariesaja Berkata:

    aq tahu…tralalalala….tapi kau dpt ilmu yg laen khan. Ilmu yg mungkin susah dicari. Trililili…

  7. ahsani taqwiem Berkata:

    @harie: ssssst, rahasia publik bosss…

  8. Kungfuchem Berkata:

    assalamualaikum..

    salam kenal. saya mengundang anda untuk berbagi elmu di blog saya. http://kungfuchem.blogspot.com

    makasih.

  9. achiem Berkata:

    bbiasanya makin tinggi ilmu seseorang itu…makin tinggi pula ……………………………………………………………………………………………………
    kapan nih basalamatan rumah hanyar??????????

Tinggalkan Balasan