Menarik sekali apa yang saya dapati di kampus hari ini, ada UKM kampus bertitle Lembaga Penerbitan Mahasiswa menerbitkan sebuah tabloid yang sama sekali tidak bermutu. Bayangkan penggunaan font comic yang sangat tidak pas dengan atsmosfer kampus, lebih seperti majalah yang ditujukan untuk anak-anak TK. Kemudian cover yang begitu buruk dilihat dari sudut pandang apapun, dari pemilihan tema, editing, model, bahkan pewarnaan yang begitu tidak nyaman untuk dilihat.
Sayang sekali ketika sebuah organisasi tingkat kampus yang menangani masalah penerbitan tidak bisa menyuguhkan sebuah bacaan yang layak untuk dilempar ke khalayak. Saya ketahui belakangan bahwa mereka-mereka yang menjadi pengurus dan redaksi adalah orang yang bisa dibilang tidak berkompeten sama sekali pada bidang jurnalistik, walaupun saya juga tidak paham betul bidang jurnalistik namun sebagai orang awam saya masih bisa membedakan mana yang baik dan mana yang kurang bagus sebagai sebuah bacaan.
Isinya juga tidak terlalu menunjukkan kultur intelektual yang padat dan berkelas, semua yang ditulis hanyalah harapan dan impian tentang bagaimana kampus ke depan, tidak salah kalau saya sematkan predikat ABS (asal bapak seneng) , karena semua hanya menggambarkan yang bagus-bagus, padahal universitas tidak terlalu membutuhkan puja-puji. Universitas ini lebih membutuhkan saran dan kritik yang membangun. Tentu penggambaran yang muluk-muluk akan membuat si pemimpin universitas merasa jumawa dan melupakan bahwa masih banyak yang harus kita benahi untuk kemajuan bersama.
Itulah mungkin kultur bangsa kita, politik mercusuar dan politik pencitraan masih begitu akut. Lebih baik orang lain tahu yang bagus-bagus saja daripada memberitakan borok yang sebenarnya ketika kita lempar ke khalayak tentu akan disambut dengan kritikan yang pada akhirnya melahirkan sebuah solusi yang cerdas dan mencerdaskan.
Saya berkeyakinan dengan kemauan dan seleksi yang mumpuni ,kampus saya punya kok mahasiswa-mahasiswa yang punya kemampuan dalam hal jurnalistik, design grafis dan punya pemahaman yang benar tentang hakikat dari sebuah bacaan atau tulisan.
Saya yakin seburuk apapun bacaan pasti memberikan pencerahan sekecil apapun bagi pembacanya, semoga ke depan kampus dan majalah yang mewakili kampun akan benar-benar mewakili apresiasi dari semua masyarakat kampus yang beragam dan komplek.
Ini hanya sebuah keluh-kesah mahasiwa yang sangat ini melihat kampusnya punya media baca yang memang bagus, benar, dan layak diapresiasi.
tabik!
hanya selaksa salam, entah setelah mendengarnya kemudian anda merasa sudah kenal dengan saya atau sebaliknya
Namun itu lebih baik daripada tidak pernah coba saling mengenal...
jabat erat!

31 Mei, 2008 pukul 10:45 am
what, mean “Jumawa”. Pedas juga kritikanx, saranku Hidupkan Corong FKIP, supaya bisa menyaingi mereka. tp ak salut dg cindai, yang udah lama mati tp bertransformasi lg sekarang. walaupun isinya puji2, tp yang bisa kt ambil pelajarannx adalah mereka bs melakukan apa yg disebut fund rising, n itu penting bagi nafas sebuah lembaga jurnalistik. walaupun tidak pas kalo kita harus menjilat n mengenyahkan idealisme kita. Ok Bravo, teruslah menulis!!! by: Akhukum Fillah
31 Mei, 2008 pukul 4:56 pm
humm, jadi kangen sama koran kampus ipb.. yang berusaha independen nyari dana sana-sini supaya ga perlu ‘disuapin’ sama institusi.. karena kalo disuapin, mau ga mau kan harus ‘manut’ apa kata institusi.. sama-sama doakan aja ya, semoga media kampus semakin hari semakin bermutu dan mampu menyuarakan aspirasi mahasiswanya..
1 Juni, 2008 pukul 1:31 am
…kalo di ITS Alhamdulillah udah independen.
yang punya anak-anak BEM.
tapi sayangnya, publikasi dan pendistribusiannya kurang.
karena… gratisan
yah, semoga di Unlam bisa lebih bagus lagi koran kampusnya.
dik awym ikutan koran kampus?
1 Juni, 2008 pukul 3:30 pm
Kalau gak dipuji, gak dapat uang. gak ada uang, gak bisa terbit. kalau sudah terbit, dikritik. Kalau dikritik, bingung. kalau bingung, gak terbit. kalau gak terbit, jadi ingin terbit. kok aq jadi bingung? sudahlah, ngeblog saja, hahaha…
2 Juni, 2008 pukul 11:56 am
Dikritik itu bagian dari mendewasakan diri, cuma yang jadi masalah maukah yang dikritik u/ jadi dewasa ? publik adalah power yangs angat kuat buat memberi pelajaran kritikan, tapi kalau publik nya ternyata impoten dan kadalan ? Ini dilematis Bro, setidaknya aku di Kalimantan Selatan merasakan publik yang demikian… salam
4 Juni, 2008 pukul 12:07 pm
syukron udah mampir ke blog kami. jazakallah khairan katsir
5 Juni, 2008 pukul 2:56 pm
ahsani taqwiem?
bentuk yang sebaik2nya? insya Allah…
ummm…
saya jg ikut pers kampus…
emmm,,,
kritiknya uda dilayangkan langsung ke lembaganya, blum, akh?
mgkn mereka buth jg pandangan dari pembaca…
apa pun,
nda mesti ttg jurnalisme,
pasti ada pro kontra nya
tgs pers cm melaporkan,
cover both sides, tidak berat sebelah,,,
ehee, maap sotoy..
6 Juni, 2008 pukul 8:02 am
pers kampus…, saya termasuk yang “tereliminasi” dari pers kampus, karena cuman bisa bertahan selama 1.5 semester. mungkin azka jg ikutan koran kampus ipb dan saya tereliminasi sebelum azka masuk. afaik, memang ada dua divisi di koran kampus ipb, bagian redaksi dan perusahaan(marketing, sponsorship,riset dll..saya lupa)…berada di bawah KomInfo BEM, mungkin bersifat semi otonom….
6 Juni, 2008 pukul 9:18 pm
hm… satu pengalaman pahit waktu mengantar undangan pertemuan muslimah insan media ke Lembaga Penerbitan Mahasiswa kampus mu itu. Aku ngucapin salam sampe 2 kali, eh disahutin ‘LALUI AJA !!!” Astaghfirullah. Trus, aku teriakin “MO NGANTER UNDANGAN !!!”. Akhirnya tergopoh-gopohlah salah seorang kru dan menyambut undangan dari tanganku sambil ‘tunduk-tingadah’. “Inggih Bu, Inggih Bu”, jarnya. Aduhai…napa leh mbari supan haja. Padahal unda alumni kampus itu jua, walopun kampus Banjarbaru…