Suatu malam saya hanya tiduran dikamar, membiarkan televisi menyala tanpa mempedulikan stasiun apa yang saya saksikan (budaya yang buruk, membiarkan tv menyala tanpa ada niat untuk disaksikan/boros listrik) he. Akhirnya tanpa sengaja saya tertuju pada sebuah tayangan yang dulu begitu saya sukai, bagi mereka yang sudah hidup pada awal 90-an pasti sudah akrab dengan tingkah polahnya
Mr. Bean begitulah ia dipanggil, mendengar nama itu pasti ada sudah bisa memvisualisasikan tentang fisik manusia Iggris dengan rambut jadul abis, pakaian casual yang monoton, dan wajah lugu (lebih pas jika kita katakan dungu) yang jika dipandang akan memberikan kesan bahwa ia memang hadir untuk kita berikan empati dan setumpuk keprihatinan, lebay nih, ha.
Saya begitu menyukai program ini, anda juga mungkin. Salah satu skala yang saya bisa ukur adalah tayangan yang saya saksikan ini di buat yang pasti sudah lebih dari 10 tahun yang lalu, cukup lama untuk membuat tayangan ini usang sebetulnya. Namun sebaliknya, yang kita dapati bahwa sampai sekarang tayangan ini masih diputar, hal ini menandakan bahwa Mr. Bean mampu bertahan dari arus zaman yang menerpanya, entah bagaimana namun itulah kenyataannya.
Bagi anda yang mengaku bosan dengannya anda harus berpikir ulang lagi mungkin, tonton lagi dan bila anda tidak tertawa lagi menyaksikan kebodohan manusia abnormal satu ini barulah saya percaya bahwa memang bagi anda Mr. Bean sudah habis masanya dan perlu kita ganti dengan tayangan pengocok perut yang lain.
Seperti biasa ketika saya suka akan sesuatu maka saya akan membayangkan hal itu terjadi pada saya, dan sekarang saya tetap mencoba membayangkan bahwa kehidupan saya tidak jauh berbeda dengan kehidupan Mr. Bean yang dimainkan aktor kawakan Rowan Atkinson itu.
Bodoh, dungu, polos, gila, dan yang paling bisa kita tiru adalah cerdik. Inilah yang mungkin tidak semua tokoh lucu punyai. Si Bean ini sepertinya menjalani hidup sangat santai, ia menjadi kenyataan yagn sebenarnya begitu kita inginkan. Pernahkan kita melihat dia bekerja (kecuali pada film anyarnya pada tahun-tahun terakhir), ia sepertinya menjalani hidup seperti apa yang dia mau, tidak seperti sekarang yang terjadi pada manusia kebanyakan. Kita sepertinya bekerja demi sebuah tuntutan, kita mencoba melepaskan diri dari persoalan apakah kita menyukai atau memang berniat untuk sebuah pekerjaan tersebut (hiduplah seperti yang kamu mau, jangan hidup seperti yang orang mau ke kamu)
Kemudian Si Bean ini tidak manja, ia selalu mencoba memecahkan persoalan hidupnya dengan caranya. Meskipun terkadang segala yang dilakukannya tidak menyelesaikan persoalan malah menambah persoalan baru namun yang saya salut adalah kemampuan dia untuk berfikir kreatif dalam situasi apapun, tidak terkontaminasi dengan orang kebanyakan dan tetap membuat hidupnya bahagia, karena yang paling penting adalah kita nyaman dan enjoy menjalani segala sesuatunya.
Saya sempat berfikir bagaimana saya atau kita jadi seperi dia, ah akan seperti apa yah kita. Menjalani hidup dengan santai, penuh tawa, menghadapai segala persoalan dengan kemampuannya sendiri, penuh kecerdikan.
Acara ini menurut saya lebih baik di apresiasi dari pada acara-acara yang menjual kesuksesan secara instan, parahnya acara seperti ini menjamur dan menjual mimpi, tiap malam lagi tayangnya, hiks. Ya sutra lah… hidup Mr. Bean. Kebodohan yang kadang kita perlukan. Setuju?
Tabik!

hanya selaksa salam, entah setelah mendengarnya kemudian anda merasa sudah kenal dengan saya atau sebaliknya
Namun itu lebih baik daripada tidak pernah coba saling mengenal...
jabat erat!

29 Mei, 2008 pukul 9:31 pm
Kepintaran itu semuanya berawal dari kebodohan… betuk?
Sampe skg sy tetep suka tuh klo nonton si mr. bean..
30 Mei, 2008 pukul 12:23 am
Mr. Bean, memang lucu.
Tapi lama-lama jadi gak lucu.
Bikin aku bosen sih
Tapi emang salut deh, ceritanya begitu polos dan lugu.
Sangat menyegarkan…
Menurutku lebih gila dan konyol Johnny English, pemerannya si Rowan Atkinson juga
2 Juni, 2008 pukul 11:33 am
Wah suka Mr. Bean jg yach.. sama donk.. sayang yach.. mustinya dibikin terus filmnya kek doraemon ga ada abis” nya.
4 Juni, 2008 pukul 3:34 pm
sayang…joroknya itu loh…….
6 Juni, 2008 pukul 8:23 am
bahkan saya sampai hafal..jalan ceritanya….saking seringnya….
6 Juni, 2008 pukul 11:06 am
saya mendingan ga nonton tv sekalian…
hmmm
kalau yang the movie nya boleh lah! lebih manusiawi